Top Social

Image Slider

Phuket, The Best Thai Restaurant in Town

Monday, December 26, 2016
I knew Phuket Thai Resto for the first time in 2011. I just walked around with my friends and picked randomly a place to eat. 

First ever Phuket that we visited is in the Ring Road Utara Jogja branch.

Before we ate, we asked: are the food halal?
They confirm us that Phuket franchises serve halal foods despite the menus are Thai food.

We choosed different menus, so we can try various menus. Then....

We just fall in love with the foods....
We love almost all the menus there. And Phuket became one of our favorite place to hang out.

Thai food has unique flavor. Fresh, delicious, and rich. My personal favorite are:

Seafood Tom Yam

And Roasted Chicken Salad

I can not find other place that can serve better tom yam than Phuket so far. Even in Jakarta. This tom yam is the best! For me at least. (Please note that the restaurants I have ever visited are only limited to friendly student budget. So my experiences do not reflect quality of all Thai resto in Jogja, not to say in all over Indonesia).

The salad is just so crunchy, spicy, and fresh. Me like it.

Phuket has so many recommended menus beside those two. Such as spicy tofu, fried rice served in bananas, beef served in coconut, mango salad, nan cake, etc.
Phuket has several branches in Jogja. As far I know they are in: near Lempuyangan Fly Over, Demangan (near Ambarukmo Plaza), near Mirota Godean, and Kusumanegara.

These photos are taken in Phuket Demangan:

We can see the chefs and staff prepare the menus


Paintings of Thai cultures such as tuk tuk the Thai vehicle, Thai monks, Thai King and royal families, etc.

The prices are affordable. Nice choice to spend quality time with friends or families while enjoy delicious foods.

Kuret Pasca Melahirkan

Sesaat setelah melahirkan Baby Al, seperti saya kisahkan di sini, beberapa bidan mengecek kondisi saya. Saat itu saya masih di dalam ruang bersalin dan menjalani proses IMD.

Saya sangat kaget dan tidak menduga saat diberi tahu bahwa kemungkinan ada bagian plasenta yang tertinggal di rahim yang tak kunjung tuntas dengan proses pembersihan biasa. Menurut beliau, plasenta yang tertinggal tersebut kemungkinan pecah menjadi bagian kecil-kecil. Sambil menunjukkan contoh plasenta yang baru saja dibersihkan, beliau berkata "Ini loh Bu, setiap saya bersihkan masih aja ada plasenta nya kecil-kecil". Padahal saya sudah hampir pingsan melihat contoh plasenta yang ditunjukkan. Pada dasarnya saya memang ngeri jika melihat darah dalam jumlah yang banyak. Duh, siapa sih yang nggak? Para tenaga medis kali ya, karena sudah tergembleng dengan pengalaman.

Oke...saya mencoba untuk tetap tenang meski mulai muncul khawatir. Lalu bidan menjelaskan "Kita observasi dulu aja ya Bu. Obat yang diresepkan dr. Upik kita berikan dulu. Semoga bisa luruh dan keluar tuntas dengan sendirinya. Nanti siang coba di USG untuk memastikan".

Saya melahirkan pagi hari pukul 05.15 WIB. Sekitar pukul 09.00 WIB saya kembali ke ruang inap. Dicek kontraksi perut lagi oleh bidan, beliau bilang kontraksi bagus semoga perkembangannya juga bagus. Lalu saya diminta untuk istirahat.

Setelah ganti baju dan bersih-bersih, saya menghabiskan sarapan yang sudah disiapkan. Tapi meskipun sudah makan, ngemil, dan banyak minum, tetap saja rasanya lemas terus. Tak bertenaga. Ya iyalah....habis mengeluarkan tenaga dan darah yang segitu banyaknya.

Saya pun terlelap. Bahkan setelah tidur, rasanya masih lemas. Alhamdulillah Kakak sangat kooperatif. Bahkan terus-terusan minta menengok adiknya. Saya saja belum bertemu lagi dengan Baby Al semenjak dari ruang bersalin.

Sekitar jam 12.00 WIB, perawat menjemput saya dan mengantar dengan kursi roda ke ruang dr. Ariesta. Hari itu dr. Upik sedang keluar kota mengisi workshop sehingga saya dipantau oleh dr. Ariesta.

Sebelum di USG, saya diperiksa secara fisik dulu oleh dr. Ariesta. Dicek kontraksi perut. Beliau mengatakan kondisi perut sudah turun (once again, saya tidak paham dengan istilah tersebut, sepertinya suatu indikasi bahwa ada perkembangan yang baik) dan kontraksi juga bagus.

Tetapi hasil USG menunjukkan bahwa memang masih ada jaringan plasenta yang tertinggal. Serrr....dalam hati saya berkata "what??? Pernjuangan hari ini belum berakhir ternyata".

Dr. Ariesta lalu menginstruksikan untuk berpuasa mulai jam saat itu dan sore harinya harus segera dikuret. Agar tuntas, semua bagian plasenta keluar. Jika tidak, ditakutkan terjadi pendarahan. Dengan obat "saja", ditakutkan tidak langsung tuntas.

Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut saya adalah...

"Dok, waktu dikuret nanti dibius atau tidak?"

Yap... i have not enough courage untuk terbaring lagi di meja persalinan dan bersakit-sakit lagi untuk hari itu.

Leganya saat beliau menjawab "Ya dibius dong Bu, tega banget kalau tidak dibius".

Benar saja, saat saya masuk ruang persalinan (lagi), dokter yang bertemu saya sebelum dr. Ariesta adalah dokter anastesi.
Sewaktu menunggu rasanya sudah ngeri melihat alat-alat yang hendak dipakai. Apalagi mendengar suara gunting diletakkan. Tringggg....seperti di drama-drama medis Korea.

Dokter anastesi bertanya ada tidaknya alergi obat. Alhamdulillah saya tidak mengalami alergi obat sejauh ini. Proses selanjutnya beliau menyuntikkan anastesi ke saluran infus. Saya mengerjapkan mata beberapa kali karena tidak merasakan apa-apa.

Sesaat kemudian mata saya berat dan tertidur dengan proses yang sangat cepat.

Tahu-tahu saya terbangun sendirian. Agak horor ya, seperti di film-film gitu. Lebai ah...

Saya tengok kanan kiri mencoba memproses apa yang terjadi. Kemudian baru terlintas, "kayaknya sudah selesai ya kuretnya".

Saya lalu memanggil perawat yang berjaga. "Mbak, sudah selesai ya?". "Iya Bu. Ibu ada pusing atau mual?". Alhamdulillah saya tidak mengalaminya. Lalu saya bertanya "Habis ini boleh makan?". Sungguh rasanya lapaaar sekali. Lemes masih ada, mulai siang disuruh puasa. Kata beliau, jika tidak mual maka boleh untuk segera makan setelah kembali ke kamar.

Sesaat kemudian, perawat memanggil suami masuk dan menyerahkan kendi yang berisi plasenta yang tertinggal.
Jadi proses kuret itu....seperti tidak terjadi apa-apa. Jika dibius. Hehee... Tentunya ada rasa sedikit nyeri tapi tidak terlalu sakit. Dr. Upik juga meresepkan anti nyeri. 

