Top Social

Image Slider

Healthy Family, Top Priority

Monday, November 28, 2016
Seperti yang saya kisahkan di artikel ini, saya dan keluarga sempat dibuat sangat resah dengan kondisi kesehatan Kakak. Terutama karena dugaan diagnosis TB Anak bisa dikatakan penyakit yang tidak bisa dianggap enteng dalam pengobatannya.

Alhamdulillah kami bisa mengupayakan mencari expert opinion, dengan demikian mendapatkan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang tepat pula.

Setiap peristiwa memang ada hikmahnya. Panik memang, mendengar Kakak sempat dicurigai mengalami TB Anak, tetapi karena dugaan tersebut Kakak jadi mendapat pemeriksaan menyeluruh. Sehingga selain kami mengetahui kemungkinan penyebab rendahnya BB Kakak, kami juga mengetahui kemungkinan penyebab Kakak sering batuk.

Kakak diduga mengalami alergi yang bisa disebabkan oleh debu, bulu, atau kapuk. Oleh dr. Roni dan dr. Nini, kami diminta sebisa mungkin menghindarkan alergen-alergen tersebut dari Kakak. Saya pikir juga, walaupun tidak mengalami alergi menghindari debu, bulu, dan kapuk juga baik untuk kesehatan. It is a healthy step for everyone. Terutama jika memiliki anak usia balita yang sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Oleh karena itu, saya dan keluarga di Jogja (sementara kami tinggal di Jogja karena hendak melahirkan) segera "bedah rumah" untuk membuat lingkungan rumah lebih sehat untuk Kakak. Langkah yang kami lakukan adalah:
1. Memindahkan Kakak ke kamar depan yang kami pertimbangkan memiliki sirkulasi udara yang lebih baik. Di kamar depan terdapat jendela dan dekat dengan pintu yang langsung terhubung ke halaman. Selain mendapat sinar matahari yang lebih banyak, jendela kamar juga bisa dibuka agar terjadi pertukaran udara dan tidak pengap.
2. Minimal mengganti sprei dan sarung bantal satu kali dalam satu minggu.
3. "Menggudangkan" kasur dan bantal kapuk.
4. Menyapu rumah dan membersihkan tirai setiap hari.
5. Membersihkan debu yang menempel di kipas angin.
6. Mencuci tirai dan kami rencanakan secara berkala sebulan sekali.

Selama kami tinggal di rumah orang tua di Jogja, membersihkan rumah relatif lebih ringan karena dibantu oleh ibu dan rewang (asisten rumah tangga/ART). Lingkungan fisik juga lebih "bersahabat" karena masih alami banyak tanaman dan pepohonan yang membantu "menghalau" debu dari jalanan masuk ke rumah.

Lain lagi dengan kondisi rumah kami di Tangerang. Selain tirai, di rumah Tangerang terdapat juga karpet dan boneka-boneka milik Kakak. Kami tentu harus memikirkan membebaskan debu dan kotoran dari barang-barang tersebut.
Lingkungan fisiknya juga lebih kering dan berdebu, baik di sekitar rumah maupun di jalan raya. Di perumahan juga belum banyak pepohonan karena masih perumahan baru. Pohon dan tanaman di depan rumah masih kecil karena belum lama kami tanam. Sehingga debu cepat sekali masuk ke rumah. Kondisi-kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam membersihkan rumah.

Saya pun mencoba menyusun plan kegiatan bersih-bersih rumah setelah kembali ke Tangerang. Demikian plan kegiatan yang saya susun:
1. Harian:
- membersihkan lantai, meja, rak, tirai, jendela, dan halaman
- menyiram pohon dan tanaman, jika sudah tumbuh subur membantu menghalau debu masuk rumah
2. Mingguan: mengganti sprei dan sarung bantal
3. Bulanan: mencucikan tirai, karpet, dan boneka ke laundry
4. Per tiga bulan: memanggil jasa service untuk membersihkan AC, membersihkan kipas angin
5. Insidental: ikut menanam tanaman baru di kebun fasilitas bersama agar lingkungan perumahan lebih rindang

Nah, karena saya di rumah Tangerang tidak memiliki ART, cukup banyak juga tugas yang harus dilakukan demi menjaga rumah bersih dan sehat. Apalagi kedua anak saya masih balita. Salah satu solusinya tentu berbagi tugas dengan suami.

Solusi lain yang juga menjadi prioritas adalah memiliki vacuum cleaner. Produk ini penting sekali dimiliki menurut saya. Karpet, boneka, dan tirai mungkin bisa dicuci sebulan sekali, tetapi tetap saja perlu dibesihkan setiap hari. Karena debu-debu tentu mudah sekali menempel ke barang-barang tersebut. Tidak seperti debu di lantai atau di meja, debu di karpet, boneka, dan tirai sering kali susah dilihat dan dibersihkan. Kondisi demikian tentu berpotensi menimbulkan resiko penyakit.

Saat mencari informasi tentang vacuum cleaner, saya menemukan artikel di The Urban Mama dan detik tentang kelebihan vacuum cleaner Electrolux. Terdapat juga tautan survey dari Electrolux Indonesia tentang vacuum cleaner yang sesuai kebutuhan berdasarkan rutinitas dan kondisi rumah. Survey tersebut dilakukan untuk menyemarakkan #Over100YearsElectroluxVacuum. Wow...100 tahun?!! Periode waktu yang sangat impresif ya... indikator bahwa produk vacuum cleaner Electrolux bisa bertahan seiring perkembangan jaman dengan mutu dan inovasinya.

Vacuum cleaner yang efisien tentu sangat penting. Rumah di perkotaan kebanyakan lebih minimalis sehinga membutuhkan produk vacuum cleaner yang ergonomis sehingga tidak memakan tempat. Fungsinya juga harus mumpuni agar tujuan tercapai, tapi tidak memakan waktu.

Vacuum cleaner Electrolux sangat ideal untuk dimiliki sesuai kondisi yang saya sebutkan. Selain mumpuni untuk membersihkan debu, vacuum cleaner Electrolux juga mengeluarkan produk yang ringan dan compact sehingga mudah untuk disimpan.



See...how elegant and compact the designs....(Gambar dari Instagram @electroluxindonesia)

Selain bisa membersihkan debu yang menempel di lantai, vacuum cleaner Electrolux ini juga bisa digunakan untuk membersihkan debu di karpet, tirai, kolong sofa atau tempat tidur, rak, dan sudut-sudut yang sulit terjangkau. Keunggulan vacuum cleaner Electrolux selain bisa menghisap debu bahkan debu yang tak kasat mata (sampai 0.3 mikro), juga bisa menghisap air dan menyemburkan udara.

Cara menjaga keawetan vacuum cleaner salah satunya adalah dengan membersihkan secara berkala. Cara membersihkannya bisa diganti atau dicuci sesuai tipe filternya. Cara mencuci filternya cukup dengan sikat yang halus dan aliran air sedang.

