Top Social

[Baby Al Journey] Pengalaman Melahirkan di RSKIA Sadewa

Saturday, December 24, 2016
10 Oktober 2016

Saya kontrol kandungan ke dr. Ayu Wityasti di RSKIA Sadewa. Waktu itu kandungan saya sudah memasuki usia 38 minggu. Sebenarnya awalnya saya belum begitu mengetahui track record dr. Ayu. Waktu itu periksa karena jadwal beliau praktik kebetulan ada ketika saya datang ke Sadewa. Ternyata setelah bertemu, dari interaksi antara dokter dan pasien, saya merasa cocok dengan dr. Ayu. Maka saya mantap untuk melahirkan dengan dr. Ayu, seperti saya ceritakan di sini.

Saat di USG, semua kondisi baik. Kepala janin juga sudah memasuki pinggul, meski masih goyang (masih agak jauh, tapi definisi jauhnya kurang tahu hehe). Placenta dan air ketuban juga masih bagus.

Tapiiiii.....

Di akhir sesi periksa dr. Ayu cerita kalau beliau minggu depan akan pergi ke Amerika sampai tanggal 28 Oktober 2016. Jeng..jeng...jeng....
Lalu saya tanya ke dr. Ayu "Yaaa... Dok, gimana dong HPL saya kan 27 Oktober. Pengennya lahiran sama dr. Ayu aja". Lalu dr. Ayu, yang cantik, modis, dan rambut di hairlight abu-abu, tersenyum manis dan menjawab "Tenang aja ibu, bisa saja kan lahirannya mundur, karena kondisi ketuban ibu masih sangat bagus untuk usia kandungan saat ini. Tapi jaga-jaga mulai cari dokter yang lain ya. Minggu depan kan kontrol lagi, udah nggak sama saya".

Saya waktu itu berpikir, kalau nanti jodoh ya pasti bisa lahiran dengan dr. Ayu. Sekarang harus pilih dokter obsgyn lain untuk periksa minggu depan sampai dr. Ayu pulang. Saya langsung mendaftar ke bagian pendaftaran untuk periksa Senin minggu depannya dengan dr. Yasmini.

Kenapa dr. Yasmini? Karena beliau terkenal pro normal dan ASI, serta jadwal praktiknya pagi.Kenapa tidak dr. Arif atau dr. Hasto yang pernah memeriksa sebelumnya? Saya pengennya lahiran dengan dokter obsgyn perempuan saja, hehe. Lebih ke kenyamanan psikologis saat lahiran saja.

14 Oktober 2016

Sejak malam sebelumnya saya merasa sering kram dan nyeri perut. Wajar untuk ibu hamil dengan usia kandungan 36 minggu ke atas mengalami kontraksi. Kalau kata dr. Hasto kontraksinya harus disyukuri karena membantu posisi janin semakin masuk ke jalan lahir. Justru harus banyak berdoa agar sering kontraksi kata beliau.

Ternyata paginya muncul flek tanda-tanda akan melahirkan. Intensitas kontraksi pun semakin bertambah dan muncul teratur. Untuk memastikan, saya ke bidan dekat rumah. Beliau mengatakan bahwa memang sudah ada tanda melahirkan, tetapi belum bukaan. Beliau menyarankan agar segera ke rumah sakit, karena kalau anak kedua pembukaan biasanya bertambah lebih cepat yaitu rata-rata per dua jam. Alhamdulillah barang-barang keperluan saya dan Baby Al sudah dikemas ke dalam satu tas sehingga tinggal mengemas baju Kakak dan bisa langsung berangkat ke Sadewa.

Malam pukul 18.30 WIB saya ditemani Ibu dan Kakak berangkat ke Sadewa. Diperiksa di IGD, sudah mulai bukaan 1 tapi belum lengkap. Saya pun meminta untuk inap di Sadewa saja karena saya sudah merasakan sakit kontraksi. Daannnn.... ternyata dr. Ayu sudah mulai cuti hari itu...

Pada akhirnya, saya memilih dr. Upik untuk menolong persalinan saya lagi hehe. Meskipun selama kehamilan kedua tidak pernah periksa degan beliau, tetapi minimal beliau bisa menganalisis dari rekam medis yang ada. Qadarulloh, dr. Upik juga ada jadwal pratik malam itu.