Pengalaman saya, obat anti nyeri ini harus tepat waktu diminum sesuai ketentuan. Kalau telat, memang nyeri-nyerinya terasa. Waktu itu sahabat saya menjenguk dan saya lupa meminum anti nyeri pada jam nya.

Selama proses menuju kuret, saya bertanya pada dokter dan perawat, kenapa plasenta bisa tertinggal? Yang saya tangkap dari penjelasan beliau-beliau adalah: tipe melekat plasenta bisa berbeda-beda pada tiap kehamilan. Kebetulan ada bagian plasenta yang sangat menempel kuat di rahim saya waktu itu. Dan tipe pelekatan plasenta tersebut tidak dapat diprediksi faktor-faktornya. Apakah makanan, kegiatan selama hamil, atau yang lain, belum diketahui faktor yang mempengaruhinya.

Alhamdulillah, saya bersyukur sekali ditangani oleh tenaga medis yang teliti sehingga bisa diprevensi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Mungkin plasenta yang masih tertinggal tapi tidak terdeteksi, adalah salah satu penyebab pendarahan atau kematian ibu setelah melahirkan. Karena secara tampak luar, lewat pemeriksaan fisik saja, seperti sudah tidak ada masalah. Baru ketahuan setelah lewat USG.

Hikmah yang saya dapatkan adalah kita memang harus banyak bersyukur dan berterima kasih dengan perkembangan ilmu dan teknologi di semua bidang. Termasuk para profesional yang dengan lelah letih tetap bekerja mendedikasikan waktu dan tenaga untuk para pasien.

[Baby Al Journey] Pengalaman Melahirkan di RSKIA Sadewa

Saturday, December 24, 2016
10 Oktober 2016

Saya kontrol kandungan ke dr. Ayu Wityasti di RSKIA Sadewa. Waktu itu kandungan saya sudah memasuki usia 38 minggu. Sebenarnya awalnya saya belum begitu mengetahui track record dr. Ayu. Waktu itu periksa karena jadwal beliau praktik kebetulan ada ketika saya datang ke Sadewa. Ternyata setelah bertemu, dari interaksi antara dokter dan pasien, saya merasa cocok dengan dr. Ayu. Maka saya mantap untuk melahirkan dengan dr. Ayu, seperti saya ceritakan di sini.

Saat di USG, semua kondisi baik. Kepala janin juga sudah memasuki pinggul, meski masih goyang (masih agak jauh, tapi definisi jauhnya kurang tahu hehe). Placenta dan air ketuban juga masih bagus.

Tapiiiii.....

Di akhir sesi periksa dr. Ayu cerita kalau beliau minggu depan akan pergi ke Amerika sampai tanggal 28 Oktober 2016. Jeng..jeng...jeng....
Lalu saya tanya ke dr. Ayu "Yaaa... Dok, gimana dong HPL saya kan 27 Oktober. Pengennya lahiran sama dr. Ayu aja". Lalu dr. Ayu, yang cantik, modis, dan rambut di hairlight abu-abu, tersenyum manis dan menjawab "Tenang aja ibu, bisa saja kan lahirannya mundur, karena kondisi ketuban ibu masih sangat bagus untuk usia kandungan saat ini. Tapi jaga-jaga mulai cari dokter yang lain ya. Minggu depan kan kontrol lagi, udah nggak sama saya".

Saya waktu itu berpikir, kalau nanti jodoh ya pasti bisa lahiran dengan dr. Ayu. Sekarang harus pilih dokter obsgyn lain untuk periksa minggu depan sampai dr. Ayu pulang. Saya langsung mendaftar ke bagian pendaftaran untuk periksa Senin minggu depannya dengan dr. Yasmini.

Kenapa dr. Yasmini? Karena beliau terkenal pro normal dan ASI, serta jadwal praktiknya pagi.Kenapa tidak dr. Arif atau dr. Hasto yang pernah memeriksa sebelumnya? Saya pengennya lahiran dengan dokter obsgyn perempuan saja, hehe. Lebih ke kenyamanan psikologis saat lahiran saja.

14 Oktober 2016

Sejak malam sebelumnya saya merasa sering kram dan nyeri perut. Wajar untuk ibu hamil dengan usia kandungan 36 minggu ke atas mengalami kontraksi. Kalau kata dr. Hasto kontraksinya harus disyukuri karena membantu posisi janin semakin masuk ke jalan lahir. Justru harus banyak berdoa agar sering kontraksi kata beliau.

Ternyata paginya muncul flek tanda-tanda akan melahirkan. Intensitas kontraksi pun semakin bertambah dan muncul teratur. Untuk memastikan, saya ke bidan dekat rumah. Beliau mengatakan bahwa memang sudah ada tanda melahirkan, tetapi belum bukaan. Beliau menyarankan agar segera ke rumah sakit, karena kalau anak kedua pembukaan biasanya bertambah lebih cepat yaitu rata-rata per dua jam. Alhamdulillah barang-barang keperluan saya dan Baby Al sudah dikemas ke dalam satu tas sehingga tinggal mengemas baju Kakak dan bisa langsung berangkat ke Sadewa.

Malam pukul 18.30 WIB saya ditemani Ibu dan Kakak berangkat ke Sadewa. Diperiksa di IGD, sudah mulai bukaan 1 tapi belum lengkap. Saya pun meminta untuk inap di Sadewa saja karena saya sudah merasakan sakit kontraksi. Daannnn.... ternyata dr. Ayu sudah mulai cuti hari itu...

Pada akhirnya, saya memilih dr. Upik untuk menolong persalinan saya lagi hehe. Meskipun selama kehamilan kedua tidak pernah periksa degan beliau, tetapi minimal beliau bisa menganalisis dari rekam medis yang ada. Qadarulloh, dr. Upik juga ada jadwal pratik malam itu.

Sayangnya, kamar kelas 1, VIP, dan VVIP sudah penuh semua. Padahal siangnya suami telepon ke Sadewa masih ada VIP yang kosong. Jadinya kami masuk kamar kelas 3 terlebih dahulu. Kasihan Kakak jadi kurang nyaman tidur karena satu bed berdua. Alasan saya meminta kamar sendiri lebih ke privacy dan kenyamanan Kakak. Proses melahirkan kan menguras tenaga fisik dan mental, rasanya kurang nyaman jika tidak memiliki privacy untuk beristirahat.

Antara pukul 20.00 atau 21.00 WIB, bukaan sudah bertambah ke pembukaan 2. Tapi perawat menginformasikan bahwa dr. Upik menginstruksikan untuk induksi agar mempercepat proses pembukaan. Saya mempertanyakan kenapa harus induksi, karena hitungannya pembukaan lebih cepat bertambah dari pada saat melahirkan Kakak, yang pembukaan 1saja tidak bertambah hingga 24 jam. Ternyata disarankan induksi karena kepala janin meski sudah masuk panggul tapi masih agak jauh. Sepertinya kondisi tersebut saya alami karena saya malas senam dan jalan-jalan. Justru malah saya batasi, takut waktu persalinan maju karena BBJ masih 2,4 kg waktu itu. Takut BBJ dibawah 2,5 kg saat lahir. Ternyata tidak berpengaruh ya hehe. Waktu persalinan tetap maju tapi malah posisi janin masih belum ngunci masuk panggul.

Pukul 23.00 WIB pun saya masuk ke ruang bersalin untuk diinduksi. Alhamdulillah Kakak sudah tidur saat proses saya pindah ke kamar bersalin. Saya pun jadi tenang karena tahu Kakak sudah terlelap. 

