Top Social

Image Slider

#SpeakUp Bersama Melawan Cyberbullying

Tuesday, October 31, 2017
Kayu dan batu bisa mematahkan tulangku, (tetapi kata-kata tidak dapat menyakitiku)”
(Sticks and stones may break my bones, (but words can never hurt me))1
(Sajak Anak-anak dari Inggris)

Meski bukan merupakan hasil karya budaya Indonesia, tetapi mari sejenak kita renungkan kutipan sajak di atas. Sajak tersebut merupakan cara orang tua di Inggris untuk menasihati anak-anak agar menghiraukan ejekan yang dilontarkan kepada mereka. Masalah ejekan, hinaan, makian, atau julukan tampaknya seperti hal “sepele”. Perspektif yang masih umum digunakan saat ini adalah masalah akan selesai jika pihak yang menjadi korban bersabar, tidak mendengarkan, atau introspeksi diri.

Tetapi bagaimana jika perlakuan tersebut terus-menerus didapatkan? Bisakah terus-menerus menghiraukan? Apalagi di era digital sekarang ini, di mana kata-kata  ejekan, hinaan, merendahkan, atau makian tidak hanya bisa dilontarkan secara langsung saat bertatap muka. Tetapi bisa juga dilontarkan melalui berbagai media komunikasi seperti SMS, surat elektronik, grup chat, media sosial, web, dll. Kemudahan akses internet membuat hampir semua lapisan mampu menggunakan media-media komunikasi tersebut.

Akses informasi dan komunikasi yang luar biasa

Anonimitas di dunia maya menjadi salah satu faktor yang membuat orang lebih mudah dan berani untuk merendahkan orang lain. Terdapat  42% dari remaja dan anak-anak pengguna internet di Indonesia yang menyadari adanya resiko direndahkan di dunia maya, 13% diantaranya mengaku menjadi korban penghinaan yang dilakukan temannya. Jumlah faktual dari presentase tersebut dapat diterjemahkan menjadi ribuan individu. Penghinaan yang mereka terima diantaranya adalah julukan yang tidak menyenangkan, diolok-olok karena profesi orang tua, diolok-olok karena penampilan fisiknya (body shaming), dan bahkan diancam secara online (Razak, 2014).

Wajarkah jika kita sedih, marah, terluka, atau tersakiti jika mendapat perlakuan tersebut? Ataukah kita adalah orang yang lemah jika merasakannya?

Tidak! Kita bukan orang yang lemah jika merasakan sedih, marah, terluka, atau tersakiti.

Individu yang melontarkan kata-kata negatif baik secara langsung maupun online, sesungguhnya sedang melakukan tindakan kekerasan (bullying). Suatu tindakan dapat dikategorikan sebagai tindakan bullying jika: 1) merupakan tindakan agresif, baik secara fisik dan verbal (kata-kata); 2) dilakukan berulang-ulang; 3) korban tidak mampu menghentikan tindakan agresif yang ditujukan padanya (Beran&Shapiro, 2005).

Contoh body shaming, julukan yang merendahkan, hinaan, dan ajakan untuk melakukan bullying di media sosial

Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Mellor (dalam Setyawan, 2014) mengaktegorikan bullying ke dalam: 1) bullying fisik yaitu penyerangan fisik yang dilakukan langsung pada korban seperti menendang, mendorong, memukul, meludah, mencekik, dan mengancam dengan benda; 2) bullying verbal yaitu penggunaan bahasa untuk menyakiti seperti mengejek, body shaming, memberi julukan, menghina, meneror, dan melecehkan;  3) bullying relasi sosial meliputi isolasi sosial (pengucilan), penolakan sosial, menyebarkan gosip, menyebarkan cerita bohong/fitnah, mempermalukan, dan mengajak untuk tidak menyukai seseorang; 4) bullying elektronik (cyber bullying) yaitu bentuk bullying yang dilakukan menggunakan tulisan, gambar, dan video melalui media elektronik untuk menyakiti, menakuti, atau mengintimidasi.

Cyberbullying tidak memberikan “ruang” bagi korban untuk menghindari pelaku. Korban akan mendapat bullying selama 24 jam sehari. Stres yang dirasakan korban akan semakin bertambah jika konten yang dijadikan sumber untuk bullying pada dirinya disebarluaskan (viral) (Cahyani, 2017).

Cyberbullying dapat menyebabkan depresi dan bunuh diri
(Gambar dari sini)

Pemakaian kata “bullying” sendiri masih dianggap terlalu ringan dan bahkan sering dijadikan bahan candaan. Tetapi, tahukah bahwa bullying memiliki dampak yang sangat serius dan berbahaya? Tidak hanya pada korban, tetapi juga pada pelaku dan saksi. Berikut dampak bullying yang sudah ditemukan dalam penelitian:
1)   Dampak pada korban yaitu menurunnya prestasi, turunnya self-esteem (harga diri), kecemasan, depresi, dan bahkan bunuh diri (Smith, Cousins, & Stewart, 2005). Dampak yang dialami korban tidak selalu menunjukkan korban memiliki kepribadian yang lemah. Individu dengan sifat yang percaya diri dan memiliki ketahanan mental yang baik pun bisa mengalaminya, hinaan-hinaan yang diterima bisa mengkristal dalam diri korban dan mempengaruhi aspek-aspek kehidupannya. Dampak bullying verbal baik dalam dunia nyata maupun maya juga bisa lebih berbahaya, meski tidak terlihat secara fisik. Korban sering tidak menyadari bahwa dirinya adalah korban dan justru mempercaya bahwa konten kalimat yang dilontarkan padanya adalah benar sehingga dirinya sendiri lah bersalah.
2)  Dampak pada pelaku yaitu cenderung akan melakukan tindakan agresif atau antisosial akibat kesenangan atau status selama melakukan bullying. Pelaku bullying juga cenderung akan memiliki keturunan yang melakukan bullying (Smith, Cousins, & Stewart, 2005; Farrington, 1993). 
3)   Dampak pada saksi yaitu mengalami perasaan tidak menyenangkan dan ketakutan bisa menjadi target yang selanjutnya (Setyawan, 2014).