Sayangnya, kamar kelas 1, VIP, dan VVIP sudah penuh semua. Padahal siangnya suami telepon ke Sadewa masih ada VIP yang kosong. Jadinya kami masuk kamar kelas 3 terlebih dahulu. Kasihan Kakak jadi kurang nyaman tidur karena satu bed berdua. Alasan saya meminta kamar sendiri lebih ke privacy dan kenyamanan Kakak. Proses melahirkan kan menguras tenaga fisik dan mental, rasanya kurang nyaman jika tidak memiliki privacy untuk beristirahat.

Antara pukul 20.00 atau 21.00 WIB, bukaan sudah bertambah ke pembukaan 2. Tapi perawat menginformasikan bahwa dr. Upik menginstruksikan untuk induksi agar mempercepat proses pembukaan. Saya mempertanyakan kenapa harus induksi, karena hitungannya pembukaan lebih cepat bertambah dari pada saat melahirkan Kakak, yang pembukaan 1saja tidak bertambah hingga 24 jam. Ternyata disarankan induksi karena kepala janin meski sudah masuk panggul tapi masih agak jauh. Sepertinya kondisi tersebut saya alami karena saya malas senam dan jalan-jalan. Justru malah saya batasi, takut waktu persalinan maju karena BBJ masih 2,4 kg waktu itu. Takut BBJ dibawah 2,5 kg saat lahir. Ternyata tidak berpengaruh ya hehe. Waktu persalinan tetap maju tapi malah posisi janin masih belum ngunci masuk panggul.

Pukul 23.00 WIB pun saya masuk ke ruang bersalin untuk diinduksi. Alhamdulillah Kakak sudah tidur saat proses saya pindah ke kamar bersalin. Saya pun jadi tenang karena tahu Kakak sudah terlelap. 

Di Sadewa kamar bersalinnya bisa digunakan sekitar 5 pasien kalau tidak salah ingat. Saat saya masuk ada 2 pasien yang sudah terlebih dahulu masuk. Proses induksi lewat infus pun dimulai. Beberapa saat kemudian dr. Upik pun datang mengecek kondisi saya dan semua persiapan persalinan.

Induksi sempat dihentikan dan saya dipindahkan ke ruang lain karena ada pasien yang sudah lebih dulu pembukaan lengkap. Meski infus induksi dihentikan, tapi efeknya sudah mulai kick in. Dalam waktu yang cepat bukaan sudah bertambah menjadi 3 ke 4.

Ternyata saya harus menunggu sampai esok paginya sekitar jam 4.30 untuk masuk kamar bersalin lagi. Begitu masuk kamar bersalin infus induksi mulai dijalankan lagi. Dalam tempo 30 menit, bukaan cepat sekali bertambah menjadi 8. Proses persalinan kedua ini saya lebih drama queen daripada persalinan Kakak. Saking stress tidak bisa mengelola rasa sakit, ketuban pecah duluan dan menjadi hijau. Baby Al pun ikut gelisah sehingga "pup" ketika masih di dalam kandungan. 

Hikmahnya, meski sakit luar biasa akibat induksi, proses pembukaan dan persalinan menjadi lebih cepat. Kata bidan yang membantu persalinan, saya sensitif sekali dengan induksi yang diberikan. Sampai-sampai dr. Upik belum sempat sampai di Sadewa, pembukaan lengkap dan bayi sudah siap keluar. Akhirnya dengan ijin dari dr. Upik, proses persalinan dibantu oleh bidan. Alhamdulillah wa syukurillah pukul 5.10 Baby Al, putri kedua kami, lahir dengan sehat dan selamat dengan berat 2,655 kg.

Saya dan Baby Al melalui proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini) selama lebih dari satu jam. Selama IMD bayi tidak harus langsung bisa menyusu. Biarkan bayi di dekapan ibu untuk mendapat kehangatan dan kontak dengan kulit ibu.

Ketegangan dari proses persalinan ternyata belum berakhir sampai di situ. Pemeriksaan USG pasca melahirkan yang dilakukan siang harinya menunjukkan bahwa ada plasenta yang masih menempel. Karena dr. Upik ada acara workshop, yang melakukan pemeriksaan dr. Ariesta. Beliau menyarankan untuk dikuret agar plasenta bersih total. Sore hari pada hari yang sama saya menjalani proses kuret. Alhamdulillah proses kuret berjalan lancar dan setelah selesai kami bisa pindah ke kamar VIP yang sudah kosong. 