Di Sadewa kamar bersalinnya bisa digunakan sekitar 5 pasien kalau tidak salah ingat. Saat saya masuk ada 2 pasien yang sudah terlebih dahulu masuk. Proses induksi lewat infus pun dimulai. Beberapa saat kemudian dr. Upik pun datang mengecek kondisi saya dan semua persiapan persalinan.

Induksi sempat dihentikan dan saya dipindahkan ke ruang lain karena ada pasien yang sudah lebih dulu pembukaan lengkap. Meski infus induksi dihentikan, tapi efeknya sudah mulai kick in. Dalam waktu yang cepat bukaan sudah bertambah menjadi 3 ke 4.

Ternyata saya harus menunggu sampai esok paginya sekitar jam 4.30 untuk masuk kamar bersalin lagi. Begitu masuk kamar bersalin infus induksi mulai dijalankan lagi. Dalam tempo 30 menit, bukaan cepat sekali bertambah menjadi 8. Proses persalinan kedua ini saya lebih drama queen daripada persalinan Kakak. Saking stress tidak bisa mengelola rasa sakit, ketuban pecah duluan dan menjadi hijau. Baby Al pun ikut gelisah sehingga "pup" ketika masih di dalam kandungan. 

Hikmahnya, meski sakit luar biasa akibat induksi, proses pembukaan dan persalinan menjadi lebih cepat. Kata bidan yang membantu persalinan, saya sensitif sekali dengan induksi yang diberikan. Sampai-sampai dr. Upik belum sempat sampai di Sadewa, pembukaan lengkap dan bayi sudah siap keluar. Akhirnya dengan ijin dari dr. Upik, proses persalinan dibantu oleh bidan. Alhamdulillah wa syukurillah pukul 5.10 Baby Al, putri kedua kami, lahir dengan sehat dan selamat dengan berat 2,655 kg.

Saya dan Baby Al melalui proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini) selama lebih dari satu jam. Selama IMD bayi tidak harus langsung bisa menyusu. Biarkan bayi di dekapan ibu untuk mendapat kehangatan dan kontak dengan kulit ibu.

Ketegangan dari proses persalinan ternyata belum berakhir sampai di situ. Pemeriksaan USG pasca melahirkan yang dilakukan siang harinya menunjukkan bahwa ada plasenta yang masih menempel. Karena dr. Upik ada acara workshop, yang melakukan pemeriksaan dr. Ariesta. Beliau menyarankan untuk dikuret agar plasenta bersih total. Sore hari pada hari yang sama saya menjalani proses kuret. Alhamdulillah proses kuret berjalan lancar dan setelah selesai kami bisa pindah ke kamar VIP yang sudah kosong. 

Malam hari nya Baby Al diantarkan ke kamar. Ini adalah momen pertama kali saya ketemu dengan Baby Al lagi setelah proses persalinan dan IMD. Baby Al pun tidur dengan kami di ruang yang sama. Salah satu kebijakan Sadewa adalah bayi rooming in dengan ibu nya kecuali ada kondisi khusus yang memerlukan observasi atau perawatan khusus. Hal ini semakin menunjukkan bahwa Sadewa berkomitmen untuk mendukung pemberian ASI. Saat pulang pun kami tidak di "oleh-olehi" susu formula untuk bayi dan botol dot, tapi susu untuk ibu menyusui, gelas sloki, dan sendok kecil untuk memberikan ASI.

Huftt...panjang juga ya cerita proses melahirkan Baby Al. Hehe... dari pengalaman saya tersebut, berikut sedikit tips bagi Mamas yang berencana melahirkan di Sadewa:

1. Siapkan keperluan bayi dan ibu dalam satu tas. Sebaiknya sudah siap sejak usia kandungan 36 minggu. Agar bisa langsung berangkat sewaktu-waktu muncul tanda melahirkan.
Perlengkapan bayi antara lain: satu set baju dan celana untuk pulang, selimut ber hoodie, topi bayi, dan bedong.

Perlengkapan ibu antara lain: baju dan pakaian dalam untuk 3 hari (Sadewa tidak menyediakan baju pasien untuk ibu), kain jarik (kain batik yang dipakai untuk menggendong) 4-5 pcs,  baju pulang, jilbab 2-3 pcs (bagi yang berhijab), buku ANC, stagen, dan gurita. Alat mandi dan handuk disediakan RS, tapi jika merasa lebih nyaman memakai milik pribadi maka bisa disiapkan. 
Untuk baju, bisa membawa atasan atau daster berkancing depan agar mempermudah proses belajar menyusui. Terutama untuk new mom. Urgensi membawa jarik agar saat persalinan lebih praktis dan ergonomis. Duh bahasa apa itu....😄

2. Jika sudah merasakan nyeri kontraksi per 15 menit, segera berangkat ke RS. Telepon RS terlebih dahulu, apakah ada kamar yang kita inginkan. Karena relatif banyak pasien yang ingin melahirkan di Sadewa. Jika kamar yang kita inginkan penuh, dan tidak masalah dengan kamar yang tersedia, maka bisa langsung ke Sadewa. Tapi jika tidak sreg dengan kamar yang tersedia, bisa mengambil alternatif ke RS lain. Jadi sebaiknya punya beberapa plan RS mana saja yang bisa dituju selain Sadewa.

3. Ikuti senam hamil sedini mungkin ketika sudah diperbolehkan mengikuti senam hamil. Waktu melahirkan hanya hak prerogatif Alloh, sebaiknya kita prepare agar kondisi kita dan janin sehat dan siap ketika waktu melahirkan tiba. Mengurangi banyak gerak ternyata tidak mempengaruhi maju atau mundurnya persalinan. Senam hamil juga bermanfaat saat mengatur pernafasan selama kontraksi dan mengejan. Karena saya selama kehamilan kedua tidak mengikuti senam hamil, saya bahkan lupa teknik mengejan yang benar. Hehe...

4. Mintalah bantuan kepada keluarga. Setelah melahirkan rasanya fisik dan mental terforsir. Belum pulih benar walau sudah tidur. Apalagi bayi rooming in dengan ibu. Keluarga bisa membantu merawat bayi selama rooming in dan menjaga kakaknya jika bukan kehamilan pertama. Ibu dan bayi bisa fokus ke belajar menyusui.

5. Jika sudah memiliki anak yang lebih besar dan berencana membawa ke RS, sebaiknya memilih kelas 1, VIP, atau VVIP. Jadi sang kakak bisa terfasilitasi untuk istirahat. Kata salah satu perawat, kalau melahirkan anak pertama ibaratnya kita hanya membawa diri saja. Tapi kalau sudah anak kedua dan seterusnya biasanya membawa kakaknya, jadi kita tidak hanya mengurus diri sendiri.

Demikian sedikit sharing pengalaman melahirkan di Sadewa. Semoga bermanfaat 😁










Musiro Korean Fusion Food in Jogja

Wednesday, December 14, 2016
I am a K-Drama lover. The fact that my best friends are also K-Drama lovers, is another serious pull factor.

Watching many scenes that contain Korean cullinary (yes it is you Dae Jang Geum), made me curious to try Korean food. After a long awaited opportunity, I succeed to make my husband took me to Korean food stall in a mall in Jakarta. Because I am pregnant at that moment, my husband can't resist my plea. I like the kimchi and spicy soup (forget the name) that I ordered.