Wah, vacuum cleaner impian sekali ya. Semoga ada rejeki untuk memiliki vacuum cleaner dari Electrolux. Dengan harapan bisa membantu menjaga kesehatan anak dan keluarga dengan maksimal.

Thanks for the informations The Urban Mama dan Electrolux !

Anak dan Tubercolusis (Bagian II)

Friday, November 25, 2016
Cerita Anak dan Tuberculosis (Bagian II) merupakan lanjutan dari artikel ini.
Setelah diskusi panjang dengan suami (kala itu suami di Tangerang, saya dan anak-anak di Jogja), kami sepakat untuk memeriksakan Kakak ke DSA Sub Pulmo yang di Jogja. Kami tidak menampik adanya kemungkinan kebenaran diagnosis Dokter B. Karena riwayat batuk lebih dari sebulan dan pernah dicurigai dengan diagnosis yang sama sebelumnya.

Saat di Tangerang, Kakak juga sudah di tes Mantoux dan di rontgen thorax. Kami bawa Kakak periksa ke dr. Nastiti, DSA Sub Pulmo di Hermina Kota Tangerang. Beliau menyatakan bahwa Kakak sama sekali tidak ada indikasi ke arah TB Anak

Tetapi dengan mempertimbangkan bahwa pemeriksaan tersebut sudah hampir dua tahun yang lalu, kami ingin mencari konfirmasi lagi. Karena kasus TB cukup tinggi di Indonesia. Bukan tidak mungkin dalam rentang dua tahun tersebut Kakak terpapar bakteri tersebut.

Kami berniat memeriksakan Kakak ke dr. Roni Naning. Nama beliau sudah terkenal sebagai ahli dalam bidang pulmonologi anak. Tetapi pada minggu tersebut, beliau sedang di luar kota. Akhirnya kami periksakan Kakak ke dr. Nini di RSKIA Sadewa. Waktu itu sekalian saya periksa kandungan yang sudah mendekati due date.

Alhamdulillah dr. Nini adalah dokter yang sangat informatif dan teliti. Beliau mendengarkan perjalanan kesehatan Kakak dengan sabar dan menangkap kekhawatiran saya. Beliau lalu merujuk agar Kakak di tes darah, Mantoux, dan rontgen kembali. Saya dan suami (yang sedang di Jogja) membawa Kakak untuk di tes di Laboratorium Parahita sesuai rekomendasi dr. Nini.

Qadarulloh, setelah mencocokkan jadwal hasil tes keluar, dr. Nini, dan dr. Roni, ternyata bisa diakomodasi pada hari yang sama. Terutama karena hasil tes Mantoux hanya bisa dibaca 48-72 jam setelah disuntikkan.

Tes Mantoux dilakukan dengan suntikan ke lengan anak, kemudian setelah 48-72 jam dilihat apakah ada benjolan sebagai reaksi terhadap injeksi tubercullin tersebut. Daerah di sekitar suntikan di gambari lingkaran. Bekas suntikan tidak boleh ditutup dengan perban, terkena zat kimiawi ( sabun, minyak telon, antiseptik, dll), dan tidak boleh digaruk. Oleh karena itu Kakak dipakaikan kaos lengan panjang sampai selesai pemeriksaan agar tidak tergaruk. Setiap anak yang pernah mendapat imunisasi BCG akan menunjukkan benjolan. Yang membedakan antara benjolan "normal" dan indikasi TB Anak, adalah diameter benjolannya. Saya baca di artikel benjolan yang normal diameternya dibawah 5mm, 6-9 mm meragukan, dan 10 mm masuk dalam kategori TB.

Kakak saya periksakan ke dr. Nini (selaku pemberi rekomendasi) dan dr. Roni (selaku expert yang dari semula saya cari) pada hari yang sama. Alhamdulillah wa syukurillah, berdasar hasil lab dan pemeriksaan fisik, diagnosis dr. Nini dan dr. Roni sama yaitu negatif. Kakak tidak mengalami TB Anak. Hasil tes darah menunjukkan adanya infeksi akibat batuk berkepanjangan (angka leukositnya sedikit di atas normal) dan nilai Hb nya rendah. Normalnya Hb anak perempuan minimal di angka 11, sedangkan Kakak angka Hb nya 10,5.

Akhirnya Kakak diresepi Azytromicyn dan di treatmen Fe. Menurut penjelasan kedua dokter tersebut, BB Kakak kecil karena Fe (zat besi) nya rendah. Kekurangan Fe ini selain cukup berbahaya, menghambat perkembangan anak, juga menyebabkan nafsu makan rendah.

Untuk batuk yang berkepanjangan, beliau berdua menduga ada alergi tertentu. Meski belum definitif, tetapi Kakak diminta dihindarkan dari kemungkian alergen seperti debu, bulu (karpet,boneka), kapuk, dan es saat sakit. Kalau saya flashback, memang Kakak sering bersin jika dekat kasur atau bantal kapuk yang masih ada di rumah Simbah Jogja. Di rumah Tangerang, kondisi lingkungannya juga kering dan berdebu. Perhatian khusus mulai sekarang perlu diberikan terhadap kebersihan lingkungan rumah dari debu dan kemungkinan alergen lainnya.

Selama galau dalam mencari diagnosis dan pengobatan untuk Kakak, saya berusaha mencari info lewat membaca artikel dan sharing dengan teman-teman nakes atau yang memiliki pengalaman serupa. Dari website TB Facts saya temukan beberapa fakta mengenai TB Anak:
> TB adalah penyakit yang bisa dihindari dan diobati. Prevensi TB dapat dilakukan dengan imunisasi BCG.
> gejala yang perlu diwaspadai batuk yang tak kunjung sembuh lebih dari tiga minggu, sering demam dalam kurun waktu 2 minggu terutama pada malam hari.
> pembengkakan kelenjar getah bening bisa menjadi salah satu simtom. Tetapi pembengkakan kelenjar getah bening wajar terjadi setiap kali anak dalam kondisi sakit, karena merupakan mekanisme pertahanan tubuh.
> ditularkan terutama lewat orang dewasa, terutama yang tinggal serumah. Sesama anak kecil kemungkinan menularkannya kecil. Karena anak kecil belum bisa mengeluarkan dahak. Tetapi tetap saja hindari memakai alat makan dan minum yang sama, demi kesehatan anak dan teman-temannya.
> terdapat TB aktif dan TB pasif. Cara penentuannya lewat diagnosis dokter. Jika anak didiagnosis dengan TB Anak, maka tanyakan apakah termasuk yang aktif atau pasif. TB Pasif biasanya mendapat pengobatan profilaksis (jenis obat ada perbedaan dengan TB Aktif).

