Top Social

Anak dan Tuberculosis (Bagian I)

Friday, November 25, 2016
Batuk dan pilek pada anak merupakan masalah kesehatan yang sering orang tua jumpai. Menurut penjelasan dokter spesialis anak (DSA) yang menangani Kakak, anak wajar terkena batuk atau pilek karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang tidak seperti orang dewasa.

Selama setahun, rata-rata anak terkena batuk atau pilek sebanyak 4 kali. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kekebalan tubuh anak dengan banyak istirahat, banyak makan, dan menambah asupan vitamin C. Dari baca-baca artikel, batuk atau pilek tidak diobati dengan antibiotik jika berlangsung tidak lebih dari sebulan.

Nah, di sini lah orang tua harus cermat dalam mengobservasi perkembangan batuk pilek (batpil) anak. Karena lamanya periode sakit anak menentukan pengobatan yang akan diterima. Bagi orang tua yang punya latar belakang sebagai tenaga kesehatan, mungkin lebih mudah dalam mencermati perjalanan suatu penyakit. Tapi bagi awam seperti saya, cukup sulit dan lebih sering mengandalkan insting.

Kisah menengangkan itu terjadi saat saya hamil Baby Al usia kandungan 36 minggu.
Sejak bulan Juli akhir hingga akhir Agustus, Kakak (3 tahun) batpil secara on off. Dua minggu sakit, dua minggu sembuh tetapi kemudian batpil lagi. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, yaitu ketidakcermatan saya sehingga Kakak pernah mengalami infeksi pernafasan, jika batpilnya terjadi selama seminggu maka langsung saya periksakan. Selama periode waktu itu, setiap saya periksakan diresepkan obat batuk dan vitamin.

Di akhir Agustus, Kakak kembali batuk pilek. Kami sudah di Jogja kala itu. Saya kemudian membawa Kakak periksa di salah satu fasilitas kesehatan (faskes) dekat rumah. Dokter yang memeriksa meresepkan antibiotik Amoxicilin, obat batuk, dan vitamin. Jika antibiotik suda habis dan masih belum sembuh maka diminta datang lagi. Diagnosis sementara mengarah ke radang amandel atau alergi. Saat itu Kakak tidak mau diminta membuka mulut sehingga tidak bisa diketahui kondisi amandelnya.

Satu minggu kemudian.... dengan hati trenyuh saya bawa Kakak ke faskes tersebut karena belum sembuh. Di artikel ini, saya menceritakan dugaan saya kenapa Amoxicilin tersebut tidak berefek seperti yang diharapkan.

Dokter praktik saat itu berbeda dengan dokter sebelumnya. Sebut saja dokter tersebur dengan Dokter B. Setelah melalui pemeriksaan fisik dan membaca rekam medis, Dokter B mendiagnosis Kakak dengan TB Anak (tuberculosis anak). Saat itu rasanya sesaat jantung saya berhenti. Ini kali kedua Kakak dicurigai mengalami TB Anak.

Dasar diagnosis tersebut sama dengan peristiwa yang dulu saat Kakak pernah infeksi pernafasan. Yaitu BB Kakak hanya 10,5 kg untuk anak 3 thn (semestinya minimal 12 kg) dan adanya pembengkakan kelenjar getah bening di leher dekat telinga.
Saya kemudian menceritakan ke Dokter B bahwa saat usia 15 bulan  (tahun 2015) Kakak pernah dicurigai pula mengalami TB anak. Sudah pernah di tes Mantoux dan rontgen thorax, hasilnya negatif. Pada tahun 2013 itu, saya memeriksakan Kakak ke DSA sub pulmo. Dokter B sangat yakin dengan diagnosis beliau dan menyarankan untuk memberi pengobatan TB Anak yang berlangsung selama 6 bulan.

Saya kemudian menolak resep obat TB Anak. Saya katakan bahwa saya mau mendiskusikan dengan keluarga terlebih dahulu. Karena berdasarkan pengalaman saya tahun 2013 tersebut, saya khawatir jika tanpa serangkaian tes yang sebenarnya maka diagnosis yang diberikan tidak tepat. Diagnosis yang tidak, berujung pada pengobatan yang tidak tepat. Jika kasusnya demikian, maka kesehatan anak lah yang dirugikan.

Setelah berkonsultasi dengan suami dan mencari informasi ke beberapa teman yang merupakan nakes (tenaga kesehatan) atau yang anaknya perna mengalami diagnosis serupa. Kami bersepakat untuk membawa Kakak periksa ke Jogja Kota untuk menemukan diagnosis yang tepat.
Perjuangan kami untuk memeriksakan Kakak saya lanjutkan di artikel Anak dan Tuberculosis (Bagian II).
Post Comment
Post a Comment