Another place I ever visited is Silla Korean and Japanesse Restaurant in Ring Road Utara Jogja. It is a little bit expensive for student standard. But I think it is tasted original based on my experiences (note that I have little experience in tasting Korean food).

So far my favorite is Musiro, a Korean fusion restaurant. The location is in Affandi Street No.33. We have to walk towards an alley, but it is not far from the main road.
I have tried several menu such as bimbimbap, gimbab, jjampong ramen, buddae jigae, sundubu jigae, and topoki. I like all the menu that I've tried, except topoki. As I know, topoki is a rice cake. I think it is a little weird for my taste, but topoki is a popular snack in Korea.


L: Gimbab (Korean Sushi), R above: Bimbimbap, R below: ramyeon

My favorite menu is bimbimbap. No matter how many time I eat there, bimbimbap is my first choice. Bimbimbap is like salad. It consists of vegetables, Korean sauce, and egg. I like it better when accompanied with kimchi.

As I know, actually in Korea bimbimbap served with raw egg and presented in a hot pot. But in Musiro, the egg is cooked. The menus are not originally tasted Korean as in Silla. The fusion with Indonesian preference make it easy to be accepted among local customer. But I think maybe the taste are not that miss compare with the original, because I saw Korean student ate there and ordered one bag of kimchi to bring home.

My favorite drink is the mix of sweet potatoe and milk, I don't remember the name. Beside that, the only Korean drink is cha (tea).

Beside the fusion menu, the price are not expensive. It is suitable for students. Musiro's location itself is near universities area.

The room is decorated with many photos of K-Pop idols. Musiro also playing K-Pop songs. I am not a fans of K-Pop, thus not really get the hype. More suitable for teenage customer I think. This photo I got from this blog.


Captured scene inside Musiro. We can choose to eat inside or outside building.

Belanja Kebutuhan Ibu dan Bayi Menjelang Melahirkan

Monday, December 12, 2016

Saat hamil anak pertama, rasanya kalau pergi ke toko bayi semua barang ingin dibeli. Bagaimana tidak? Barangnya lucu-lucuuuuu.... Ayah langsung sensi kalau Bunda bilang: "Yah ini lucu ya", "yang itu juga lucu", "ya ampuuunnn lucu banget" dan seterusnya 😅.

Belum lagi kalau lihat online shop. Banyak perlengkapan bayi yang inovatif dan sepertinya penting untuk dibeli semua. Saya termasuk ibu-ibu yang kalap belanja kebutuhan bayi saat itu.

Pada kehamilan kedua, hasrat berbelanja sudah lumayan cool down. Sebagian besar kebutuhan bayi sudah ada, barang-barang Kakak masih banyak yang bagus. Saya tinggal menambahi beberapa buah dan yang belum dimiliki saat itu. Nah, inilah....kategori barang yang belum dimiliki ini rawan juga menimbulkan "gelap mata" dalam berbelanja. Ayah sudah siap-siap giving massive rolling eyes deh.

At least sekarang saya sudah paham garis besar barang-barang yang benar-benar dibutuhkan untuk mengurus newborn baby. Pengalaman saat mengasuh Kakak ada barang-barang yang memang pada akhirnya tidak terpakai atau signifikan fungsinya.

Berikut barang-barang yang perlu dibeli saat belanja kebutuhan bayi versi saya:
- Popok kain 12 pcs (1 lusin). Beli lebih dari 1 lusin juga baik untuk yang berkomitmen tidak menggunakan disposable diaper sama sekali.
- Celana pop 6 pcs
- Celana panjang 6 pcs (digunakan saat malam hari)
- Baju lengan pendek 6 pcs
- Baju lengan kutung 6 pcs (khusus untuk yang tinggal di daerah panas)
- Baju lengan panjang 12 pcs
- Bedong 12 pcs (pilih yang lebar, bahan lembut, dan hangat)
- Alas ompol 12 pcs (lebih juga lebih baik)
- Perlak 2 pcs
- Topi bayi 2-3 pcs
- Ember Bayi
- Handuk
- Washlap/washcloth
- Jarik (kain batik yang biasa untuk menggendong). Jarik ini bisa dialihfungsikan juga sebagai alas ompol yang bisa digunakan 2-3 kali pipis. Asal dilipat disisakan ke samping, tidak dilipat sebesar perlak.
- Gendongan bayi selain model jarik (opsional). Sekarang banyak model gendongan ada gendongan kaos, sling ring, wrap, dll. New moms biasanya masih belajar menggendong bayi dengan terampil. Pilih yang paling nyaman untuk ibu.
- Bantal bayi.
- Kelambu.
- Sarung tangan dan kaos kaki bayi min 1 pcs masing-masing.
- Stagen/korset/gurita untuk ibu.
- Pembalut ibu.
- Sabun, shampoo, minyak telon, bedak, cutton bud. Pilih merk yang aman untuk bayi, produk hyppoallergenic lebih baik lagi.
- Sisir bayi, gunting kuku bayi.
- Kapas bulat untuk membersihkan pipis dan pup bayi. Kalau saya lebih suka memakai kapas pembalut. Saya beli yang 500gram atau 1kg sekalian. Kapas pembalut ini hitungannya lebih hemat secara ekonomis dan lebih tebal jadi terasa benar-benar bersih. Bisa dibeli di apotek-apotek umum.
- Baju lucu untuk pulang dari rumah sakit. Penting banget ini 😄.

Opsional (bisa dibeli atau tidak tergantung kebutuhan dan budget):
- Selimut bayi. Tidak semua bayi mau diselimuti. Dua anak saya tipe anak yang tidak betah memakai selimut.
- Kasur bayi. Ada model kasur bayi yang sudah jadi satu dengan kelambu.
- Diaper bag (tas bayi). Biasanya akan dapat dari kado sih. Hihii. Tapi ada juga yang memfungsikan tas jenis lain yang sudah dimiliki menjadi diaper bag.
- Disposable diapers. Jika memakai disposable diapers, perlu diperhatikan kelembapan dan kenyamanan anak. Sebisa mungkin sering dicek apakah disposable diapers sudah lembab sehingga perlu diganti atau belum.

Menurut saya, perlengkapan yang saya jabarkan tersebut sudah cukup (sufficcient) untuk alat "tempur" merawat bayi newborn. Kalau ada yang ingin membeli stroller, bouncer, cribb, dkk, it is okay kok. Kebutuhan tiap ibu dan anak pasti beda tidak bisa disamaratakan. Poin paling pentingnya adalah tidak memberatkan. Jika budget mepet untuk membeli semua perlengkapan tersebut, bisa dibeli dengan dicicil tidak harus bersamaan dapat semua.

Tips lain adalah mulai berbelanja di waktu luang, tidak perlu menunggu mendekati lahiran. Karena saat hamil besar itu justru akan lebih cepat capek dan engap. Bisa dicicil belanja saat masih enjoy dipakai jalan.

Kalau di Jogja, saya suka belanja di Toko Bayi Wijaya (banyak cabangnya) yang terkenal lengkap dan murah. Khusus untuk berburu disposable diapers yang murah, bisa ke Clandys dan mendaftar menjadi member. Kalau di Tangerang sendiri saya baru pernah belanja di Varia (area dekat Stasiun Tangerang) dan Milleon (dekat Banjar Wijaya Cipondoh). Untuk Varia sendiri saya harganya 11-12 lah sama Wijaya. Tapi mungkin masih ada yang lebih murah lagi untuk area Tangerang.