Saksi, Kunci Penting dalam Peristiwa Cyberbullying

Dalam suatu peristiwa bullying pada umumnya, ada istilah “Segitiga Bullying”, merujuk adanya tiga peranan dalam bullying yaitu pelaku, korban, dan saksi (bystander). Pada kasus cyberbullying, saksi dapat berasal dari teman, keluarga, sosok yang familiar, atau bahkan orang asing (stranger). Sejalan makin canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, kita dengan mudah menemukan bentuk cyberbullying di media sosial korban. Bahkan tidak jarang kita menemukan suatu grup atau akun hater (pembenci) mulai dari masyarakat sipil biasa, public figure, hingga tokoh.

Respon saksi bisa macam-macam tergantung dengan persepsi saksi terhadap konten yang dilihatnya. Ada yang acuh, mengabaikan, takut, ikut sedih, menertawakan, atau justru ikut-ikutan (Cahyani, 2017). Setelah mengetahui bahaya cyberbullying yang dapat dialami korban, tentu ikut-ikutan dan #DiamBukanPilihan kita. Tidak ada seorang pun yang memilih menjadi korban. Bahkan kekurangan atau kesalahan yang dimiliki seseorang, tidak kemudian menjadikannya layak untuk menjadi korban. Bukan pelaku yang berhak menilai atau “menghakimi” korban, apalagi jika dilakukan beramai-ramai, anonim, dan terencana.  

Jangan menjadi acuh karena merasa peristiwa cyberbullying tersebut bukan urusan kita karena terjadi pada diri orang lain. Coba lah kita empati pada korban dan keluarganya. Korban sendiri tentu membutuhkan keberanian untuk melawan pelaku dan peristiwa yang menimpanya. Ulurkan tangan kita meski hanya sekedar kata-kata dukungan.

Apa yang bisa dilakukan oleh saksi?

Langkah mudah yang bisa dilakukan saksi adalah ikut melaporkan (report) akun pelaku atau grup pelaku ke pengelola start up, aplikasi, situs, atau laman. Setiap start up, situs, aplikasi, laman, dll. yang profesional pasti sudah dilengkapi layanan untuk menerima laporan tindakan pelanggaran terhadap peraturan. Cyberbullying merupakan salah satu bentuk pelanggaran hampir di semua bentuk situs atau media berbasis online. Pihak pengelola biasanya sudah menyediakan daftar yang bisa kita isi jenis pelanggaran yang akan kita laporkan. Pengelola akan menindaklanjuti laporan pengguna dengan melakukan review terhadap akun pelaku sehingga bisa diambil keputusan untuk ditutup atau tindakan lainnya.

Jika cyberbullying terjadi pada orang yang kita kenal dan masih dalam lingkungan yang sama, kita bisa melaporkan kejadian yang dialaminya pada pengampu jabatan yang berwenang seperti guru jika di sekolah, atasan jika di tempat kerja, dosen atau dekan jika di kampus, dsb.

Jika cyberbullying yang ditemukan sudah pada taraf berbahaya atau mengancam nyawa dan kesejahteraan korban, kita bisa memberi masukan kepada korban untuk melaporkan atau sebagai saksi berinisiatif untuk melaporkan langsung kepada yang berwajib. Kumpulkan terlebih dahulu bukti-bukti yang seperti screenchot, riwayat atau rekaman percakapan, foto atau video yang digunakan, dll.

Sebenarnya bukan hanya jenis tindakan yang mengancam, tindakan cyberbullying yang menghina atau merendahkan pun bisa dipidanakan. Indonesia sudah memiliki dasar hukum yang bisa menjerat tindakan cyberbullying yaitu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Lebih khususnya tercantum pada Pasal 27 ayat (3) UU ITE yang berbunyi:

Setiap orang dengan sengaja atau tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Infromasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.
Hukuman denda pelanggaran pasal tersebut adalah hukuman pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak 1 miliar rupiah. Pelaporan dapat diadukan melalui Kontak Pengaduan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI atau Kantor Kepolisian terdekat (Satyawati & Purwani, 2012).

Perlindungan Saksi

Menjadi seorang saksi pasti memiliki keresahan terkait dengan keselamatan diri jika ikut terlibat. Hal tersebut wajar kita rasakan karena berhubungan dengan keselamatan dan kesejahteraan diri dan keluarga. Indonesia memiliki Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), dimana saksi dan korban bisa meminta perlindungan. Bentuk perlindungan yang diberikan oleh LPSK antara lain adalah (Shopia, 2012) :
1)      Perlindungan fisik dan psikis berupa pengamanan, pengawalan, pemindahan ke tempat yang aman, bantuan medis, pemberian identitas baru, keringanan untuk tidak hadir langsung di sidang, dan bantuan rehabilitasi psiko-sosial.
2)      Perlindungan hukum berupa tidak dapat dituntutnya saksi, korban, dan pelapor sesuai dengan Pasal 10 UU13/2006.
3)      Pemenuhan hak prosedural saksi yaitu berupa pendampingan, pemberian informasi terkait kasus, nasihat hukum, dan akomodasi selama kasus berlangsung.