Diagnosis TB Anak,tidak hanya semata-mata didasarkan pada hasil pemeriksaan fisik, lab, dan rontgen. Ada juga alloanamesa dan autoanamnesa (wawancara). Keseluruhan proses pengumpulan data pasien digunakam untuk melakukan skoring sebagai dasar diagnosis TB Anak. Penjelasan tentang skoring diagnosis TB Anak dapat diliat di sini.

Semoga anak-anak kita Diberikan kesehatan dan perlindungan. Dan sebagai orang tua kita Dimampukan untuk menjaga kesehatan anak dan keluarga. Selalu usahakan mencari second opinion jika merasa kurang yakin dengan diagnosis yang diberikan. Karena diagnosis sangat menentukan pengobatan yang akan diberikan kepada pasien. 

Ciri Obat Masih Layak Konsumsi

Saya dilanda kepanikan luar biasa saat salah satu obat antibiotik yang diresepkan dokter untuk Kakak kemasannya rusak. Saya panik karena membayangkan jika Kakak tidak sembuh karena obat yang terlanjur sudah rusak, saya kasihan pengobatan apa lagi yang harus dilaluinya.

Untuk anak kecil minum obat tentu bukan suatu yang menyenangkan (untuk orang dewasa juga sama kan ya). Maka saya tekadkan agar Kakak harus sembuh dengan obat ini.

Sambil konsultasi ke teman yang berprofesi sebagai apoteker, saya keliling faskes di kecamatan setempat. Saya pikir, jika obat tersebut terlanjur rusak karena terpapar udara luar, maka plan B nya adalah menebus obat yang baru. Kakak diresepi Aztryn Azytromicin berupa dry syrup yang cukup susah di temukan. Hasil saya keliling faskes di kecamatan, hasilnya nihil. Bahkan setelah telepon ke beberapa apotek terdekat di Pleret dan Wonosari pun hasilnya sama, tidak ada obat dengan merk atau komposisi yang sama.

Setelah berkonsultasi serius dengan teman saya yang apoteker, maka saya pindahkan obat tersebur ke botol kaca yang dulu dipakai sebagai tempat ASIP. Tentunya setelah botol saya cuci bersih dan sterilkan. Karena jika di kemasan yang sebelumnya dan ditutup dengan plastik dan karer, teman saya mengkhawatirkan justru kemungkinan terpapar bakteri lebih tinggi.

Saya ikuti petunjuk teman saya, untuk selalu memantau kelayakan obat dari tampilan fisik dan rasanya. Jika sudah tidak layak maka perlu menebus obat lagi.
Dry syrup ini bentuk awalnya bubuk, kemudian diberi air matang hangat sesuai takaran yang diinstruksikan.

Ciri-ciri obat dry syrup yang masih layak minum berdasarkan informasi dari teman  saya adalah:
1. Warna tidak berubah.
2. Bau tidak berubah.
3. Rasa tidak berubah.
4. Konsistensi cairan tidak berubah. Artinya bubuk yang sudah dilarutkan tidak mengendap lagi. Jika pun ada yang mengendap maka jumlahnya sedikit dan mudah terlarut lagi jika digoyangkan.

Alhamdulillah jenis obat yang diberikan untuk Kakak cukup mudah dikenali jika ada perubahan. Dari warna, bau, dan rasanya masih sama. Dan alhamdulillah Kakak juga sembuh.

Saya jadi ingat dengan Amoxicilin yang diresepkan oleh dokter yang berbeda sebelum Kakak diresepkan Azytromicyn. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini. Amoxicilin yang diberikan juga bentuknya berupa dry syrup. Tapi.....tidak seperti Azytromicin yang mudah larut, Amoxcilin tersebut meski sudah dilarutkan menjadi mengendap lagi. Endapannya pun cukup banyak. Bahkan ketika saya goyang atau coba aduk, endapan bubuknya susah sekali larut. Saya jadi bertanya...apakah Amoxicilin yang waktu itu sudab tidak layak minum? Kesalahan mungkin di saya. Saya melarutkannya dengan air Aq*a dan tidak dalam keadaan hangat. Mungkin itulah yang membuat obat tidak sempurna larut dan justru merusak obat.

Well... what an experience. Tapi saya mengambil banyak pelajaran dari kejadian tersebut.

Satu lagi catatan penting. Jika menemukan obat yang akan dikonsumsi rusak dan harus menebus obat baru, maka tebuslah obat dengan merk yang sama. Jika tidak ada merk yang sama, maka carilah yang komposisi dan bentuknya sama. Jika tablet ya cari yang tablet, jika dry syrup ya cari dry syrup. Tanyakan pada apoteker yang pasti lebih mengetahui tentang ingredients dan dosis obat.

Anak dan Tuberculosis (Bagian I)

Batuk dan pilek pada anak merupakan masalah kesehatan yang sering orang tua jumpai. Menurut penjelasan dokter spesialis anak (DSA) yang menangani Kakak, anak wajar terkena batuk atau pilek karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang tidak seperti orang dewasa.

Selama setahun, rata-rata anak terkena batuk atau pilek sebanyak 4 kali. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kekebalan tubuh anak dengan banyak istirahat, banyak makan, dan menambah asupan vitamin C. Dari baca-baca artikel, batuk atau pilek tidak diobati dengan antibiotik jika berlangsung tidak lebih dari sebulan.

Nah, di sini lah orang tua harus cermat dalam mengobservasi perkembangan batuk pilek (batpil) anak. Karena lamanya periode sakit anak menentukan pengobatan yang akan diterima. Bagi orang tua yang punya latar belakang sebagai tenaga kesehatan, mungkin lebih mudah dalam mencermati perjalanan suatu penyakit. Tapi bagi awam seperti saya, cukup sulit dan lebih sering mengandalkan insting.

Kisah menengangkan itu terjadi saat saya hamil Baby Al usia kandungan 36 minggu.
Sejak bulan Juli akhir hingga akhir Agustus, Kakak (3 tahun) batpil secara on off. Dua minggu sakit, dua minggu sembuh tetapi kemudian batpil lagi. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, yaitu ketidakcermatan saya sehingga Kakak pernah mengalami infeksi pernafasan, jika batpilnya terjadi selama seminggu maka langsung saya periksakan. Selama periode waktu itu, setiap saya periksakan diresepkan obat batuk dan vitamin.

Di akhir Agustus, Kakak kembali batuk pilek. Kami sudah di Jogja kala itu. Saya kemudian membawa Kakak periksa di salah satu fasilitas kesehatan (faskes) dekat rumah. Dokter yang memeriksa meresepkan antibiotik Amoxicilin, obat batuk, dan vitamin. Jika antibiotik suda habis dan masih belum sembuh maka diminta datang lagi. Diagnosis sementara mengarah ke radang amandel atau alergi. Saat itu Kakak tidak mau diminta membuka mulut sehingga tidak bisa diketahui kondisi amandelnya.