Demikian list barang yang saya ingat. Mungkin ada yang mau menambahkan atau ada terlewatkan. Happy shopping ya bu ibu 😄😄😄

Senam Hamil di RS Happy Land dan Panti Rapih Jogja

Saat menjelang kelahiran Kakak, saya sangat antusias mengikuti senam hamil. Bahkan saya bisa ikut dua kali dalam seminggu. Saya merasakan manfaat positif dari senam hamil. Sayangnya, "kerajinan" ini tidak berlanjut ke kehamilan kedua sehingga menimbulkan "drama" kecil saat proses persalinan Baby Al.

Sewaktu hamil kedua, saya memang memutuskan untuk tidak ikut senam hamil. Selain karena jarak rumah yang jauh, saya juga takut senam mempengaruhi kontraksi. Selama hamil Baby Al saya memang sering merasakan kontraksi dan posisi janin di bawah.

Padahal, ternyata tidak berpengaruh loh. Justru kurang gerak ini lah yang menyebabkan posisi Baby Al saat itu masih agak di atas meski sudah masuk panggul. Dan saya salah teknik mengejan! Uh oh!!!! Karena sudah tiga tahun yang lewat ikut senam hamilnya, saya sampai lupa teknik mengejan yang benar. Saya angkat badan saya ketika mengejan, harusnya TIDAK BOLEH! Hanya kepala saja yang boleh diangkat. Alhamdulillah pada percobaan kedua Baby Al sudah lahir sehingga dramanya tidak berlanjut.

Oleh karena itu, saya sangat menyarankan ibu yang sedang hamil menyempatkan diri untuk ikut senam atau yoga hamil. Saat mengikuti senam hamil, kita akan dipandu untuk:

1. Merilekskan otot. Selama hamil tentu saja banyak otot kita yang tegang. Akibat berat dan posisi kandungan ataupun ketegangan kita menghadapi kelahiran. Saat senam hamil kita diajak untuk merilekskan otot-otot punggung, pinggang, kaki, dan leher. Serius ini enak sekali. Rasanya punggung yang capek dan kaki yang kaki-kaki jadi lebih rileks.

2. Memperkuat otot yang akan digunakan saat melahirkan. Instruktur (biasanya bidan) mengajarkan gerakan-gerakan yang memperkuat otot-otot terutama paha dan panggul.

3. Melatih pernafasan. Teknik pernafasan dapat mengurangi rasa sakit saat kontraksi datang dan juga membantu kita bisa lebih kuat mendorong saat hendak mengeluarkan bayi. Teknik pernafasan yang digunakan ada dua yaitu pernafasan perut dan nafas "kepedesan" (ini istilah yang digunakan oleh instruktur waktu itu hehe). Teknik pernafasan perut digunakan untuk pembukaan 1-5. Teknik ini dilakukan dengan mengambil nafas panjang hingga ke perut. Manfaatnya adalah mengurangi rasa sakit yang muncul. Untuk teknik nafas kepedesan dilakukan saat pembukaan 6 ke atas yaitu saat kontraksi semakin intens.

4. Latihan mengejan. Untuk ibu yang sudah memasuki usia kandungan 36 minggu ke atas, instruktur akan memberikan sesi khusus sebelum senam berakhir. Instruktur akan mengajari teknik mengejan, membenarkan posisi ibu, dan praktik langsung. Satu per satu ibu yang usia kehamilan sudah memenuhi syarat tersebut dibimbing oleh instruktur. Jadi ibu yang akan melahirkan prepared saat di meja bersalin.

5. Relaksasi. Setelah gerakan peregangan, biasanya instruktur akan mengajak peserta senam untuk relaksasi. Peserta tidur berbaring dan mendengarkan sugesti-sugesti positif dari instruktur. Ada juga loh yang sampai benar-benar tertidur saat relaksasi ini.

Untuk memilih tempat senam sendiri itu cocok-cocokan. Yang jelas harus cocok secara jadwal dan tempat. Kemudian harus cocok dengan program senam hamilnya. Saya pikir, semua tempat yang menyelenggarakan senam hamil, standard gerakannya sama. Kalau ada yang beda sekiranya tidak terlalu signifikan.

Saya pernah ikut senam hamil di dua tempat saja. Di RS Happy Land dan Panti Rapih Yogyakarta. Kalau di Panti Rapih biasanya saat weekdays. Bisa pagi atau sore hari. Kita harus telepon dulu untuk mendaftar karena dibatasi kuota untuk di Panti Rapih. Kita datang tinggal menyebutkan nomor kuota saat di pendaftaran.

Senam di Happy Land biasanya saya ikuti saat week end dan hanya saat sore hari saja. Waktu itu, tidak ada kuota peserta. Kita tinggal datang saja. Dia akhir senam, setiap peserta akan mendapatkan jus buah. Mungkin sudah ada perubahan untuk saat ini.

Secara tempat sendiri, sebenarnya lebih leluasa dan nyaman di Panti Rapih. Karena tempatnya lebih luas dan terang. Tapi saya lebih suka senam di Happy Land. Gerakan-gerakan senam di Happy Land rasanya lebih meresap menarik otot saat dilakukan. Biasanya saya akan berkeringat dan merasakan otot-otot meregang setelah senam di sana. Tapi beda ibu, mungkin beda pengalaman.

Di mana pun tempatnya, asal kita serius mempelajari dan mengikuti gerakan, manfaatnya akan kita rasakan. Pilih lah tempat yang paling membuat ibu nyaman sehingga mendapat manfaat yang maksimal. Selamat senam ibu ibu....satu...dua...tiga...💃💃💃

[Baby Al Journey] Periksa Kandungan di Asri Medical Center (AMC) Jogja

Sunday, December 11, 2016

Cerita ini merupakan lanjutan kisah kelahiran Baby Al dan tindakan kuret yang saya alami.

Menjelang kepulangan dari Sadewa, perawat memberikan panduan terkait obat dan vitamin yang diberikan serta jadwal kontrol pasca melahirkan. Seminggu setelah kepulangan saya diharuskan kontrol lagi, terlebih karena saya habis dikuret.

Dilema mulai muncul, karena jadwal dr. Upik di Sadewa semuanya start malam hari yaitu jam 19.00 WIB. Wah meninggalkan Baby Al malam hari dan dengan antrian pasien yg tidak dapat diprediksi, saya memilih mencari jadwal praktik dr. Upik di tempat lain.

Atas rekomendasi beberapa anggota grup Whats App The Urban Mama Jogja, saya mulai mempertimbangkan untuk periksa di Asri Medical Center (AMC). Di AMC, dr. Upik ada praktik pagi dan siang hari. Jadwalnya bisa dilihat di sini.

Saya disarankan untuk periksa pada hari Senin saja, karena menurut pengalaman salah satu mama TUM Jogja di jadwal hari Jumat banyak pasien dr. Upik dari luar kota yang datang. Memang dr. Upik jadwal dan kegiatannya amazing. Padat nian dok....

