Top Social

Jarik: Kain Gendong Warisan Leluhur yang Multifungsi

Friday, December 9, 2016
Saya mencoba membuat artikel ini dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (klik di sini). Senang rasanya jika tema artikel ini dapat dibaca juga oleh pembaca dari negara lain, sehingga orang luar pun bisa mengenal warisan leluhur kita.

Ketika Kakak lahir, saya mulai belajar memakai gendongan sling ring dan carrier. Tetapi sampai sekarang pun, saya belum berhasil memakai kedua jenis gendongan yang saya punya tersebut dengan nyaman. Iya sih, gendongan yang saya punya bukan yang produk high end. Tapi kok banyak juga yang bisa memakai gendongan dengan kualitas yang tidak jauh beda dengan baik. Jadi, saya simpulkan bahwa ini bukan persoalan produk high end atau tidak.

Pada dasarnya saya memang bukan orang yang terampil, terutama untuk hal-hal yang berbau seni atau membutuhkan keterampilan tangan. Seperti menggambar, mewarnai, memotong, menghias, membuat tumpeng, dll. Termasuk juga memasak. Hiks.

Ketidakterampilan ini lah yang membuat saya tidak bisa menggunakan gendongan sling ring dengan baik. Saya sulit sekali memasukkan ujung gendongan dan mengikatnya. Bahkan sering saya sampai berkeringat hanya untuk mengikat gendongan.

Sampai pada suatu titik, saya berkata pada diri sendiri "Masak mau begini terus sih, harus bisa dong gendong biar gampang kalau mau jalan".

Melihat banyak tetangga yang terlihat nyaman sekali menggunakan jarik, saya memaksa diri sendiri untuk belajar menggunakan jarik. Jarik adalah selembar kain dengan motif batik (kain batik).

Saya memiliki banyak sekali jarik. Ibu membelikan saya jarik, karena orang Jawa menggunakannya salah satunya untuk menggendong.
Saya juga mendapat banyak sekali jarik dari keluarga suami. Suami saya dari Tapanuli Selatan. Sebuah tradisi di sana memberikan kain jarik sebagai hadiah pada keluarga yang habis melahirkan. Jadi saya mendapat jarik dari mertua, kakak ipar, nenek, bou, dll.

Awalnya saya tidak terpikir untuk belajar menggunakan jarik. Waktu itu saya pikir "Ah pasti lebih gampang gendongan modern". Ada teman saya bahkan yang bilang tidak mau memakai jarik karena kaya simbok-simbok (nenek-nenek). Tapi saya lihat tetangga-tetangga, dari yang sudah nenek-nenek sampai ibu muda, menggunakannya dengan mantap dan nyaman. Tampaknya mudah sekali memakainya. Bahkan tidak sedikit yang menggendong anaknya menggunakan jarik saat mengendari sepeda atau sepeda motor.

Jadi lah saya mencobanya....

Dan voila...setelah berkali-kali mencoba, akhirnya saya merasa nyaman memakai jarik. Awalnya saya juga sulit mengikat ujung kain ke belakang leher. Tapi akhirnya bisa juga. Saya merasa jarik lebih simple dan mantap ketika dipakai. Saat Kakak masih belum bisa jalan, saya selalu membawa jarik saat bepergian. Sampai sekarang pun saya memakai jarik untuk menggendong Baby Al.

Jarik tidak hanya digunakan untuk menggendong. Jarik juga digunakan untuk bawahan kebaya, selendang, bedong, dan menggendong barang. Jarik biasanya memiliki motif berbeda sesuai dengan fungsinya. Jarik untuk menggendong memiliki motif yang khas.


Jarik dari Tapsel

Jarik yang saya dapat dari mertua dan keluarga di Tapsel memang memiliki warna yang lebih cerah dan motif bervariasi. Di ujungnya juga ada hiasan rumbai-rumbai. Menurut mertua, sebenarnya jarik ini juga diproduksi di Jawa. "Dari Jawa Kembali ke Jawa" kata beliau. Tapi saya selalu lupa membaca tag produsennya. Mungkin jarik ini adalah batik Pekalongan atau Cirebon, tapi ini juga tebakan ngawur saya. Hehe


Menggendong dengan jarik


Jarik untuk pakaian

Jarik untuk dipakai sebagai pakaian dinamakan tapih. Motifnya banyak sekali tergantung asal, pemakai, fungsi, acara, dll. Saya sendiri sih tidak hafal. Duh malu ya, budaya bangsa sendiri tapi tidak mengenal.


Ketika digunakan sebagai pakaian (gambar dari sini)


Nah kalau ini motif khas jarik untuk menggendong di budaya Jawa (gambar dari sini)


Jarik untuk bedong

Jarik untuk bedong biasanya tidak seluas jarik lainnya. Memakai jarik jenis ini juga mudah untuk membedong dan mudah untuk dicuci, terutama jika kena poop bayi. Tetapi menurut saya untuk membedong kurang lebar dan tebal, karena fungsi membedong adalah memberi kehangatan untuk bayi.

Kita bisa kok menggendong, membedong, atau membawa barang dengan tapih (yang sebenarnya untuk dipakai sebagai pakaian). Kecuali untuk motif-motif tertentu. Misalnya motif untuk pesta pernikahan, bangsawan, upacara adat, dll.

Untuk mamas yang tidak terlalu suka motif batik tetapi ingin mencoba menggunakan jarik, sekarang ada kok gendongan sejenis jarik dengan motif yang cute. Saya pernah melihat dijual di Gerai Laktasi. Seperti ini motifnya:

Sampai saat ini sih saya sudah nyaman memakai jarik tradisional. Tapi juga akan sangat menerima kalau diberi Ergo, Manduca, Boba, atau i Angel. Hehe
1 comment on "Jarik: Kain Gendong Warisan Leluhur yang Multifungsi"
  1. Ga tertarik coba gendongan yang sejenis dengan ergobaby tapi buatan dalam negeri mbak?harga terjangkau lah dibaanding kalo beli gendongan produk luar tapi kualitas jgn ragu. yuk diintip di Ig ku http://www.instagram.com/junitasortamatumona/.
    makasih

    ReplyDelete