Kita bisa menghubungi LPSK di kantornya yaitu Jl. Raya Bogor Km 24 Nomor 47-49, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur 13750 dengan nomor telepon (021) 29681551 atau email di lpsk_ri@lpsk.go.id. Dengan adanya LPSK ini, semoga semakin mendorong keberanian para korban dan saksi untuk memperjuangkan hak asasinya untuk memperoleh rasa aman dan mempertahankan kesejahteraannya.

Mengingat bahaya dari cyberbullying bagi para korban, kita bisa mengantisipasinya dengan membiasakan diri untuk berkata baik, meneladankan dan mengajari anak-anak untuk berempati serta berbuat baik. Biasakan pula untuk membaca dan berpikir terlebih dahulu sebelum jari kita menuliskan dan meng-klik suatu konten, komentar foto, atau video di dunia maya. Tempatkan diri kita di tempat orang yang akan terkena dampak dari tindakan kita di dunia maya. Jika ingin memberikan kritik dan saran, berikan masukan secara konstruktif tanpa unsur yang merendahkan. 

Berikan #KomenBaik & #MasukanKonstruktif
Think before Write and Click


Speak up our mind, #DiamBukanPilihan. Jangan ragu untuk membela korban cyberbullying. Karena tidak hanya kayu, batu, atau benda tajam yang dapat melukai kita. Words do have power, words do matter.


Daftar Pustaka

Beran, T., & Shapiro, B. (2005). Evaluation of an anti-bullying program: Student reports of knowledge
and confidence to manage bullying
. Canadian Journal of Education: 28 (4), 700–717.


Razak, N. (2014). Studi Terakhir: Kebanyakan Anak Indonesia sudah online, namun masih banyak yang tidak menyadari potensi resikonya. Diunduh dari https://www.unicef.org/indonesia/id/media_22169.html

Cahyani, R. (2017). Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah. Yogyakarta: Cahaya Pustaka.

Satyawati, I. G. A. A. D, & Purwani, S. P. M. E. (2012). Pengaturan Cyberbullying Dalam Undang-undangNomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Bali: Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Setyawan, D. (2014). KPAI: Kasus Bulling dan Pendidikan Karakter. Diunduh dari http://www.kpai.go.id/berita/kpai-kasus-bullying-dan-pendidikan-karakter/

Shopia. M. S. (2012). Bentuk-bentuk Pelrindungan dari LPSK bagi Saksi dan Korban. Diunduh dari http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4fbc7b673bc18/bentuk-bentuk-perlindungan-dari-lpsk-bagi-saksi-dan-korban

Smith, J. D., Cousins, J. B., & Stewart, R. (2005). Anti-Bullying interventions in schools: Ingredients of effective programs. Canadian Journal of Education: 28, 583-615.

 





[ Review ] Pigeon Food Maker, Peralatan MPASI Tanpa Listrik

Monday, October 23, 2017
Sebelum anak pertama memasuki masa makan MPASI (Makanan Pendamping ASI), saya dihadapkan kepada sebuah kegalauan. Antara beli slowcooker atau food processor sebagai alat memasaknya.

Tertarik banget dengan food processor yang tampaknya sangat praktis. Bisa mengukus, memblender, dll. Dan sudah dalam ukuran porsi makan bayi. Tapi food processor langsung tereliminasi karena sudah punya blender.

BabyMoov Food Processor
Gambar dari AsiBayi

Beaba BabyCook
Gambar dari Asibayi

Pertimbangan berikutnya, beralih ke slowcooker. Enak kan tinggal colok terus kita tinggal tidur, bangun pagi sudah matang sendiri. Nggak perlu mengaduk atau bolak-balik mengecek kadar kematangannya.

E...tapi.... Ayah tidak setuju dengan rencana membeli slowcooker ini. Alasannya karena sudah banyak peralatan masak yang Bunda beli tapi akhirnya nge-jogrok tidak dipakai.  Semangatnya di awal saja, udah gitu membuat dapur tambah penuh.

Takahi Slowcooker
Gambar dari Asibayi

Padahal sudah sangat mengidamkan Takahi Slowcooker. Konon kata salah satu teman saya, slowcooker yang kapasitas besar tidak hanya bisa digunakan untuk memasak bubur, tapi juga makanan lain yang perlu diempukkan. Seperti gudeg dan daging-dagingan. Tulangnya saja bisa sampai empuk. Jadi sangat cocok untuk tekstur bayi yang baru bisa makan.

Hemm... tapi ya sudah deh. Bye bye Takahi...

Setelah googling alternatif lain, saya menemukan alat yang bernama food maker. Ada beberapa brand yang mengeluarkan produk food maker ini. Desain dan bentuk produk relatif sama, beda di ukuran dan aksesoris tambahan sepertinya. Saya juga tidak masalah merk mana saja, asal produknya BPA-Free, toxic-free, dan bergelut di bidang produk bayi dan anak.

Richell Foodmaker
Gambar dari Asibayi

Simba Foodmaker
Gambar dari Asibayi

Puku Foodmaker
Gambar dari Asibayi

Karena harga cocok dan besarnya tidak "makan" tempat, akhirnya memutuskan "ya udah deh beli foodmaker ini". Waktu itu sengaja mencari di Flea Market TUM, agar dapat barang dengan kualitas bagus dan harga lebih murah.


Pigeon Foodmaker
Gambar dari Asibayi


Jadilah saya beli Pigeon Food Maker di Flea Market TUM. Harga belinya saya lupa tepatnya, sekitar 150-an ribu.