Pendaftaran dan nomor antrian dapat dilakukan via telepon. Nah, disini lah kesalahan saya. Saya hendak periksa hari Senin dan saya menelepon untuk mendaftar pada hari Minggu. Alhasil saya dapat nomor antrian 30!!! Hiks...

Untuk mengantisipasi bahwa nomor antrian bisa berubah karena ada aturan lain yang tidak kami tahu, saya dan suami datang sebelum jam 13.00 WIB. Nggak apa lah ya, sekalian lunch dulu lah sambil nunggu.

AMC berada di Jl. H.O.S Cokroaminoto. Bagi warga Jogja asli atau sudah lama tinggal di Jogja, mungkin tahu bahwa area AMC berdiri sekarang dahulunya adalah salah satu area kampus UMY sebelum dipusatkan di dekat ring road seperti sekarang.

Begitu memasuki Jl. H.O.S Cokroaminoto, perasaan saya membuncah dengan nostalgia. Karena tepat di seberang AMC adalah almamater saya, SMA N 1 Yogyakarta. Memori masa bersekolah flooding, satu per satu muncul. Saat upacara, belajar di kelas, bercengkrama dengan teman-teman SMA, pagi-pagi sarapan di kantin sekolah, sampai malam-malam bersama teman sekos mencari makan malam. Bahkan area AMC sendiri memiliki memori tersendiri untuk saya. Kami dulu sering nebeng menggunakan lapangan sepakbola UMY saat pelajaran olahraga. Masih teringat kami lari disuruh lari mengelilingi lapangan sepakbola entah berapa kali, pokoknya keesokan harinya kaki jadi pegal-pegal asoy. Dan jangan salah, waktu saya SMA belum ada yang namanya smartphone! Jadi kalau ingin mengerjakan tugas sekolah atau sekedar mencari hiburan lewat internet saya dan teman sekos sering ke warnetnya UMY. Iya warnet! Jadul ya, ketahuan deh usia berapa sekarang. Hahahaa...

Oke, back to cerita periksa kandungan ya. Cukup untuk nostalgianya...hehee..

Setelah mendaftar sebagai pasien baru, kami menuju ke poli kandungannya. Tetap saja nomer antrian saya 30, nggak lebih cepat karena datang lebih cepat. Lalalaaaa....

Ya sudah, pasrah.

Suami dan Kakak mencari lunch di luar area AMC. Di dekat lobby AMC ada juga beberapa kedai franchise makanan seperti bakso dan mie. Saya sendiri memutuskan untuk membeli nasi bungkus dan roti di salah satu kedai. Secara personal, lebih suka pilihan makanan di kantin Sadewa. Tapi it is just personal taste

Gedung AMC masih sangat bagus dan modern serta dilengkapi eskalator dan lift. Tapi kalau ke poli kandungan harus tetap jalan karena karena letaknya di lantai dasar.

Selintas saya lihat ada fasilitas senam hamil, hypnobirthing, dan klinik kecantikan. Kabarnya jika melahirkan di AMC, include fasilitas untuk creambath.

Interior dan furniture ruangan di poli kandungan bertema modern minimalis. Ada beberapa sofa yang cukup nyaman untuk duduk bagi ibu hamil. Disediakan juga kopi, teh, gula, dan dispenser hot cold. Jadi bisa ngopi atau ngeteh sembari menunggu.

Tapiiii....ruang tunggunya termasuk kecil untuk poli yang jumlah pasiennya banyak. Jadi jika ada 20-30 orang yang mask ruang tunggu, sudah terasa sesak meskipun ruangan ber AC.

Sewaktu saya melakukan pendaftaran di bagian pendaftaran dekat lobby, saya diberitahu bahwa dr. Upik sudah datang. Tapi kok setengah jam, satu jam, dua jam sudah berlalu dr. Upik belum datang ke poli. Ternyata beliau rapat dulu. Kalau baca-baca di web nya AMC, ternyata beliau juga menjabat sebagai head division nya poli kandungan. Makin hitzzz ya dr. Upik. Membuktikan bahwa dr. Upik keahliannya diakui dan on demand banget.

Dengan penuh kesetiaan kami pun terus menunggu...

Di sela menunggu dr. Upik datang, saya mencari ruang laktasi untuk pumping karena Baby Al tidak ikut bersama kami dan sudah lewat jam menyusuinya. Ternyata belum ada ruang laktasi di poli kandungan. Salah satu perawat meminta maaf dan mempersilakan menggunakan salah satu ruangan periksa untuk pumping.

Akhirnya dr. Upik datang dan kami pun bernafas lega. Meski harus menunggu hampir 5 jam akhirnya dipanggil juga. Salah sendiri sih, telponnya telat eh datangnya rajin amat sebelum jadwal praktik. Hehee...

Ruangan periksa di AMC ini termasuk luas dan furniturenya bagus. Kursi yang disediakan untuk pasien berbentuk sofa. Setelah membaca surat kontrol, dr. Upik kemudian mempersilakan untuk USG. Alhamdulillah kata beliau sudah bersih. Dan sudah tidak perlu konsumsi obat lagi karena saya pun suda tidak merasakan nyeri.

Tidak mau penantian selama lima jam berakhir sekejap mata, saya pun memanfaatkan waktu konsul sebaik-baiknya. Saya tanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya list sedari rumah. Tidak ingin kelewat satu pun! Hahaaa....

Total biaya periksa di AMC saat itu sekitar 140an ribu termasuk jasa dokter, pendaftaran, dan pembuatan kartu pasien yang kece. Exclude tebus resep karena sudah tidak diresepi obat maupun vitamin.

Kami pun pulang menjelang Maghrib. Ya tidak apa-apalah. Daripada jika periksa dengan dr. Upik di Sadewa ada kemungkinan pulang lebih larut. Hehee...

Sedikit tips jika hendak periksa di AMC, telepon lah jauh hari untuk mendaftar dan perkirakan waktu kedatangan yang tepat sesuai antrian. Jika dapat nomor antrian awal, maka bisa datang on time. Tapi jika dapat nomor antrian belakangan ya tidak terlalu rajin datang awal.

At last, terima kasih dr. Upik...sudah membantu persalinan kedua putri kami. Dulu persalinan Kakak dibantu beliau, dan secara tidak terduga persalinan Baby Al Ditakdirkan ditolong beliau juga. Anak ketiga nanti sama dr. Upik lagi atau beda dokter ya? Eh??? Anak ketiga??? Ngerawat kedua princess dulu kaliiiiii




Jarik: Kain Gendong Warisan Leluhur yang Multifungsi

Friday, December 9, 2016
Saya mencoba membuat artikel ini dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (klik di sini). Senang rasanya jika tema artikel ini dapat dibaca juga oleh pembaca dari negara lain, sehingga orang luar pun bisa mengenal warisan leluhur kita.

Ketika Kakak lahir, saya mulai belajar memakai gendongan sling ring dan carrier. Tetapi sampai sekarang pun, saya belum berhasil memakai kedua jenis gendongan yang saya punya tersebut dengan nyaman. Iya sih, gendongan yang saya punya bukan yang produk high end. Tapi kok banyak juga yang bisa memakai gendongan dengan kualitas yang tidak jauh beda dengan baik. Jadi, saya simpulkan bahwa ini bukan persoalan produk high end atau tidak.

Pada dasarnya saya memang bukan orang yang terampil, terutama untuk hal-hal yang berbau seni atau membutuhkan keterampilan tangan. Seperti menggambar, mewarnai, memotong, menghias, membuat tumpeng, dll. Termasuk juga memasak. Hiks.