Satu minggu kemudian.... dengan hati trenyuh saya bawa Kakak ke faskes tersebut karena belum sembuh. Di artikel ini, saya menceritakan dugaan saya kenapa Amoxicilin tersebut tidak berefek seperti yang diharapkan.

Dokter praktik saat itu berbeda dengan dokter sebelumnya. Sebut saja dokter tersebur dengan Dokter B. Setelah melalui pemeriksaan fisik dan membaca rekam medis, Dokter B mendiagnosis Kakak dengan TB Anak (tuberculosis anak). Saat itu rasanya sesaat jantung saya berhenti. Ini kali kedua Kakak dicurigai mengalami TB Anak.

Dasar diagnosis tersebut sama dengan peristiwa yang dulu saat Kakak pernah infeksi pernafasan. Yaitu BB Kakak hanya 10,5 kg untuk anak 3 thn (semestinya minimal 12 kg) dan adanya pembengkakan kelenjar getah bening di leher dekat telinga.
Saya kemudian menceritakan ke Dokter B bahwa saat usia 15 bulan  (tahun 2015) Kakak pernah dicurigai pula mengalami TB anak. Sudah pernah di tes Mantoux dan rontgen thorax, hasilnya negatif. Pada tahun 2013 itu, saya memeriksakan Kakak ke DSA sub pulmo. Dokter B sangat yakin dengan diagnosis beliau dan menyarankan untuk memberi pengobatan TB Anak yang berlangsung selama 6 bulan.

Saya kemudian menolak resep obat TB Anak. Saya katakan bahwa saya mau mendiskusikan dengan keluarga terlebih dahulu. Karena berdasarkan pengalaman saya tahun 2013 tersebut, saya khawatir jika tanpa serangkaian tes yang sebenarnya maka diagnosis yang diberikan tidak tepat. Diagnosis yang tidak, berujung pada pengobatan yang tidak tepat. Jika kasusnya demikian, maka kesehatan anak lah yang dirugikan.

Setelah berkonsultasi dengan suami dan mencari informasi ke beberapa teman yang merupakan nakes (tenaga kesehatan) atau yang anaknya perna mengalami diagnosis serupa. Kami bersepakat untuk membawa Kakak periksa ke Jogja Kota untuk menemukan diagnosis yang tepat.
Perjuangan kami untuk memeriksakan Kakak saya lanjutkan di artikel Anak dan Tuberculosis (Bagian II).

[Baby Al Journey] Periksa Kandungan di RSKIA Sadewa Jogja

Friday, November 18, 2016
Seperti yang sudah saya ceritakan pada artikel sebelumnya, selama mengandung Baby Al saya periksa ke beberapa rumah sakit dan obsgyn. Pada saat usia kandungan 32 minggu, saya dan suami memutuskan agar saya dan Kakak segera ke Jogja.

Karena di Jogja ada keluarga yang bisa membantu di masa awal setelah persalinan. Kebayang kan bagaimana kondisi habis melahirkan dan juga harus merawat Kakak yang baru usia tiga tahun.

Di Jogja, saya kontrol kandungan di RSKIA Sadewa, dulu namanya RSKIA Semar. Letak RSKIA Sadewa berada di Daerah Babarsari dekat dengan Universitas Atmajaya dan Kantor BATAN. Obsgyn yang praktik di RSKIA Sadewa cukup terkenal akan expertisenya.

Karena sudah memasuki usia kandungan 32 minggu, jadwal kontrol jadi sekali dalam dua minggu. Jika sudah masuk 36 minggu jadwalnya berubah menjadi sekali seminggu.

Nah, saat di Jogja yang mengantar periksa adalah Pak Uwo (Pak Tuwo = kakek, Bapak saya). Bapak masih aktif bekerja dan sudah lumayan sepuh, oleh karena itu saya menyesuaikan dengan jadwal dan kondisi Bapak. Kasihan juga kalau Bapak harus mengantar saya malam-malam. Apalagi jadwal periksa di Obsgyn tidak bisa diprediksi. Sehingga biasanya saya periksa di hari Sabtu pagi. Atau di hari aktif jika Bapak memiliki jadwal kosong atau memang ada acara ke Jogja kota.

Saya pun fleksibel, tidak harus dengan satu dokter. Sebenanrnya ada dr. Upik juga praktik di Sadewa. Tapi jadwalnya selalu malam. Saya yang tidak tega dengan Bapak jika harus pergi dan menunggu antrian malam-malam. Obsgyn mana yang praktik pada saat saya datang dan antrian tidak banyak, saya daftar jadi pasien beliau. Hehe. Alhamdulillah semua dokter yang pernah memeriksa saya baik, ramah, dan saya merasa ditangani oleh dokter yang kompeten.

Berikut pengalaman saya periksa ke beberapa dokter di Sadewa:
1. dr. Ayu Wityasti. Beliau adalah dokter pertama yang saya temui saat pertama periksa di Sadewa. Dan sebenarnya saya berniat melalui persalinan dengan dr. Ayu. Tapi takdir berkata lain, hehe (cerita ada di artikel berikutnya). Beliau adalah dokter yang ramah,cantik, dan gayanya kekinian. Pokoknya gayanya hits lah. Pernah suatu saat saya periksa rambutnya di hairlight warna abu-abu. Dokter Ayu orangnya optimis, menenangkan, dan selalu bisa menanamkan optimisme atas kekhawatiran saya. Seperti saat saya pernah didiagnosis janinnya terlalu ke bawah oleh dokter lain, beliau menjawab bahwa kondisi tersebut normal karena janin memang berkembang dari area rahim bagian bawah. Lalu saat mendekati due date, BBJ Baby Al masih 2,460 kg. Saya sudah khawatir bukan kepalang. Karena Kakak dulu terakhir di USG BBJ 2,7 kg lahirnya saja berat badannya minim 2,55 kg. Dokter Ayu menyemangati bahwa masih ada dua minggu sebelum HPL jadi BBJ masih bisa dikejar. "Ibu kan badannya kecil, justru jangan besar-besar sampai 3 kg. Yang penting sehat dan cukup BBJ nya". Demikian penjelasan dr. Ayu yang menenangkan saya.

2. dr. Hasto. Beliau adalah salah satu dokter yang famous di Jogja. Hehe. Selain karena beliau adalah ahli dalam program kehamilan, dr. Hasto saat ini juga menjabat sebagai Bupati Kabupaten Kulon Progo. Beliau orangnya ramah sekali. Menjelaskan dengan detail hasil USG, bahkan tanpa ditanya. Satu kata untuk menjelaskan respon beliau sebagai seorang dokter, menyenangkan dalam men-treat pasien. Waktu membayar di kasir saya terkaget-kaget saat membaca struk pembayaran. Charge jasa dokter beliau "hanya" 35.000 sahajaaaa...