Meski tanpa listrik dan tetap harus memasak bubur diatas kompor, tetapi food maker ini sangat membantu saya menyiapkan MPASI untuk kedua anak saya. Bahkan sering saya bawa pulang kampung atau travelling yang memakan waktu lama. Karena ukurannya kecil dan bisa ditumpuk jadi satu, maka tidak terlalu membutuhkan banyak ruang. Sehingga portable di bawa bepergian.

Part food maker yang sering saya gunakan:

Part yang Masih Survive dan Sering Digunakan

Pigeon foodmaker milik saya usianya sudah 4 tahunan, tapi kondisinya masih sangat bagus. Saringannya masih kuat, tidak berlubang sama sekali, dan tidak karatan. Parutannya juga masih tajam. Tidak heran, Pigeon sendiri adalah brand yang sudah jaminan mutu untuk produk-produk bayi dan anak.

Bagaimana cara menggunakannya?

Gambar dari Asibayi

Untuk membuat bubur, kita tetap harus memasak bubur di kompor. Masak beras atau nasi dengan air banyak dan api kecil. Masak sesuai tekstur yang diinginkan. Mau lembut saja atau lembut sekali. Sebenarnya kalau nasinya sudah cukup lembut, dimatikan apinya tidak masalah. Kita bisa ambil nasi lalu disaring memakai saringan food maker. Hasilnya juga lembut kok. Teksturnya juga lembut sesuai tekstur bubur.

Saringan

Untuk buah dan sayur yang tidak dimasak bersama dengan bubur, saya parut lalu disaring. Untuk buah seperti jeruk, juga bisa langsung diperas dan disaring.

Untuk menyaring sendiri, saya lebih suka menekan makanan memakai sendok, tidak dengan "ulekan" kayu bawaannya. Dan ulekan itu sudah hilang entah ke mana dimainkan anak-anak.
Untuk Memeras Jeruk

Desain Dasar Mangkok untuk Melembutkan

Saya juga suka dengan desain mangkuknya. Selain ukurannya bisa digunakan untuk porsi makan anak 6 -18 bulan, dasar mangkok yang bergaris tajam juga mudah untuk melumatkan makanan. Cocok untuk digunakan melumatkan makanan bagi anak yg sudah naik tekstur. Kadang kalau menemukan bagian makanan yang belum halus pun, bisa ditekan hingga tekstur yang diinginkan.

Saya paling sedih karena tutup food maker yang bisa digunakan sebagai piring juga hilang. Dasarnya memiliki parutan yang bisa untuk menghaluskan makanan juga seperti pisang atau buah-buah lunak lainnya. Sebelum hilang tutup itu dipakai mainan Kakak, ya sudah wasalam kalau kasusnya seperti ini. Hehe...

Part dari food maker juga mudah dicuci. Saya biasanya membersihkan dengan sikat gigi untuk saringan, parutan, dan bagian yang kasar dari mangkok atau tutup.

Kalau ditanya masih ingin slowcooker atau food processor? Ya masih mau lah hahaa. Tapi sebenarnya untuk mengobati rasa penasaran saja. Sejauh ini saya sudah merasa food maker sufficient bagi kebutuhan saya. Beda lagi mungkin dengan ibu bekerja atau yang memiliki kesibukan padat. Slowcooker atau food processor yang lebih praktis mungkin lebuh sesuai dengan kondisi demikian.

[ Review ] EPA Web Ilmiah Psikologi Buatan Anak Negeri

Sunday, October 22, 2017
Sebagai siswa atau mahasiswa, pernah dong kita googling terkait ilmu yang kita pelajari. Entah itu untuk belajar, mencari bahan tugas, atau update topik-topik terkini.

Anak sekolah dan kuliah jaman sekarang, menurut saya sudah sangat enak karena terbantu dengan teknologi. Lewat Google atau langsung ke web-web spesifik sudah bisa menemukan artikel ilmiah, termasuk artikel jurnal, yang dapat dipertanggungkawabkan isinya. Bahkan, kita bisa mengakses penulis atau peneliti langsung lewat surat elektronik, web, atau sosial medianya. Bayangkan dengan jaman saya SMA, jangankan mau mengontak penulis, mau googling aja harus diajari terlebih dahulu (ketahuan anak generasi kapan).

Sebagai "mantan" mahasiswa Psikologi, selain mengakses jurnal sebagai bahan tugas, saya juga mengakses beberapa web Psikologi. Salah satunya adalah Psychology Today. Web berbasis Amerika Serikat yang tidak hanya mengulas isu-isu terkini masyarakat global tetapi juga teori Psikologi dari sudut pandang falsafah maupun perkembangan teorinya sendiri. Yang saya sukai dari web ini juga mencakup hampir semua bidang Psikologi dari Perkembangan, Psikometri, hingga Industri.

Tetapi, ilmu sosial humaniora merupakan ilmu yang dipengaruhi oleh faktor budaya juga. Jadi ada fenomena-fenomena di Indonesia belum bisa terlalu dijelaskan atau ditemukan di sana. Meskipun, grand theory yang dipakai sebagian besar tetap merujuk pada teori dari "barat".

Beberapa waktu yang lalu telah diluncurkan web E Psychology Articles (untuk lebih singkatnya kita sebut saja dengan EPA). Sebuah web yang berisi artikel ilmiah Psikologi.

Halaman Depan EPA

Tampilannya memang rasa internasional dan bahasa pengantarnya Bahasa Inggris, ternyata web ini digagas oleh anak negeri sendiri lho.