Ketidakterampilan ini lah yang membuat saya tidak bisa menggunakan gendongan sling ring dengan baik. Saya sulit sekali memasukkan ujung gendongan dan mengikatnya. Bahkan sering saya sampai berkeringat hanya untuk mengikat gendongan.

Sampai pada suatu titik, saya berkata pada diri sendiri "Masak mau begini terus sih, harus bisa dong gendong biar gampang kalau mau jalan".

Melihat banyak tetangga yang terlihat nyaman sekali menggunakan jarik, saya memaksa diri sendiri untuk belajar menggunakan jarik. Jarik adalah selembar kain dengan motif batik (kain batik).

Saya memiliki banyak sekali jarik. Ibu membelikan saya jarik, karena orang Jawa menggunakannya salah satunya untuk menggendong.
Saya juga mendapat banyak sekali jarik dari keluarga suami. Suami saya dari Tapanuli Selatan. Sebuah tradisi di sana memberikan kain jarik sebagai hadiah pada keluarga yang habis melahirkan. Jadi saya mendapat jarik dari mertua, kakak ipar, nenek, bou, dll.

Awalnya saya tidak terpikir untuk belajar menggunakan jarik. Waktu itu saya pikir "Ah pasti lebih gampang gendongan modern". Ada teman saya bahkan yang bilang tidak mau memakai jarik karena kaya simbok-simbok (nenek-nenek). Tapi saya lihat tetangga-tetangga, dari yang sudah nenek-nenek sampai ibu muda, menggunakannya dengan mantap dan nyaman. Tampaknya mudah sekali memakainya. Bahkan tidak sedikit yang menggendong anaknya menggunakan jarik saat mengendari sepeda atau sepeda motor.

Jadi lah saya mencobanya....

Dan voila...setelah berkali-kali mencoba, akhirnya saya merasa nyaman memakai jarik. Awalnya saya juga sulit mengikat ujung kain ke belakang leher. Tapi akhirnya bisa juga. Saya merasa jarik lebih simple dan mantap ketika dipakai. Saat Kakak masih belum bisa jalan, saya selalu membawa jarik saat bepergian. Sampai sekarang pun saya memakai jarik untuk menggendong Baby Al.

Jarik tidak hanya digunakan untuk menggendong. Jarik juga digunakan untuk bawahan kebaya, selendang, bedong, dan menggendong barang. Jarik biasanya memiliki motif berbeda sesuai dengan fungsinya. Jarik untuk menggendong memiliki motif yang khas.


Jarik dari Tapsel

Jarik yang saya dapat dari mertua dan keluarga di Tapsel memang memiliki warna yang lebih cerah dan motif bervariasi. Di ujungnya juga ada hiasan rumbai-rumbai. Menurut mertua, sebenarnya jarik ini juga diproduksi di Jawa. "Dari Jawa Kembali ke Jawa" kata beliau. Tapi saya selalu lupa membaca tag produsennya. Mungkin jarik ini adalah batik Pekalongan atau Cirebon, tapi ini juga tebakan ngawur saya. Hehe


Menggendong dengan jarik


Jarik untuk pakaian

Jarik untuk dipakai sebagai pakaian dinamakan tapih. Motifnya banyak sekali tergantung asal, pemakai, fungsi, acara, dll. Saya sendiri sih tidak hafal. Duh malu ya, budaya bangsa sendiri tapi tidak mengenal.


Ketika digunakan sebagai pakaian (gambar dari sini)


Nah kalau ini motif khas jarik untuk menggendong di budaya Jawa (gambar dari sini)


Jarik untuk bedong

Jarik untuk bedong biasanya tidak seluas jarik lainnya. Memakai jarik jenis ini juga mudah untuk membedong dan mudah untuk dicuci, terutama jika kena poop bayi. Tetapi menurut saya untuk membedong kurang lebar dan tebal, karena fungsi membedong adalah memberi kehangatan untuk bayi.

Kita bisa kok menggendong, membedong, atau membawa barang dengan tapih (yang sebenarnya untuk dipakai sebagai pakaian). Kecuali untuk motif-motif tertentu. Misalnya motif untuk pesta pernikahan, bangsawan, upacara adat, dll.

Untuk mamas yang tidak terlalu suka motif batik tetapi ingin mencoba menggunakan jarik, sekarang ada kok gendongan sejenis jarik dengan motif yang cute. Saya pernah melihat dijual di Gerai Laktasi. Seperti ini motifnya:

Sampai saat ini sih saya sudah nyaman memakai jarik tradisional. Tapi juga akan sangat menerima kalau diberi Ergo, Manduca, Boba, atau i Angel. Hehe

Jarik: Indonesian Heritage Sling

Thursday, December 8, 2016
I tried to write this article in both Bahasa and English. I would be happy if some reader from other countries also read and get to know our Indonesia traditional sling.

When my first daughter born I tried to be comfortable using sling ring and carrier. But how many time I try, I just can not. Yes, my sling ring and carrier are not that high end products. But I see many mother can wear their baby skillfully using the same products. Hence, I think it is not a feature matter.

Basically, I am not a skilled person in every activity required hand skill such as drawing, decorating, cutting, folding, etc. And yes.....cooking also.

Thus, I find it difficult to wrap baby comfortably and insert the tip of the sling to its ring. It is a hard task for me, really.

On my despair, I enforced myself to try jarik, a sheet of fabric with traditional batik pattern. Cause I got a lot of jarik. I got from my mother, cause jarik is common sling in Java.

And I also got more jarik from my mother in law and family from my husband side. My husband is come from Tapanuli, North Sumatra. And it is a tradition in Tapanuli family to give jarik as gift for newborn baby. So I get one from my mother in law, one from grandmother, one from the elder aunty, and the list goes on...

At first I thought jarik is for old generation. Some of my friend said that they will not use jarik cause it is so old fashioned. But I see many women in Jogja use it with ease. From grandmother to new mom, use it everywhere. Even jarik used to carry children when parents ride motorcycle or bicycle.

So I gave it a try....

And voila....after so many attempts, I found jarik is comfortable and fit for me to carry my baby. At first I faced difficulty to tie up the tip of jarik to its other side behind my neck. But practice makes perfect. Finally I can tied it up. And I found jarik is more simple and firm. Therefore I always use jarik wherever I go with my two daughter.

Jarik is not only used for babywearing. Javanesse also use jarik as attire in traditional costume, swaddle, and to carry stuff. Jarik usually has different pattern based on it purpose. Baby wearing jarik has its unique pattern. Altough they have different pattern for different purpose, we still can subtitute them in using. Except for certain pattern, such as jarik for wedding or royal family. For example, we can use tapih, jarik for attire, to carry baby or stuff and also to swaddle baby.

Jarik for sling (picture from here)


Jarik for attire (usually called tapih). It has so...so..so...many patterns. Depends on its origin, purpose, occasion, user, etc. Don't make me to list the pattern, cause I have no knowledge about it. Zero. Shame on me.


When used as attire (picture from here)


Jarik for swadlling baby

Jarik for swaddle is more narrow than for other purpose. I found it also easy to swaddle baby with it, plus...it easy to wash if baby poop in it. But, because main purpose of swaddling baby is to give them warm, the narrow version I think is less preferable. It needed to be improved in thickness and length wise.


