Top Social

Anak dan Tubercolusis (Bagian II)

Friday, November 25, 2016
Cerita Anak dan Tuberculosis (Bagian II) merupakan lanjutan dari artikel ini.
Setelah diskusi panjang dengan suami (kala itu suami di Tangerang, saya dan anak-anak di Jogja), kami sepakat untuk memeriksakan Kakak ke DSA Sub Pulmo yang di Jogja. Kami tidak menampik adanya kemungkinan kebenaran diagnosis Dokter B. Karena riwayat batuk lebih dari sebulan dan pernah dicurigai dengan diagnosis yang sama sebelumnya.

Saat di Tangerang, Kakak juga sudah di tes Mantoux dan di rontgen thorax. Kami bawa Kakak periksa ke dr. Nastiti, DSA Sub Pulmo di Hermina Kota Tangerang. Beliau menyatakan bahwa Kakak sama sekali tidak ada indikasi ke arah TB Anak

Tetapi dengan mempertimbangkan bahwa pemeriksaan tersebut sudah hampir dua tahun yang lalu, kami ingin mencari konfirmasi lagi. Karena kasus TB cukup tinggi di Indonesia. Bukan tidak mungkin dalam rentang dua tahun tersebut Kakak terpapar bakteri tersebut.

Kami berniat memeriksakan Kakak ke dr. Roni Naning. Nama beliau sudah terkenal sebagai ahli dalam bidang pulmonologi anak. Tetapi pada minggu tersebut, beliau sedang di luar kota. Akhirnya kami periksakan Kakak ke dr. Nini di RSKIA Sadewa. Waktu itu sekalian saya periksa kandungan yang sudah mendekati due date.

Alhamdulillah dr. Nini adalah dokter yang sangat informatif dan teliti. Beliau mendengarkan perjalanan kesehatan Kakak dengan sabar dan menangkap kekhawatiran saya. Beliau lalu merujuk agar Kakak di tes darah, Mantoux, dan rontgen kembali. Saya dan suami (yang sedang di Jogja) membawa Kakak untuk di tes di Laboratorium Parahita sesuai rekomendasi dr. Nini.

Qadarulloh, setelah mencocokkan jadwal hasil tes keluar, dr. Nini, dan dr. Roni, ternyata bisa diakomodasi pada hari yang sama. Terutama karena hasil tes Mantoux hanya bisa dibaca 48-72 jam setelah disuntikkan.

Tes Mantoux dilakukan dengan suntikan ke lengan anak, kemudian setelah 48-72 jam dilihat apakah ada benjolan sebagai reaksi terhadap injeksi tubercullin tersebut. Daerah di sekitar suntikan di gambari lingkaran. Bekas suntikan tidak boleh ditutup dengan perban, terkena zat kimiawi ( sabun, minyak telon, antiseptik, dll), dan tidak boleh digaruk. Oleh karena itu Kakak dipakaikan kaos lengan panjang sampai selesai pemeriksaan agar tidak tergaruk. Setiap anak yang pernah mendapat imunisasi BCG akan menunjukkan benjolan. Yang membedakan antara benjolan "normal" dan indikasi TB Anak, adalah diameter benjolannya. Saya baca di artikel benjolan yang normal diameternya dibawah 5mm, 6-9 mm meragukan, dan 10 mm masuk dalam kategori TB.

Kakak saya periksakan ke dr. Nini (selaku pemberi rekomendasi) dan dr. Roni (selaku expert yang dari semula saya cari) pada hari yang sama. Alhamdulillah wa syukurillah, berdasar hasil lab dan pemeriksaan fisik, diagnosis dr. Nini dan dr. Roni sama yaitu negatif. Kakak tidak mengalami TB Anak. Hasil tes darah menunjukkan adanya infeksi akibat batuk berkepanjangan (angka leukositnya sedikit di atas normal) dan nilai Hb nya rendah. Normalnya Hb anak perempuan minimal di angka 11, sedangkan Kakak angka Hb nya 10,5.

Akhirnya Kakak diresepi Azytromicyn dan di treatmen Fe. Menurut penjelasan kedua dokter tersebut, BB Kakak kecil karena Fe (zat besi) nya rendah. Kekurangan Fe ini selain cukup berbahaya, menghambat perkembangan anak, juga menyebabkan nafsu makan rendah.

Untuk batuk yang berkepanjangan, beliau berdua menduga ada alergi tertentu. Meski belum definitif, tetapi Kakak diminta dihindarkan dari kemungkian alergen seperti debu, bulu (karpet,boneka), kapuk, dan es saat sakit. Kalau saya flashback, memang Kakak sering bersin jika dekat kasur atau bantal kapuk yang masih ada di rumah Simbah Jogja. Di rumah Tangerang, kondisi lingkungannya juga kering dan berdebu. Perhatian khusus mulai sekarang perlu diberikan terhadap kebersihan lingkungan rumah dari debu dan kemungkinan alergen lainnya.

Selama galau dalam mencari diagnosis dan pengobatan untuk Kakak, saya berusaha mencari info lewat membaca artikel dan sharing dengan teman-teman nakes atau yang memiliki pengalaman serupa. Dari website TB Facts saya temukan beberapa fakta mengenai TB Anak:
> TB adalah penyakit yang bisa dihindari dan diobati. Prevensi TB dapat dilakukan dengan imunisasi BCG.
> gejala yang perlu diwaspadai batuk yang tak kunjung sembuh lebih dari tiga minggu, sering demam dalam kurun waktu 2 minggu terutama pada malam hari.
> pembengkakan kelenjar getah bening bisa menjadi salah satu simtom. Tetapi pembengkakan kelenjar getah bening wajar terjadi setiap kali anak dalam kondisi sakit, karena merupakan mekanisme pertahanan tubuh.
> ditularkan terutama lewat orang dewasa, terutama yang tinggal serumah. Sesama anak kecil kemungkinan menularkannya kecil. Karena anak kecil belum bisa mengeluarkan dahak. Tetapi tetap saja hindari memakai alat makan dan minum yang sama, demi kesehatan anak dan teman-temannya.
> terdapat TB aktif dan TB pasif. Cara penentuannya lewat diagnosis dokter. Jika anak didiagnosis dengan TB Anak, maka tanyakan apakah termasuk yang aktif atau pasif. TB Pasif biasanya mendapat pengobatan profilaksis (jenis obat ada perbedaan dengan TB Aktif).

Diagnosis TB Anak,tidak hanya semata-mata didasarkan pada hasil pemeriksaan fisik, lab, dan rontgen. Ada juga alloanamesa dan autoanamnesa (wawancara). Keseluruhan proses pengumpulan data pasien digunakam untuk melakukan skoring sebagai dasar diagnosis TB Anak. Penjelasan tentang skoring diagnosis TB Anak dapat diliat di sini.

Semoga anak-anak kita Diberikan kesehatan dan perlindungan. Dan sebagai orang tua kita Dimampukan untuk menjaga kesehatan anak dan keluarga. Selalu usahakan mencari second opinion jika merasa kurang yakin dengan diagnosis yang diberikan. Karena diagnosis sangat menentukan pengobatan yang akan diberikan kepada pasien. 
Post Comment
Post a Comment