Cakupan Artikel EPA

Saya merasa isi artikel di web ini luar biasa. Pertama, bahasannya mendalam. Kalau saya tidak tahu bahwa semua artikelnya di tulis oleh orang Indonesia, saya mungkin akan mengira ini adalah artikel dari Psychology Today. Tidak hanya bahasan populer, tapi paparan teoretisnya juga bagus dan dalam.

Contoh Artikel EPA

Kedua, paparan artikel disampaikan dengan Bahasa Inggris. Selain memiliki kesulitan untuk menyusun kalimat dengan bahasa internasional ini, kesulitan lain adalah menyampaikan gagasan utamanya yang sudah mendalam dengan baik. Dan EPA berhasil melakukannya. Bangga rasanya, pikiran anak negeri ini dapat dibaca oleh reader dari berbagai belahan dunia.

Ini membuktikan bahwa gagasan dan tulisan anak negeri ini tidak kalah dan memiliki kualitas yang baik pula.
EPA rencananya juga akan diluncurkan dalam Bahasa Indonesia juga. Jadi konten edukasi dapat menyentuh pula masyarakat dalam negeri.

Ketiga, fenomena-fenomena yang terjadi di Indonesia bisa dibahas dengan lebih menyeluruh karena penulisnya merupakan orang Indonesia asli. Kita bisa mendapat wawasan tentang isu-isu terkini yang diulas tanpa meninggalkan aspek budaya dan nilai sosial masyarakat Indonesia. 

Congrats EPA! Ikut bahagia dan bangga. Semoga bisa berkontribusi untuk edukasi dan meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia.

[ Review ] Buku "Our New Baby at Home"

Saturday, October 21, 2017

Judul Buku  : Our New Baby at Home
Authors        : Sabates & Modere
Harga           : sekitar 40-60an ribu rupiah
Tempat beli : @littlelangit (online)

Saya bercerita sedikit tentang isi buku ini untuk program sharing setiap hari rabu yang diinisiasi oleh @rabuberbagirh atau Rabu Berbagi Rabbit Hole. Jadi setiap hari Rabu, follower bisa upload buku yang dimiliki yang direkomendasikan kepada ibu-ibu lain berkaitan dengan kegiatan membaca dan edukasi anak.

Berikut saya kutipkan review saya tentang buku ini yang diupload di IG saya @iampipit :

"Buku ini sengaja dibeli sebagai salah satu langkah mempersiapkan Kakak menjelang memiliki adik baru. Buku merupakan media yang sering saya pilih untuk mengenalkan atau mengajarkan hal baru pada anak. Goal utamanya bukan anak bisa membaca, tetapi anak cinta akan buku dan cinta membacanya kelak. Buku beserta cerita di dalamnya juga media yang engaging untuk anak dan sering diulang-ulang isi di dalamnya dengan cara bercerita mereka yang unik.

Buku karangan Sabates dan Modere ini bilingual Inggris-Indonesia. Menceritakan tentang kedatangan adik bayi pulang dari rumah sakit. Betapa kecil dan delicate adik bayi sehingga harus sayang dan perlahan memegangnya. Diceritakan pula bahwa adik bayi akan besar dan bisa menjadi teman main kakaknya. Buku ini mengajak kakak sayang dan ikut menjaga adik bayi nya. Serta keluarga juga sangat sayang dengan kakaknya.

Setelah adiknya lahir, Kakak sering mengulang cerita dari buku ini. Mengelus adiknya dan bilang "Adik bayi yang mungil-mungil, matanya kecil, mulutnya kecil, rambutnya kecil (sedikit maksud Kakak)". 

Apakah saya juga membaca part Bahasa Inggris nya? Karena lingkungan kami pure berbahasa Indonesia, kadang ada juga percakapan dengan Bahasa Jawa dan Batak, saya hanya membacakan part Indonesia nya.
Apa tidak ingin anaknya belajar Bahasa Inggris dari kecil? Cepet cas cis cus Bahasa Inggris. 

Saya lebih memilih mengenalkan bahasa-bahasa yang sering di dengar anak dulu. Ada saat nya nanti dia juga belajar Bahasa Inggris di sekolah."

Saya sangat senang dengan kegiatan yang digagas oleh penerbit buku anak-anak berkualitas ini. Because I believe, sharing is caring. Saya pribadi juga sering sulit mencari buku-buku yang sesuai dengan tahap perkembangan dan minat anak-anak, dengan program ini jadi bisa terbantu. Thanks Rabbit Hole!!!

Pengalaman Periksa di Poli Anak RSIA Sepatan Mulia

Wednesday, October 18, 2017
Pada awal kepindahan kami ke daerah Sepatan Timur, kami merasakan pindah ke daerah yang benar-benar baru buat kami. Kami bukan asli penduduk Tangerang dan tidak punya kerabat di sini. Untuk belanja, mencari pasar, mencari sekolah, dan fasilitas umum lainnya harus bertanya-tanya terlebih dahulu ke tetangga atau teman yang juga tinggal di area yang dekat dengan rumah kami.

Termasuk saat membutuhkan fasilitas kesehatan, awalnya kami kebingungan. Karena saat itu saya sedang hamil anak kedua, jadi membutuhkan faskes untuk rutin check up kehamilan. Untuk keperluan periksa kehamilan, kami memutuskan untuk ke RS Sari Asih Sangiang.

Tapi tidak hanya untuk periksa kehamilan, saat anak-anak sakit tentu kami membutuhkan faskes terpercaya. Klinik dan tempat praktik dokter atau bidan memang ada beberapa. Tapi saya merasa perlu memeriksakan anak-anak ke dokter spesialis anak jika sakit.

