Top Social

Kuret Pasca Melahirkan

Monday, December 26, 2016
Sesaat setelah melahirkan Baby Al, seperti saya kisahkan di sini, beberapa bidan mengecek kondisi saya. Saat itu saya masih di dalam ruang bersalin dan menjalani proses IMD.

Saya sangat kaget dan tidak menduga saat diberi tahu bahwa kemungkinan ada bagian plasenta yang tertinggal di rahim yang tak kunjung tuntas dengan proses pembersihan biasa. Menurut beliau, plasenta yang tertinggal tersebut kemungkinan pecah menjadi bagian kecil-kecil. Sambil menunjukkan contoh plasenta yang baru saja dibersihkan, beliau berkata "Ini loh Bu, setiap saya bersihkan masih aja ada plasenta nya kecil-kecil". Padahal saya sudah hampir pingsan melihat contoh plasenta yang ditunjukkan. Pada dasarnya saya memang ngeri jika melihat darah dalam jumlah yang banyak. Duh, siapa sih yang nggak? Para tenaga medis kali ya, karena sudah tergembleng dengan pengalaman.

Oke...saya mencoba untuk tetap tenang meski mulai muncul khawatir. Lalu bidan menjelaskan "Kita observasi dulu aja ya Bu. Obat yang diresepkan dr. Upik kita berikan dulu. Semoga bisa luruh dan keluar tuntas dengan sendirinya. Nanti siang coba di USG untuk memastikan".

Saya melahirkan pagi hari pukul 05.15 WIB. Sekitar pukul 09.00 WIB saya kembali ke ruang inap. Dicek kontraksi perut lagi oleh bidan, beliau bilang kontraksi bagus semoga perkembangannya juga bagus. Lalu saya diminta untuk istirahat.

Setelah ganti baju dan bersih-bersih, saya menghabiskan sarapan yang sudah disiapkan. Tapi meskipun sudah makan, ngemil, dan banyak minum, tetap saja rasanya lemas terus. Tak bertenaga. Ya iyalah....habis mengeluarkan tenaga dan darah yang segitu banyaknya.

Saya pun terlelap. Bahkan setelah tidur, rasanya masih lemas. Alhamdulillah Kakak sangat kooperatif. Bahkan terus-terusan minta menengok adiknya. Saya saja belum bertemu lagi dengan Baby Al semenjak dari ruang bersalin.

Sekitar jam 12.00 WIB, perawat menjemput saya dan mengantar dengan kursi roda ke ruang dr. Ariesta. Hari itu dr. Upik sedang keluar kota mengisi workshop sehingga saya dipantau oleh dr. Ariesta.

Sebelum di USG, saya diperiksa secara fisik dulu oleh dr. Ariesta. Dicek kontraksi perut. Beliau mengatakan kondisi perut sudah turun (once again, saya tidak paham dengan istilah tersebut, sepertinya suatu indikasi bahwa ada perkembangan yang baik) dan kontraksi juga bagus.

Tetapi hasil USG menunjukkan bahwa memang masih ada jaringan plasenta yang tertinggal. Serrr....dalam hati saya berkata "what??? Pernjuangan hari ini belum berakhir ternyata".

Dr. Ariesta lalu menginstruksikan untuk berpuasa mulai jam saat itu dan sore harinya harus segera dikuret. Agar tuntas, semua bagian plasenta keluar. Jika tidak, ditakutkan terjadi pendarahan. Dengan obat "saja", ditakutkan tidak langsung tuntas.

Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut saya adalah...

"Dok, waktu dikuret nanti dibius atau tidak?"

Yap... i have not enough courage untuk terbaring lagi di meja persalinan dan bersakit-sakit lagi untuk hari itu.

Leganya saat beliau menjawab "Ya dibius dong Bu, tega banget kalau tidak dibius".

Benar saja, saat saya masuk ruang persalinan (lagi), dokter yang bertemu saya sebelum dr. Ariesta adalah dokter anastesi.
Sewaktu menunggu rasanya sudah ngeri melihat alat-alat yang hendak dipakai. Apalagi mendengar suara gunting diletakkan. Tringggg....seperti di drama-drama medis Korea.

Dokter anastesi bertanya ada tidaknya alergi obat. Alhamdulillah saya tidak mengalami alergi obat sejauh ini. Proses selanjutnya beliau menyuntikkan anastesi ke saluran infus. Saya mengerjapkan mata beberapa kali karena tidak merasakan apa-apa.

Sesaat kemudian mata saya berat dan tertidur dengan proses yang sangat cepat.

Tahu-tahu saya terbangun sendirian. Agak horor ya, seperti di film-film gitu. Lebai ah...

Saya tengok kanan kiri mencoba memproses apa yang terjadi. Kemudian baru terlintas, "kayaknya sudah selesai ya kuretnya".

Saya lalu memanggil perawat yang berjaga. "Mbak, sudah selesai ya?". "Iya Bu. Ibu ada pusing atau mual?". Alhamdulillah saya tidak mengalaminya. Lalu saya bertanya "Habis ini boleh makan?". Sungguh rasanya lapaaar sekali. Lemes masih ada, mulai siang disuruh puasa. Kata beliau, jika tidak mual maka boleh untuk segera makan setelah kembali ke kamar.

Sesaat kemudian, perawat memanggil suami masuk dan menyerahkan kendi yang berisi plasenta yang tertinggal.
Jadi proses kuret itu....seperti tidak terjadi apa-apa. Jika dibius. Hehee... Tentunya ada rasa sedikit nyeri tapi tidak terlalu sakit. Dr. Upik juga meresepkan anti nyeri. 

Pengalaman saya, obat anti nyeri ini harus tepat waktu diminum sesuai ketentuan. Kalau telat, memang nyeri-nyerinya terasa. Waktu itu sahabat saya menjenguk dan saya lupa meminum anti nyeri pada jam nya.

Selama proses menuju kuret, saya bertanya pada dokter dan perawat, kenapa plasenta bisa tertinggal? Yang saya tangkap dari penjelasan beliau-beliau adalah: tipe melekat plasenta bisa berbeda-beda pada tiap kehamilan. Kebetulan ada bagian plasenta yang sangat menempel kuat di rahim saya waktu itu. Dan tipe pelekatan plasenta tersebut tidak dapat diprediksi faktor-faktornya. Apakah makanan, kegiatan selama hamil, atau yang lain, belum diketahui faktor yang mempengaruhinya.

Alhamdulillah, saya bersyukur sekali ditangani oleh tenaga medis yang teliti sehingga bisa diprevensi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Mungkin plasenta yang masih tertinggal tapi tidak terdeteksi, adalah salah satu penyebab pendarahan atau kematian ibu setelah melahirkan. Karena secara tampak luar, lewat pemeriksaan fisik saja, seperti sudah tidak ada masalah. Baru ketahuan setelah lewat USG.

Hikmah yang saya dapatkan adalah kita memang harus banyak bersyukur dan berterima kasih dengan perkembangan ilmu dan teknologi di semua bidang. Termasuk para profesional yang dengan lelah letih tetap bekerja mendedikasikan waktu dan tenaga untuk para pasien.
Post Comment
Post a Comment