3. dr. Arief Kurnia. Beliau orangnya ramah dan suka bercanda. Selama periksa diselingi dengan tertawa-tawa karena joke yang beliau lontarkan. By the way, prediksi dr. Arif terkait BBJ dan waktu kelahiran paling tepat diantara prediksi-prediksi dokter lain. Mungkin lebih tepatnya beliau satu-satunya yang menyampaikan prediksinya dengan lengkap saat saya tanya. Hehe

Selain dengan ketiga dokter obsgyn di atas, di Sadewa saya juga pernah ditangani oleh dr. Upik dan dan dr. Ariesta. Pengalaman dengan beliau berdua saya tuliskan di sini.

Kelebihan RSKIA Sadewa ini kalau saya bilang adalah fasilitas yang cukup baik dan dokter-dokter yang mumpuni, tetapi dengan biaya yang terjangkau. Total biaya per kedatangan untuk jadwal per satu minggu rata-rata 110ribu-125ribu. Sudah termasuk hasa dokter, vitamin, print usg. Sedangkan per kedatangan untuk jadwal sekali sebulan, rata-rata total 150rb - 200rb. Tentunya tergantung kondisi ibu, janin, dan vitamin (dan atau obat) yang diresepkan.

Rumah sakitnya juga bersih. Kantinnya cukup lengkap, tapi tidak menyediakan menu makan berat. Menu makan berat berupa nasi bungkus yang jumlahnya terbatas dan cepat habis. Kakak senang sekali dengan yoghurt, buah, dan agar-agar yang dijual di sana. Tiap periksa pasti request dibelikan tiga cemilan tersebut.

Jika ingin periksa ke Sadewa, sebaiknya telepon terlebih dahulu agar bisa masuk kuota. Biasanya per dokter memiliki kuota pasien yang berbeda. Setelah terdaftar masuk kuota, datanglah minimal 1 jam sebelum jam praktik dimulai. Karena nomor antrian masuk berdaftarkan antrian ditimbang dan ditensi. Proses penimbangan dan pengukuran tensi biasanya dimulai 1 jam sebelum pemeriksaan dokter dimulai. Jadi, walaupun sudah masuk kuota, datang berjam-jam sebelumnya, dapat antrian di pendaftaran, tapi kalau ditinggal pergi dan tidak telat ditimbangnya, ya dapat antrian akhir.

Kekurangannya mungkin lebih ke hal eksternal ya. Karena biaya terjangkau, jadi pasien di RSKIA Sadewa ini banyak sekali. Bahkan ketika saya melahirkan di sana, saya masih mendengar nomor antrian pasien masih dipanggil pada jam 1 malem. Hehe... jadi harap bersabar dan datang sedini mungkin agar dapat antrian depan.

Mamas dapat melihat daftar praktik dokter secara lengkap di website resmi RSKIA Sadewa. Nomor telepon dan alamat lengkap bisa ditemukan di sana pula. Pendaftaran dapat dilakukan seminggu sebelumnya lewat telepon atau langsung ke bagian pendaftaran.

[Baby Al Journey] Periksa Kandungan di RS Sari Asih Sangiang Tangerang

Berbeda dengan Kakak, yang ketika masih dikandung periksa hanya di satu rumah sakit dan konsisten dengan satu dokter, Baby Al diperiksakan di beberapa rumah sakit berbeda dan dengan beberapa dokter yang berbeda pula. Hal ini dikarenakan kami pindah rumah saat usia kandungan saya empat bulan dan memutuskan untuk melahirkan di Jogja.

Salah satu rumah sakit yang pernah kami kunjungi adalah RS Sari Asih Sangiang. RS Sari Asih Sangiang adalah rumah sakit yang relatif dekat setelah kami pindah dari Cipondoh ke Sepatan.

RS Sari Asih Sangiang adalah rumah sakit Islam yang berada di Tangerang Kota. Di Tangerang sendiri, RS Sari Asih juga memiliki cabang di Karawaci. Sebenarnya jarak dari rumah Sepatan ke RS Sari Asih Karawaci juga tidak jauh, tapi saya pilih yang simple saja. Pilih yang lebih dekat. Hehe...

Setiap kali kunjungan, di bagian pendaftaran pasien membayar 200ribu untuk administrasi dan jasa dokter. Setelah periksa kita akan membayar lagi untuk menebus resep. Per kunjungan biasanya total biaya periksa dan vitamin sekitar 400an ribu exclude print USG. Standard rumah sakit di Jabodetabek lah ya.

Di RS Sari Asih Sangiang, saya periksa dengan dr. Widya. Beliau dokter yang ramah dan murah senyum. Menjelaskan dengan detail organ tubuh janin ketika proses USG. Saya diminta untuk fokus melihat layar monitor selama proses USG. Overall cukup menyenangkan selama kontrol kandungan dengan dr. Widya.

Masalah klasik ketika periksa kandungan adalah antrian panjang dan lama. Di setiap rumah sakit yang saya pernah periksa, saya mengalami hal tersebut. Mungkin karena dokter spesialis tidak hanya memiliki tanggung jawab memeriksa pasien di poli. Tetapi juga sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk tindakan operasi, persalinan, dan periksa pasien di bangsal. Memang pasien lah yang harus sabar. Pasien lain pun tentu ingin periksa secara menyeluruh dan sehat. Jadi kalau ingin mendapat antrian awal memang harus datang lebih awal.

Notable to mention, untuk obsgyn di RS Sari Asih, banyak teman yang merekomendasikan dr. Mimi. Beliau praktik di RS Sari Asih Karawaci. Menurut cerita teman-teman saya, beliau pro nomal dan ASI.

Demikian pengalaman saya periksa kandungan di RS Sari Asih Sangiang. Bisa menjadi alternatif tempat periksa bagi yang tinggal di sekitar Tangerang Kota.

[Review] Haakaa Silicone Breast Pump, I Love It!

Pada saat kehamilan dan kelahiran anak pertama, aktivitas saya sebagai mahasiswa membuat breastfeeding journey Kakak tidak lepas dari kegiatan pumping demi menjaga “tabungan”ASIP. Sampai usia Kakak 11 bulan, setiap hari saya pumping, cuci steril perlengkapan “perang”ASI, dan menata pasokan ASIP di freezer.

Setelah lulus, saya menjadi Stay At Home Mother (SAHM) hingga kelahiran Baby Al. Saya berpikir tidak perlu memiliki tabungan ASIP seperti saat anak pertama karena saya lebih banyak di rumah. Kalaupun pergi hanya sesekali untuk mengurusi rintisan bisnis yang tidak terlalu banyak menyita waktu. Tabungan ASIP memang masih perlu, tapi tidak sebanyak pada saat masih menjadi mahasiswa.