Malam hari nya Baby Al diantarkan ke kamar. Ini adalah momen pertama kali saya ketemu dengan Baby Al lagi setelah proses persalinan dan IMD. Baby Al pun tidur dengan kami di ruang yang sama. Salah satu kebijakan Sadewa adalah bayi rooming in dengan ibu nya kecuali ada kondisi khusus yang memerlukan observasi atau perawatan khusus. Hal ini semakin menunjukkan bahwa Sadewa berkomitmen untuk mendukung pemberian ASI. Saat pulang pun kami tidak di "oleh-olehi" susu formula untuk bayi dan botol dot, tapi susu untuk ibu menyusui, gelas sloki, dan sendok kecil untuk memberikan ASI.

Huftt...panjang juga ya cerita proses melahirkan Baby Al. Hehe... dari pengalaman saya tersebut, berikut sedikit tips bagi Mamas yang berencana melahirkan di Sadewa:

1. Siapkan keperluan bayi dan ibu dalam satu tas. Sebaiknya sudah siap sejak usia kandungan 36 minggu. Agar bisa langsung berangkat sewaktu-waktu muncul tanda melahirkan.
Perlengkapan bayi antara lain: satu set baju dan celana untuk pulang, selimut ber hoodie, topi bayi, dan bedong.

Perlengkapan ibu antara lain: baju dan pakaian dalam untuk 3 hari (Sadewa tidak menyediakan baju pasien untuk ibu), kain jarik (kain batik yang dipakai untuk menggendong) 4-5 pcs,  baju pulang, jilbab 2-3 pcs (bagi yang berhijab), buku ANC, stagen, dan gurita. Alat mandi dan handuk disediakan RS, tapi jika merasa lebih nyaman memakai milik pribadi maka bisa disiapkan. 
Untuk baju, bisa membawa atasan atau daster berkancing depan agar mempermudah proses belajar menyusui. Terutama untuk new mom. Urgensi membawa jarik agar saat persalinan lebih praktis dan ergonomis. Duh bahasa apa itu....😄

2. Jika sudah merasakan nyeri kontraksi per 15 menit, segera berangkat ke RS. Telepon RS terlebih dahulu, apakah ada kamar yang kita inginkan. Karena relatif banyak pasien yang ingin melahirkan di Sadewa. Jika kamar yang kita inginkan penuh, dan tidak masalah dengan kamar yang tersedia, maka bisa langsung ke Sadewa. Tapi jika tidak sreg dengan kamar yang tersedia, bisa mengambil alternatif ke RS lain. Jadi sebaiknya punya beberapa plan RS mana saja yang bisa dituju selain Sadewa.

3. Ikuti senam hamil sedini mungkin ketika sudah diperbolehkan mengikuti senam hamil. Waktu melahirkan hanya hak prerogatif Alloh, sebaiknya kita prepare agar kondisi kita dan janin sehat dan siap ketika waktu melahirkan tiba. Mengurangi banyak gerak ternyata tidak mempengaruhi maju atau mundurnya persalinan. Senam hamil juga bermanfaat saat mengatur pernafasan selama kontraksi dan mengejan. Karena saya selama kehamilan kedua tidak mengikuti senam hamil, saya bahkan lupa teknik mengejan yang benar. Hehe...

4. Mintalah bantuan kepada keluarga. Setelah melahirkan rasanya fisik dan mental terforsir. Belum pulih benar walau sudah tidur. Apalagi bayi rooming in dengan ibu. Keluarga bisa membantu merawat bayi selama rooming in dan menjaga kakaknya jika bukan kehamilan pertama. Ibu dan bayi bisa fokus ke belajar menyusui.

5. Jika sudah memiliki anak yang lebih besar dan berencana membawa ke RS, sebaiknya memilih kelas 1, VIP, atau VVIP. Jadi sang kakak bisa terfasilitasi untuk istirahat. Kata salah satu perawat, kalau melahirkan anak pertama ibaratnya kita hanya membawa diri saja. Tapi kalau sudah anak kedua dan seterusnya biasanya membawa kakaknya, jadi kita tidak hanya mengurus diri sendiri.

Demikian sedikit sharing pengalaman melahirkan di Sadewa. Semoga bermanfaat 😁










2 comments on "[Baby Al Journey] Pengalaman Melahirkan di RSKIA Sadewa"
  1. Mantap bun..reviewnya..byk info yg bisa saya dpt :-)
    rcna saya jg pengen lairan di sadewa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa baru baca komen ini.udah lahiran mgkn ya mbak? Semoga sehat selalu baby dan ibunya.trm ksh sdh berkunjung

      Delete