Top Social

Healthy Family, Top Priority

Monday, November 28, 2016
Seperti yang saya kisahkan di artikel ini, saya dan keluarga sempat dibuat sangat resah dengan kondisi kesehatan Kakak. Terutama karena dugaan diagnosis TB Anak bisa dikatakan penyakit yang tidak bisa dianggap enteng dalam pengobatannya.

Alhamdulillah kami bisa mengupayakan mencari expert opinion, dengan demikian mendapatkan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang tepat pula.

Setiap peristiwa memang ada hikmahnya. Panik memang, mendengar Kakak sempat dicurigai mengalami TB Anak, tetapi karena dugaan tersebut Kakak jadi mendapat pemeriksaan menyeluruh. Sehingga selain kami mengetahui kemungkinan penyebab rendahnya BB Kakak, kami juga mengetahui kemungkinan penyebab Kakak sering batuk.

Kakak diduga mengalami alergi yang bisa disebabkan oleh debu, bulu, atau kapuk. Oleh dr. Roni dan dr. Nini, kami diminta sebisa mungkin menghindarkan alergen-alergen tersebut dari Kakak. Saya pikir juga, walaupun tidak mengalami alergi menghindari debu, bulu, dan kapuk juga baik untuk kesehatan. It is a healthy step for everyone. Terutama jika memiliki anak usia balita yang sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Oleh karena itu, saya dan keluarga di Jogja (sementara kami tinggal di Jogja karena hendak melahirkan) segera "bedah rumah" untuk membuat lingkungan rumah lebih sehat untuk Kakak. Langkah yang kami lakukan adalah:
1. Memindahkan Kakak ke kamar depan yang kami pertimbangkan memiliki sirkulasi udara yang lebih baik. Di kamar depan terdapat jendela dan dekat dengan pintu yang langsung terhubung ke halaman. Selain mendapat sinar matahari yang lebih banyak, jendela kamar juga bisa dibuka agar terjadi pertukaran udara dan tidak pengap.
2. Minimal mengganti sprei dan sarung bantal satu kali dalam satu minggu.
3. "Menggudangkan" kasur dan bantal kapuk.
4. Menyapu rumah dan membersihkan tirai setiap hari.
5. Membersihkan debu yang menempel di kipas angin.
6. Mencuci tirai dan kami rencanakan secara berkala sebulan sekali.

Selama kami tinggal di rumah orang tua di Jogja, membersihkan rumah relatif lebih ringan karena dibantu oleh ibu dan rewang (asisten rumah tangga/ART). Lingkungan fisik juga lebih "bersahabat" karena masih alami banyak tanaman dan pepohonan yang membantu "menghalau" debu dari jalanan masuk ke rumah.

Lain lagi dengan kondisi rumah kami di Tangerang. Selain tirai, di rumah Tangerang terdapat juga karpet dan boneka-boneka milik Kakak. Kami tentu harus memikirkan membebaskan debu dan kotoran dari barang-barang tersebut.
Lingkungan fisiknya juga lebih kering dan berdebu, baik di sekitar rumah maupun di jalan raya. Di perumahan juga belum banyak pepohonan karena masih perumahan baru. Pohon dan tanaman di depan rumah masih kecil karena belum lama kami tanam. Sehingga debu cepat sekali masuk ke rumah. Kondisi-kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam membersihkan rumah.

Saya pun mencoba menyusun plan kegiatan bersih-bersih rumah setelah kembali ke Tangerang. Demikian plan kegiatan yang saya susun:
1. Harian:
- membersihkan lantai, meja, rak, tirai, jendela, dan halaman
- menyiram pohon dan tanaman, jika sudah tumbuh subur membantu menghalau debu masuk rumah
2. Mingguan: mengganti sprei dan sarung bantal
3. Bulanan: mencucikan tirai, karpet, dan boneka ke laundry
4. Per tiga bulan: memanggil jasa service untuk membersihkan AC, membersihkan kipas angin
5. Insidental: ikut menanam tanaman baru di kebun fasilitas bersama agar lingkungan perumahan lebih rindang

Nah, karena saya di rumah Tangerang tidak memiliki ART, cukup banyak juga tugas yang harus dilakukan demi menjaga rumah bersih dan sehat. Apalagi kedua anak saya masih balita. Salah satu solusinya tentu berbagi tugas dengan suami.

Solusi lain yang juga menjadi prioritas adalah memiliki vacuum cleaner. Produk ini penting sekali dimiliki menurut saya. Karpet, boneka, dan tirai mungkin bisa dicuci sebulan sekali, tetapi tetap saja perlu dibesihkan setiap hari. Karena debu-debu tentu mudah sekali menempel ke barang-barang tersebut. Tidak seperti debu di lantai atau di meja, debu di karpet, boneka, dan tirai sering kali susah dilihat dan dibersihkan. Kondisi demikian tentu berpotensi menimbulkan resiko penyakit.

Saat mencari informasi tentang vacuum cleaner, saya menemukan artikel di The Urban Mama dan detik tentang kelebihan vacuum cleaner Electrolux. Terdapat juga tautan survey dari Electrolux Indonesia tentang vacuum cleaner yang sesuai kebutuhan berdasarkan rutinitas dan kondisi rumah. Survey tersebut dilakukan untuk menyemarakkan #Over100YearsElectroluxVacuum. Wow...100 tahun?!! Periode waktu yang sangat impresif ya... indikator bahwa produk vacuum cleaner Electrolux bisa bertahan seiring perkembangan jaman dengan mutu dan inovasinya.

Vacuum cleaner yang efisien tentu sangat penting. Rumah di perkotaan kebanyakan lebih minimalis sehinga membutuhkan produk vacuum cleaner yang ergonomis sehingga tidak memakan tempat. Fungsinya juga harus mumpuni agar tujuan tercapai, tapi tidak memakan waktu.

Vacuum cleaner Electrolux sangat ideal untuk dimiliki sesuai kondisi yang saya sebutkan. Selain mumpuni untuk membersihkan debu, vacuum cleaner Electrolux juga mengeluarkan produk yang ringan dan compact sehingga mudah untuk disimpan.



See...how elegant and compact the designs....(Gambar dari Instagram @electroluxindonesia)

Selain bisa membersihkan debu yang menempel di lantai, vacuum cleaner Electrolux ini juga bisa digunakan untuk membersihkan debu di karpet, tirai, kolong sofa atau tempat tidur, rak, dan sudut-sudut yang sulit terjangkau. Keunggulan vacuum cleaner Electrolux selain bisa menghisap debu bahkan debu yang tak kasat mata (sampai 0.3 mikro), juga bisa menghisap air dan menyemburkan udara.

Cara menjaga keawetan vacuum cleaner salah satunya adalah dengan membersihkan secara berkala. Cara membersihkannya bisa diganti atau dicuci sesuai tipe filternya. Cara mencuci filternya cukup dengan sikat yang halus dan aliran air sedang.

Wah, vacuum cleaner impian sekali ya. Semoga ada rejeki untuk memiliki vacuum cleaner dari Electrolux. Dengan harapan bisa membantu menjaga kesehatan anak dan keluarga dengan maksimal.

Thanks for the informations The Urban Mama dan Electrolux !
Post Comment
Post a Comment