Different pattern of jarik from Tapanuli

Jarik I got from Tapanuli is more colourful and has different drawing in it. And has ornament in each tips. My mother in law said, actually they are also from Java. "From Java, back to Java" she said. I am not sure where it is from. I always forget to read the tags before I remove them. But my guess is from Pekalongan or Cirebon (but I also not sure about my guess, so it is very not reliable).


My mother in law wearing baby using jarik 


Jarik to carry stuff (picture from here)

For those mom who not very fond of its traditional pattern, maybe can try the modern version. I found it in Gerai Laktasi (picture is in below). I think, it basically same with jarik but with cute pattern and maybe from different kind of cotton. But I didn't try it yet.



So far I feel sufficient with my traditional jarik. I have too many jarik to try the modern sling one. But I always do not mind to receive Ergo or Manduca. Or i Angel. Hehe

[Review] Spectra Handy Plus

Thursday, December 1, 2016
Tekad memberikan ASI eksklusif untuk Baby Al dan perjuangan melawan engorgement, menjadikan breastfeeding journey Baby Al tidak lepas dari pompa memompa ASI. Sebenarnya saya sudah cocok memakai Unimom Mezzo yang telah menemani perjalanan ASI Kakak. Tetapi karena diafragmanya bermasalah, seperti yang saya ceritakan di sini, mau tak mau saya melirik pompa ASI lain.

Sebenarnya bisa sih beli diafragma baru untuk menggantikan yang rusak. Atau belajar memerah dengan tangan seperti yang diajarkan di sini. Tapi hasrat untuk memenuhi rasa penasaran tenyata akhirnya yang menang. Hehe...bilang saja ingin beli pompa asi baru .

Awalnya pengen banget beli Avent Manual Comfort. Tapi teracuni godaan dari Mamak Ri untuk membeli Haakaa Silicone BP. Padahal waktu itu sedang ada promo tukar tambah dari Avent. Bye bye deh Avent...

Haakaa BP rencananya akan saya gunakan sebagai milksaver dan dibawa saat bepergian. So perlu beli juga pompa yang akan digunakan untuk memompa secara konvensional. Duh...ada aja ya alasan yang ditemukan untuk beli pompa baru .

Pilihan jatuh ke Spectra Handy Plus, pompa asi manual keluaran Spectra. Pilihan tersebut hasil meditasi dan membaca review dari sini.

Mengapa Spectra?

Karena sudah pernah pakai Unimom Mezzo. Hehe...nggak mutu ya alasannya. Specra Handy Plus dan Unimom Mezzo konon merupakan KW dari Avent Manual. Hasil googling menunjukkan bahwa hisapan Spectra manual termasuk kuat, bahkan setara dengan pompa elektrik kualitas high end. Menurut artikel ini, hisapan Spectra manual bisa mencapai 350mmHg. Wah cocok nih untuk mengatasi engogerment.

Spectra Handy Plus saya beli di olshop Cuddlepie Baby Shop dengan harga 265 ribu. Berikut paketan yang kita terima saat membeli Spectra manual:

Sebenarnya termasuk juga botol Spectra wideneck, nipple, tutup botol, dan lid botol sebagai satu paket pembelian tetapi terlanjur sudah digunakan dan masuk freezer.

Sewaktu paket datang saya cukup terkejut karena kotak bungkusnya kecil. Lebih kecil dari Unimom Mezzo. Tapi ternyata besar alatnya sama. Seperti ini perbandingan antara Spectra dan Unimom:

Duh beda ya warna BP baru dan yang sudah lama 

Setelah dicuci dan steril, cus saya langsung coba. Belajar dari pengalaman diafragma Mezzo yang mangap akibat saya sterilkan, tidak semua part saya sterilkan meski aman jika mau dilakukan. Silikon dan diafragma cukup saya siram dengan air panas.

Berdasar pengalaman saya, berikut kelebihan dan kekurangan Spectra manual:

+ Hisapannya kuat, tapi tidak menyakitkan. Agak kaget saat pertama mencoba, karena biasa menggunakan Mezzo yang tarikannya lembut. Kalau Mezzo tuasnya diengkol dengan kekuatan penuh pun hisapannya nggak terasa. Kalau Spectra tuasnya cukup diengkol dengan "santai", tidak perlu dengan banyak tenaga.

+ Cukup bisa mengosongkan PD. Setelah selesai memompa, bagian bengkak yang nggrenjel (apa ya bahasa Indonesianya, yang saya maksud bagian yang keras dan ditekan sakit) bisa lemes dan hilang. Hasil perahannya juga lebih banyak dibandingkan menggunakan Mezzo. Bisa beda 30-40ml kl di saya (bisa beda antar pengguna). Mungkin berhubungan dengan hisapannya yang kuat. Kosong atau tidaknya PD parameternya tidak bisa ditunjukkan dari hasil perahan atau kempesnya PD. Tapi bagi saya, dapat membantu menghilangkan engogerment sudah oke sekali.

Hasil perahan dengan Spectra

+ Silikon messengernya lebih rapat sehingga tidak ASI yang merembes keluar. Jika ada ASI yang merembes, berarti kurang rapat dalam memasangkan silikon. ASI yang menyangkut di silikon petal nya pun sedikit, tidak seperti Unimom yang cukup banyak ASI menyangkut.

+ Sparepart-nya mudah ditemukan. Bisa dibeli di olshop terkenal macam Gerai Laktasi dan Asibayi. Di olshop yang lain saya kira juga ada.

- Saya kok merasa tuasnya lebih keras dari Mezzo. Kalau Mezzo berasa lebih empuk. Tapi karena hisapan Spectra lebih kuat, meski keras energi yang kita keluarkan juga less. Dua-duanya sih sama-sama ada resiko pegel, namanya juga pompa manual. Tapi bagi saya yang berbadan kecil dan bertangan mungil (tsaah....), tuas Mezzo lebih ergonomis karena bentuknya lebih kecil. Pas saja ketika dipakai.

- Menurut saya corong dan silikonnya lebih cocok untuk mamas dengan PD kecil. Entah mengapa meski diameternya sama ketika saya bandingkan dengan Mezzo, tapi angle silikon Spectra lebih rapat dan ketat ketika dipasang di PD.

Overall, saya merasa cocok menggunakan Spectra manual. Sesuai dengan kebutuhan dan aktivitas saya yang banyak di rumah. Kalau dibandingkan dengan Mezzo, sama lah tergantung selera. Apakah lebih senang yang hisapan kuat atau lembut, tuas besar atau kecil. Kalau saya saat ini lebih memilih Spectra karena hisapannya lebih mantap dan less wasted milk.

Selama ini Spectra saya pakai bergantian dengan Haakaa BP, karena Haakaa juga cukup efektif untuk memompa. Good value lah kalau saya bilang. Harga terjangkau, performanya oke.

Once again, pompa asi adalah produk yang cocok-cocokan. Bisa cocok di saya, belum tentu cocok di mamas yang lain. Yang paling penting adalah cukup cairan, rasa bahagia, dan rileks selama memompa. Kalau bisa sebelum memompa bisa dikompres dengan air hangat agar memperlancar saluran ASI. Untuk aspek yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli pompa, bisa baca artikel ini yang lebih menyeluruh.

Verdict
4 out of 5