Tapi oh tapi....

Ketika saya pumping dengan pompa asi yang sudah saya miliki yaitu Unimom Mezzo, ternyata performansinya sudah menurun. Tidak bisa mengosongkan PD seperti dulu. Prediksi saya sih karena diafragmanya sudah agak terbuka, tidak serapat dulu. Saya juga baru nyadar karena baru mencobanya dua minggu setelah Baby Al lahir. My bad...

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli breastpump baru. Selain karena merasa PD masih sering penuh, saya juga ingin meningkatkan produksi ASI dari PD sebelah kanan. They don’t produce the same amount of milk. Saya pun googling untuk menentukan breastpump terbaik sesuai dengan goal yang ingin dicapai. Dan....saya pun sukses galau....ada beberapa breastpump yang saya taksir, tapi masih menimbang dari segi harga dan fitur-fiturnya. Apakah cocok dengan saya atau tidak. Takutnya sudah dibeli mahal-mahal, jatuhnya nggak cocok kan jadi ngehe...

Di tengah kegalauan saya, Mamak Ri bertanya “Sudah tahu Haakaa belum? Googling gih”. Saya pun sukses dibuat penasaran sama Mamak Ri “Hah apaan itu?”. Kata Mamak Ri itu adalah breastpump yang sedang hits di birthclub-nya. Dikirimi foto dan testimoni dari teman Mamak Ri. Wah... semakin super duper penasaran hingga akhirnya memutuskan membelinya!!!

Haakaa BP ini keluaran dari Haakaa New Zealand. Haakaa merupakan brand milik keluarga yang berkomitmen menciptakan produk bayi yang alami, aman, non-toxic, dan ramah lingkungan. Mamas bisa melihat produk lain di website resminya di sini. Lucu-lucu dan menggemaskan ya produk-produknya, tapi yang terpenting adalah aman untuk anak.

Thanks to @shafarentalpump (Instagram) tempat saya melakukan pembelian, Haakaa cepat sekali datang dari Jakarta ke Jogja. Terlebih ke kampung saya yang termasuk remote area. Beginilah penampakan dari Haakaa tersebut:

Gambar dari Instagram @haakaaindonesia

Lucu sekali kan bentuknya? As simple as that. Tidak seperti breastpump lain yang banyak printilan, Haakaa BP ini hanya terdiri satu part. Sebenarnya ada juga lid berwarna kuning yang berfungsi sebagai tutup corong. Tapi saya tidak membelinya karena berpikir mungkin bisa menggunakan lid tutup corong Unimom yang sudah saya punyai. Ternyata lid milik Unimom bisa juga menjadi tutup sementara untuk Haakaa BP, ya tidak bisa menutup rapat sih tapi lumayan membantu mengcover corong.

Lid Tutup Corong
Gambar diambil dari www.haakaa.co.nz

Haakaa BP ini terbuat dari bahan food grade dan BPA Free jadi terjamin keamaannya untuk anak.Bisa dicuci dan disterilkan. Mencucinya pun mudah, tidak banyak printilan karena hanya satu part dan lemak-lemak ASI mudah dibersihkan tidak menempel.

Lalu bagaimana performanya?

Voila ....saya langsung jatuh cinta pada Haakaa BP ini. Begitu ditempel ke PD dan dipencet, it shows its magic! ASI mengucur dengan suksesnya. Mamas bisa melihat di Youtube untuk tutorial penggunaannya. Believe me... it is so simple.


Fleksibel untuk dibentuk
Gambar dari Instagram @babynbundleshop
Saya sungguh tidak menyangka hisapannya cukup kuat, bahkan melebihi pompa manual yang saya punya. Performanya hampir sama saat saya gunakan sebagai tandem menyusui dan dipakai sendiri tanpa bersamaan menyusui atau memompa. Bedanya ketika dipakai sebagai tandem, aliran ASI-nya lebih deras. Dan tentunta no wasted leaked milk anymore kan ya. Mamas yang punya newborn tentu sering mengalami PD bengkak dan ASI merembes ke mana-mana.

Menyenangkannya lagi, Haakaa BP ini bisa digunakan sambil rebahan miring sambil menyusui dan hands-free bisa sambil mengangkat dan meletakkan baby. Saya pernah mencobanya, bisa sih tapi tetap aja harus selalu waspada. Kalau pas tekanannya berkurang kemudian jatuh dan ASI tumpah bisa termehek-mehek deh.

Haakaa BP ini juga bisa ditempel sesuai angle yang kita inginkan agar bisa pas di bagian yang masih bengkak.
Apakah bisa mengosongkan PD? Bisa, tapi takes time. Jadi harus bersabar dan rileks. Kalau hanya punya waktu yang sedikit, maka bisa dikosongkan dengan dipompa, diperah dengan marmet, atau disusukan ke anak. Jadi kalau working mom masih tetap memerlukan BP lain kecuali sudah lihai memerah dengan metode marmet.
Bagaimana jika ASI susah keluar karena tidak dipakai sambil tandem? Kita bisa memijat-mijat PD terlebih dahulu agar merangsang LDR (Let Down Reflex). Atau bagi yang sudah lihai melakukan teknik marmet, maka dapat diperah dengan teknik matmet terlebih dahulu.

Bentuk Haakaa BP yang kecil, tidak vanyak printilan, dan tidak mengeluarkan suara (tidak berisik), membuat Haakaa BP ini cocok untuk dibawa traveling.
Kelemahan dari Haakaa BP ini adalah petunjuk volumenya kurang presisi. Misalnya saja ketika Haakaa BP menunjukkan di angka 2 Oz ketika saya tuang ke botol biasa ternyata 50 ml. Atau 4 Oz ketika dituang ke botol ternyata 100 ml. Ketika menuangkan ASIP juga harus hati-hati. Pipihkan corong sesuai lubang botol penyimpanan. Paling enak memang menuangkan ke botol wideneck. Tidak perlu dipipihkan, bisa langsung tuang.

By the way... Haakaa merilis varian baru dari Haakaa BP. Dengan kapasital 5 Oz dan ada standing silikon agar tidak mudah jatuh. Eh...jadi pengen deh versi barunya...*kekepdompet

Gambar dari Instagram @haakaa_malaysia
Verdict: 4.5 from 5 stars

[Baby Al Journey] Periksa Kandungan di PKU Muhammadiyah Cipondoh Tangerang

Thursday, November 17, 2016
Saat mulai mengandung pada kehamilan kedua, kami sudah pindah ke Tangerang Kota selama satu tahun. Kami tinggal di Cipondoh. Karena bukan penduduk asli dan baru saja pindah, kami termasuk clueless untuk urusan rumah sakit bersalin dan obsgyn di Tangerang. Kami hanya tahu beberapa rumah sakit besar seperti Hermina Tangerang, Hermina Daan Mogot, Mayapada, dan Awal Bros. Akan tetapi jarak rumah sakit tersebut cukup memakan waktu, belum lagi di arah lalu lintas yang padat.