Kenapa? Bukan belittling profesi kesehatan lain, semua profesi kesehatan itu penting dan saling melengkapi. Tapi anak kami memang memiliki kondisi yang rentan dengan sakit batuk dan pilek seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Untuk anak kedua kami karena masih kecil juga saya merasa perlu berhati-hati dalam memberikan obat.

Pernah suatu kali Kakak demam tinggi sampai 5 hari. Sudah diperiksakan ke klinik terdekat tapi demam dan batuknya tidak kunjung membaik. Karena Sp. A belum ada yang praktik dekat sini, saya meminta Ayah untuk pulang kantor lebih cepat untuk periksa ke RS Hermina Tangerang. Ternyata demam tingginya disebabkan oleh radang tenggorokan yang tidak kunjung sembuh dengan antibiotik sebelumnya.

Repot dan khawatir sekali kan, jika harus menunggu Ayah pulang kerja baru bisa berangkat padahal anak urgent untuk diperiksakan.

Alhamdulillah awal tahun 2017 ini, ada rumah sakit ibu dan anak (RSIA) baru di daerah Sepatan, yaitu RSIA Sepatan Mulia. Tepatnya di Jl. Pakuhaji dekat pertigaan Pasar Sepatan. Rumah sakit ini memang tergolong sepi. Mungkin faktor kultur budaya setempat dan masih belum banyak yang mengetahui keberadaannya.

Halaman Depan

Pintu Masuk

Menuju IGD, Rawat Inap di belakang IGD

Tempat Alloanamnesa Perawat

Meski sepi, tapi fasilitasnya termasuk mencukupi (suffice). Ada poli anak, kandungan, poli gigi, laboratorium (dari CITO), dan IGD. Rencananya juga akan ada poli penyakit dalam dan bagian radiologi, tapi belum dibuka hingga saat ini. Berikut jadwal masing-masing poli:

Ruang Poli

Masing-masing poli baru ada satu dokter spesialis praktik, tapi jadwalnya cukup membantu karena ada setiap hari kecuali hari Minggu. Untuk pendaftaran dan jasa dokter charge nya sekitar 90-105 ribu rupiah, di luar obat yang diresepkan.

Untuk poli anak sendiri, dokter praktiknya adalah dr. Krisye Y. Lawin, Sp. A. Jadwal praktik beliau ada sampai Sabtu. Pagi jam 08.00-11.00 dan sore mulai pukul 17.00. Selain melayani pemeriksaan kesehatan, poli anak juga melayani imunisasi.

Ruang Tunggu Di Depan Poli Anak

Dr. Kris adalah dokter yang masih muda, sangat ramah, dan suka ngobrol. Beliau banyak mengajak pasien diskusi dan memberikan tips-tips yang relevan dengan keadaan pasien. Beliau pernah memberikan tips tentang MPASI, menu-menu, imunisasi, dsb.

Salah satu yang membuat saya senang dengan dr. Kris adalah beliau termasuk dokter yang menganut RUM (rational use of medicine). Jika belum dirasa perlu memakai antibiotik, beliau tidak meresepkan. Beliau juga sangat update dengan isu-isu kesehatan yang sering dihadapi ibu-ibu.

Terkadang beliau juga mengajak ngobrol di luat tentang kesehatan, karena beliau pernah tinggal di Jogja dan ternyata satu almamater dengan saya. Beliau kadang bercerita dan mengajak diskusi tentang masalah-masah sosial di daerah sini.
RSIA ini juga melayani rawat inap, termasuk untuk melahirkan. Kelas ruangnya terbagi dari kelas 1, 2, 3, dan VIP. Sepatan Mulia juga sudah bisa melayani BPJS.

Ada Ruang Laktasi (Menyusui) juga lho

Untuk bagian farmasi sendiri, obat yang disediakan dari range generik hingga keluaran perusahaan yang terkenal paten di bidang farmasi. Apotekernya juga saya nilai kompeten.

Untuk dr. Krisye sendiri, biasanya enak untuk diajak konsultasi soal obat. Biasanya saya minta untuk diresepi obat yang range harganya tidak terlalu mahal, jika tidak terlalu diperlukan.

Overall saya pikir sudah memenuhi standard rumah sakit yang semestinya. Ya iyalah, kalau enggak ya masak boleh berdiri 😄.

Demikian cerita singkat saya tentang RSIA Sepatan Mulia. Bisa menjadi salah satu alternatif tempat periksa, imunisasi, dan melahirkan. Terutama untuk yang tidak mobile dan "buta" akan daerah Tangerang seperti saya.

One Week Of Autumn: Perjuangan Menimba Ilmu ke Negeri Kanguru (Part II)

Monday, October 9, 2017
Setelah menempuh perjalanan panjang, seperti yang diceritakan di sini. Akhirnya kami bisa mengikuti shortcourse di Unimelb.