Karena pada awal kehamilan kedua ini saya cukup banyak keluhan fisik seperti mual, migren, dan mudah lemas, saya ungkapkan pada suami untuk memilih tempat periksa yang dekat saja. Dari ngobrol-obrol dengan tetangga perumahan, akhirnya saya memilih untuk periksa di PKU Muhammadiyah Cipondoh. Letaknya yang sangat dekat dengan kontrakan, tidak sampai 15 menit, adalah faktor  penarik utama. Bagi saya lebih efisien dan nyaman rasanya dengan kondisi mual jika tidak melalui perjalanan yang padat. Terlebih lagi jika kandungan sehat dan tidak perlu tritmen khusus, maka pemeriksaan USG dan vitamin yang tepat sudah sangat cukup.

PKU Muhammadiyah Cipondoh adalah Rumah Sakit Bersalin di dekat Danau Cipondoh. Letaknya di samping Puskesmas Cipondoh. Rumah sakit ini dahulunya adalah klinik bersalin.

Di PKU Muhammadiyah Cipondoh, saya periksa dengan dr. Mira. Saya rutin periksa tiap bulan ke dr. Mira dari Maret - Juni, karena Juli kami pindah rumah. Karakter dr. Mira ini masih muda, ramah dan mendengar keluhan pasien. Sebaiknya kita mempersiapkan daftar pertanyaan sebelum periksa, karena dr. Mira cenderung memberikan tips dan penjelasan saat ditanya. Beliau juga tipe dokter yang meresepkan vitamin sesuai kondisi pasien. Berdasar kebutuhan, tidak berlebihan, dan tidak memberatkan pasien dengan harga yang mahal.

Saya juga pernah periksa dengan dr. Ardi. Waktu itu saya mencari Surat Keterangan Sehat agar bisa terbang ke Jogja mendekati masa persalinan. Beliau adalah dokter yang cukup senior jika ditilik dari usia. Sesuai karakter orang Medan, dr. Ardi adalah dokter yang tegas. Tapi jangan khawatir, dr. Ardi suka bercanda, detail, dan melayani pertanyaan pasien dengan baik. Kesan yang saya dapat adalah berada di tangan dokter yang kredibel jika ditangani dr. Ardi.

Tarif periksa di PKU Muhammadiyah Cipondoh cukup bersahabat. Rata-rata tiap kunjungan periksa kena charge 150 ribu sudah termasuk jasa dokter, print USG, dan vitamin. Bangunan dan fasilitas PKU Muhhamdiyah Cipondoh memang tidak semegah rumah sakit yang lebih ternama. Tapi bukan mewah atau hits nya kan ya yang kita cari ketika mencari fasilitas kesehatan. Akan tetapi kecocokan dengan dokter dan pelayanan yang memuaskan.

[Review] Unimom Mezzo Breast Pump

Saat hamil dan melahirkan Kakak, saya masih menjadi mahasiswa. Waktu itu saya sedang dalam proses menyelesaikan tugas akhir. Pengennya sih lulus sebelum Kakak lahir, tetapi akhirnya ketika Kakak lahir, saya pun masih berstatus mahasiswa.

Selama hamil saya sudah meniatkan untuk memberikan ASI eksklusif dan menyusui hingga usia Kakak dua tahun. Saya rajin mengikuti twit @ID_ayahasi dan @droei. Sehingga saya mendapat informasi bagaimana cara memberikan ASI meski ibu tidak sedang bersama bayi.

Kebayang kan bagaimana kegiatan mahasiswa? Tidak ada jadwal pasti, tapi bisa seharian di kampus. Bahkan bisa sampai malam. Oleh karena itu, saya mulai mempersiapkan tabungan ASIP untuk Kakak. Kesalahan saya waktu itu, mau nabung ASIP tapi belum tahu breastpump yang bagus dan cocok untuk saya.

Awalnya nitip beliin suami. Padahal suami saya tidak tahu menahu juga soal dunia breastpump . Dibelikan Bambi Elektrik BP. Duh...tapi ternyata saya nggak cocok memakai BP ini. Awalnya bisa sih. Pertama mencoba dapat 100ml, tapi entah kenapa lama kelamaan saya sulit memompa dengan Bambi.

Tidak ingin stres terlalu lama karena tabungan ASIP yang tidak kunjung bertambah, akhirnya saya memutuskan membeli BP baru yaitu Unimom Mezzo. BP manual keluaran Unimom. Menurut beberapa review yang saya baca di sini, Unimom Mezzo ini prinsip kerjanya mirip dengan the famous Avent Manul Comfort.
Saya membeli Unimom Mezzo ini lewat www.gerailaktasi.com , dilayani oleh Mbak Diam yang informatif dan enak banget ditanyai. Sekarang Geral Laktasi juga ada Instagramnya yaitu @gerailaktasi.

Spare part Unimom Mezzo tampak seperti pada gambar (foto diambil dari Asibayi). Ada corong, bantalan silikon messanger, diafragma, tuas, dan membram valve. Paketan pembelian termasuk valve cadangan, botol Unimom, tutup botol, lid tutup botol, nipple Unimom, standing bottle, lid tutup corong, dan bonus kantong ASIP. Bahan-bahannya BPA-free sehingga bisa disterilisasi, kecuali lid tutup corong dan tuas.

Setelah mencoba memakainya, wow....BP ini enak sekaliii.... tanpa terasa, ASI mengalir. Very easy breezy... rahasianya ternyata ada di silikon messanger-nya. Silikonnya memijit area areola sehingga menimbulkan LDR (Let Down Reflex). Pijitan silikonnya nyaman dan tidak menimbulkan rasa sakit (sangat halus, hampir tidak berasa bahkan). Hisapannya lembut tapi efektif. Bagi saya yang produksi ASI-nya biasa saja, dengan Unimom Mezzo rata-rata bisa mendapatkan 90-180ml dari dua PD. Tergantung dari kondisi saat pumping. Bagi saya itu sudah termasuk banyak.

Sedikit kelemahan dari Unimom Mezzo adalah silikon messangernya entah mengapa kurang bisa pas dengan corongnya. ASI sering mleber (menetes) keluar dari bantalannya. Bagi mama eping atau sangat sayang dengan tiap tetes ASI, biasanya merasa kurang nyaman jika ada ASI yang mleber terbuang. Tapi bagi saya yang tidak bekerja rutin seperti working mom, it is not a big deal jika ada yang mleber asal tidak tumpah saja hehe. Tapi tetap merasa eman (menyayangkan) sih jika melihat ASI terbuang hiks.

Ada juga yang mengatakan bahwa mengengkol tuas nya melelahkan. Well, bagi saya tergantung kondisi masing-masing ibu sih. Kalau saya tidak merasa capek, biasa saja. Tuasnya tidak terlalu keras, jadi saya nyaman-nyaman saja mengengkol tuasnya.Tapi untuk working mom mungkin perlu dipertimbangkan aspek ini, karena working mom waktu pumpingnya dibatasi. Mungkin perlu mencoba apakah termasuk yang cocok dan nyaman dengan Unimom Mezzo dengan kondisi tersebut. Ada juga kok teman saya yang working mom dapat sukses ASI eksklusif dan menyusui selama dua tahun hanya menggunakan Unimom Mezzo tanpa bantuan pompa lain.

Unimom Mezzo telah membantu mengantarkan Kakak sukses ASI eksklusif. Tabungan ASIP saya cukup sesuai kebutuhan Kakak. Sampai saya lulus dan bisa menyusui langsung, saya sangat mengandalkan Unimom Mezzo. Unimom Mezzo adalah salah perlengkapan utama yang harus saya bawa jika pergi dalam waktu yang lama tanoa membawa anak.

Verdict: 4 from 5 stars
> Harga bersahabat, performa bagus.
> Good value. Belum bisa mengaktegorikan sebagai Best karena belum mencoba pompa manual lainnya.

[ Baby Al Journey ] Periksa dan Melahirkan di RS Happy Land Jogja

Pertama kali periksa kehamilan sebenarnya bukan di Jogja. Waktu itu, saya yang masih Long Distance Marriage  (LDM) dengan suami, sedang di Jakarta untuk menikmati liburan. Karena sudah telat dari jadwal mesntruasi, kami putuskan untuk cek kehamilan di RS Awal Bross Bekasi. 

Alhamdulillah bahagia dan terharu rasanya saat dokter confirm bahwa saya sudah mengandung 6 bulan. Setelah yakin bahwa saya sudah hamil,kami mulai searching rumah sakit dan obsgyn di Jogja.
Pilihan kami jatuh ke RS Happy Land Jogja, karena banyak mendapat review bagus di forum ini. Ditambah lagi ada fasilitas pijat dan creambath gratis setelah lahiran. Wah tambah membuat saya makin mantap untuk periksa di Happy Land. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari kos saya yang di Jakal (Jalan Kaliurang). Happy Land bertempat di Jl Melati Wetan atau area Timoho.


Fasilitas secara fisik dan pelayanan termasuk baik. Di Happy Land juga ada senam hamil dan bisa waterbirth loh. Hanya tempat parkir saja yang kurang nyaman. Tempat parkirnya ada di basemen dan turunannya lumayan "serem" juga. Karena saya kadang ke Happy Land sendiri dengan naik motor, jadi agak khawatir juga dengan safety nya.

Saya periksa kandungan dengan dr.Upik (Suprihatiningsih). Waktu itu (tahun 2013) dr.Upik belum se-famous sekarang, tapi antrian pasiennya cukup panjang juga. Beliau dokter yang ramah, sering ngasih tips, dan informasi. Beliau bakal menanyakan terlebih dulu apakah kita masih ada pertanyaan atau tidak sebelum mengakhiri sesi periksa. Dan yang paling penting, beliau pro normal dan menyusui. Beliau juga mendukung IMD. Enaknya lagi, dr.Upik bisa dihubungi secara langsung (dulu masih via SMS). Jadi kalau ada kehawatiran, waktu itu saya pernah jatuh, bisa menghubungi beliau untuk konsultasi.

Biaya sekali periksa di sana sekitar 400 ribuan. Sudah termasuk biaya dokter, print USG, dan vitamin. Termasuk mahal ya, sudah seperti standard RS do Jabodetabek. Tapi menurut keterangan dr.Upik, Happy Land memang fasilitas dan perlengkapannya termasuk modern dan lengkap.

Waktu itu usia kandungan saya masuk 39 minggu. Tengah malam keluar flek yang membuat saya panik. Bapak dan Ibu juga ikut panik. Saya kemudian SMS dr.Upik. Beliau menyarankan untuk segera ke RS dan diberi tahu "jangan mau kalau disuruh pulang".

Paginya saya ke IGD dan sudah pembukaan 1. Tapi akhirnya saya memutuskan "pulang" ke kos dulu sambil menunggu pembukaan nambah. Sorenya saya kembali Happy Land dan memilih kamar Utama A. Kamarnya cukup nyaman. Satu kamar untuk 1 pasien, fasilitasnya ada sofa,televisi,kulkas,kamar mandi dalam, dan AC. Makanannya juga temasuk enak. Yang terlewatkan oleh saya waktu itu, tidak request minta kamar yang jendelanya bisa dibuka dan ada balkon kecilnya.

Suster-susternya masih muda dan ramah. Mereka sabar menunggu pembukaan sampai lengkap. Meskipun cukup lama pembukaan, mungkin karena kondisi ketuban dan bayi baik, tidak diberikan opsi induksi.

Ruang bersalinnya pun nyaman, satu ruangan untuk satu pasien. Dr. Upik yang ramah, saat persalinan berubah menjadi tegas. Tapi mungkin karena saya termasuk drama queen juga sih selama proses persalinan hehe. Beberapa suster mempertanyakan apakah saya bisa melahirkan dengan normal karena saya rermasuk pendek. Tapi dr. Upik meyakinkan bahwa saya bisa melahirkan normal, karena sudah memeriksa ukuran panggul dan hasil lab tidak menujukkan indikasi tertentu.

Alhamdulillah proses melahirkan bisa berjalan normal meski dengan jahitan. Proses IMD dilakukan selama satu jam lebih. Keluarga dan teman diperbolehkan satu per satu masuk ke ruang bersalin sambil menunggu IMD selesai.
Selesai proses melahirkan, saya di massage dan creambath. Tapi entah mengapa, mungkin karena baru saja melalui proses yang memforsir fisik dan mental, rasanya masih lemes dan pegal-pegal hehe.

Di Happy Land juga bisa meminta rooming-in (bayi satu kamar dengan ibu). Tapi waktu itu suami memutuskan agar dirawat di kamar bayi dulu saja biar saya istirahat.

Sebagai rumah sakit yang pro ASI, dr. Upik dan tim nakesnya memberi penjelasan kepada keluarga ketika ASI saya belum keluar, bahwa bayi memiliki cadangan makanan hingga hari ketiga. Jadi tidak perlu khawatir jika ASI belum keluar dan belum memerlukan asupan susu formula. Waktu itu memang ASI saya baru keluar tepat pada hari ketiga setelah melahirkan dan Ibu saya sudah panik hehe.

Overall pelayanan selama periksa dan melahirkan di Happy Land termasuk memuaskan. Terima kasih dr. Upik, tim bidan dan perawat, dan Happy Land 
*foto diambil dari www.granesia.com