Kuliah Singkat Kami....
Kuliah-kuliah singkat yang rasanya ingin kami perpanjang. Senang banget dengan fasilitas dan kultur belajar di Unimelb. Diskusi dan keaktifan adalah budaya belajar yang sangat dijunjung tinggi. Bisik-bisik atau ngobrol sendiri is a big no. Perilaku seperti itu dianggap tidak sopan di dalam kelas.
Saat saya menuliskan “pihak Unimelb” maka beliau-beliau ini lah yang saya maksud. Beliau-beliau ini adalah significant persons yang sangat banyak membantu terwujudnya shortcourse ini dan juga merupakan pengisi materi:

Global Mental Health and Closing The Treatment Gap: The CIMH Approach toDevelopment and Possible Roles for CPMH
Pak Noor sempat memberi ide untuk menamakan anak saya dengan nama Minas. Tapi si Ayah tidak setuju, hehe. Maaf ya Pak Noor semoga kecerdasan dan kebaikan hati beliau lah yang pada akhirnya disamai oleh anak-anak kami.
Harry Minas adalah direktur dari Centre Of International Mental Health (CIMH). Beliau juga pernah menjadi konsultan dari program-program kesehatan mental milik salah satu kementerian di Indonesia. Beliau mengisi materi tentang peran strategis ilmu psikologi dan cakupan pengaruhnya jika kita aktif berkarya. Beliau juga menjelaskan tentang bagaimana suatu policy tentang kesehatan mental disusun. Bagaimana kita “berbicara” dengan pembuat kebijakan mengenai pentingnya kesehatan mental bagi bangsa.
Kuliah-kuliah singkat dari Harry Minas sangat luar biasa menginspirasi. Beliau mengingatkan bahwa kebermanfaatan suatu ilmu tidak terbatas pada ruangan di mana kita berada, lebih dari itu kita harus bermanfaat bagi masyarakat luas.

Australian Mental Health System;
Diagnostic Skill in Assessing High Prevalance Disorder;
Evidence BasedTreatment in Managing Common Mental Heatlh System
Beliau adalah seorang GP (general practitioner) atau dokter umum yang sudah tidak asing dengan dunia psikologi. Grant Blashki banyak berkecimpung menangani pasien termasuk yang memiliki masalah kesehatan mental. Di klinik tempat praktiknya di St. Kilda, beliau aktif melakukan skrining pada pasiennya. Kami diajak ke kliniknya dan ditunjukkan bagaimana proses skirining di kliniknya sebagai primary care dijalankan. Beliau juga menjelaskan bagaimana seorang pasien yang memiliki masalah kesehatan mental dirujuk.

Diskusi tentang Indonesian Mental Health System
Dari namanya sudah terlihat bahwa beliau memiliki garis keturunan Italia. Dan mungkin hal tersebut yang membuat darah seni mengalir deras di dirinya (sok teu nih). Selain menggeluti topik depresi dan tritmennya, Coluci adalah seorang seniman. Beliau gemar menangkap momen-momen dalam bentuk potret dan film. Hasil-hasil karyanya tidak jauh dari tema kesehatan mental. Colucci pernah menggelar ekshibisi karyanya di Jakarta. Beliau juga banyak membahas tentang program Bebas Pasung di Indonesia dan beberapa programnya terkait depresi dan suicide di Asia Tenggara. Colucci juga mengajak kami berkunjung ke Melbourne Women’s Royal Hospital. Kami hanya berkunjung saja melihat-lihat rumah sakit khusus wanita tersebut. Fasilitas baik dari segi fisik maupun layanan kesehatan di rumah sakit ini memang wow sekali.

Beliau ini adalah psikolog anak dan remaja  yang aktif terlibat di program trauma healing pasca tsunami di Aceh. Beliau membahas tentang anak dan permasalahannya. Beliau sudah sangat mengenal budaya Indonesia dan familiar dengan dosen-dosen kami.
Menurut Ritsuko, beliau adalah Generasi Jepang 2.0 yang artinya mungkin semacam KW -2. Maksudnya, Ritsuko termasuk keturunan Jepang yang  tidak mahir berbahasa Jepang dan justru tidak memiliki kekhasan fisik orang Jepang. Tapi beliau ini keturunan Jepang 100% kok. Mungkin karena besar di negara lain jadi sudah mengalami banyak percampuran budaya. Topik bahasan beliau tentang bagaimana sebuah policy disusun dan diassess secara objektif.

Skill in Defining the Proffesional Role of Psychologist and Managing Expectation in Primary Care
Sosok akhwat satu ini memang luar biasa. Beliau adalah dosen UGM yang kala itu sedang menempuh program Ph.D di Unimelb. Tidak ingin bermanfaat bagi dirinya sendiri, Mbak Diana membangun sebuah daycare untuk anak-anak Muslim di Melbourne. Tidak heran kan, makanya beliau dengan tangan terbuka membantu kami-kami agar bisa mewujudkan harapan menimba ilmu sebentar di Unimelb. Selain menjembatani acara kami dengan Harry Minas dkk, Mbak Diana juga mengatur jadwal, menghubungi pemateri, sampai mengajukan peminjaman tempat ke kampus-kampus di Unimelb.
Salah satu karya tulis beliau merupakan award paper winning. Karyanya yang lain dapat dilihat di jurnal internasional ini. Setelah pulang ke Indonesia, Mbak Diana kembali ke profesinya sebagai dosen dan mendirikan TAUD (Tahfidz Anak Usia Dini).

Panel Discuccion
Moderator: Dr. Krisna Hort
Agar pertemuan kami tetap memiliki nilai take and give, kami diberi kesempatan untuk mempresentasikan paper. Tim kami dibentuk menjadi kelompok-kelompok kecil sejak dari Indonesia dan mengulas tentang masalah-masalah kesehatan mental di Indonesia. Rasa takjub kami seperti tidak ada hentinya. Kami kira kami hanya akan mempresentasikan paper kami di hadapan tim kami sendiri. Ternyata acara presentasi kami dihadiri oleh audience dan dimoderatori oleh Dr. Krisna Hort. Beberapa audiense adalah mahasiswa alumni UGM yang sedang studi lanjut di Melbourne dan sekitarnya, ada juga akademisi setempat yang diundang oleh Mbak Diana atau relasi dari dosen-dosen kami.

Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah sebuah lembaga NGO bernama Beyond Blue. Saya pribadi merasa Beyond Blue ini adalah lembaga yang luar biasa. Misinya sederhana: edukasi tentang depresi. Kegiatannya pun “hanya” berkutat di edukasi, mereka tidak menerima tritmen dan tindakan lainnya. Beyond Blue akan merujuk klien yang membutuhkan tritmen ke pakar lain. Kegiatan edukasi tentang depresi ini pun cakupannya sudah luar biasa, mulai dari kota hingga ke “pelosok” Melbourne. Beyond Blue juga sudah berhasil mengedukasi secara nasional lewat iklan layanannya.  Dan hebatnya, di Melbourne yang namanya NGO dengan lembaga pemerintah itu bersinergi, tidak berdiri sendiri. Pemerintah pun tak segan menyalurkan dana yang signifikan ke lembaga-lembaga NGO.
Kunjungan Ke Lembaga Beasiswa
Di sini kami disambut oleh pengurus dan mahasiswa-mahasiswa yang telah mendapatkan beasiswa. Kami bertemu dengan Mas Adi, salah satu mahasiswa dari Jakarta. Disini kami dijamu dengan makanan-makanan kecil sembari berdiskusi tentang alur beasiswa di Australia. Duh terharu ya, betapa welcome-nya civitas Unimelb pada kami yang bukan siapa-siapa di sana (emang kalau disini kita jadi siapaaa?? hehe).
Kunjungan ke Perpustakaan Unimelb
Perpustakaannya besar, desainnya bagus, bukunya bagus-bagus (pengen dibawa semua rasanya), pengunjungnya ramai tapi hening. Yang namanya ngobrol juga larangan keras di sini.

Kemampuan Bahasa Inggris
Mungkin ada yang ingin belajar ke luar negeri tapi merasa minder dengan kemampuan Bahasa Inggrisnya. Awalnya saya juga merasa khawatir “duh gimana ya, nanti kalau nggak bisa nangkap materi di sana”. Tapi ternyata pemirsa, jika native yang berbicara Bahasa Inggris itu ternyata mudah ditangkap maksudnya. Mungkin karena pronounciation-nya lebih tepat. Justru berbeda dengan berusaha menangkap apa yang ingin disampaikan teman sendiri memakai Bahasa Inggris.  Mungkin kasusnya sama sepert bule yang baru belajar bicara dengan Bahasa Indonesia. Hehe..

Menelusuri Sudut-sudut Kota Melbourne
Mumpung bisa ke Melbourne, kami sempatkan untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Melbourne. Biasanya kami sempatkan berkeliling di sore atau malam hari setelah shotcourse di kelas. Kami juga menyisihkan satu hari penuh dari pagi sampai malam di H-1 kepulangan kami. Berikut beberapa tempat yang dapat kami kunjungi.

Queen Victoria Market
Semacam pasar tradisionalnya Melbourne. Di sini kita bisa beli barang kebutuhan dan oleh-oleh dengan harga lebih murah. Buah-buahan hasil budidaya Australia menurut saya lebih segar sehingga bisa dinikmati betul kelezatannya.

Tapi hati-hati, bagi yang Muslim jangan memegang-megang semua barang disini sebelum mengkonfirmasi bahannya. Karena ada baju, tas, dompet, sepatu, dan jaket yang berasal dari kulit babi. Jangan heran juga jika bertemu dengan pedagang dari Indonesia, Korea, atau negara Asia lainnya. Justru malah enak tawar menawar dengan pedagang yang aslinya orang Indonesia.

Yarra River

"Hai Kak, we named you after this big river"
Yarra River adalah sungai besar yang membelah Kota Melbourne. Menelusuri pinggiran Yarra River sangat mengasyikkan karena banyak gedung dan hal yang menarik untuk di-explore.



Kampus-Kampus Unimelb
One of the best university in the world

Gedung Harry Potter
Itu hanya sebutan di antara kami saja karena bentuk gedung-gedungnya mirip dengan asrama dan sekolah di film Harry Potter. Kalau tidak salah ini sebenarnya adalah kampus dari Fakultas Filsafat. Di dekat gedung ini juga ada semacam koperasi mahasiswa Unimelb, di mana dijual merchandise khas Unimelb.

Lapangan luas yang kami jumpai saaat menuju kantor Beyond Blue

Pantai Di Dekat Klinik Grant Blashki di St. Kilda
Pantainya dingiiinnn dan berangiiiiin mungkin karena Autumn, tampaknya akan lebih menyenangkan dikunjungi saat Summer






St. Kilda
Kota Sederhana nan Cantik di Pinggiran Melbourne


Shrine of Rememberance
Semacam Monas atau Monjalinya Melbourne, tempat mengenang World War



Melbourne Museum
Museumnya termasuk besar dan unik. Rasanya terlau sedikit waktu yang kami miliki untuk mengeksplore setiap sudutnya. Salah satu yang membuat kami takjub adalah pengunjungnya ramai. Para orang tua secara serius menjelaskan tiap sudut museum pada anak-anaknya meski usia anaknya masih kecil.



Love and Peace
Hormati Aturan dan Budaya Setempat
Ada kejadian menarik saat di Melbourne Museum. Karena kami tidak menemukan tempat sholat, kami putuskan sholat di lapangan dekat gedung tersebut. Setelah sholat, kami ditegur oleh petugas (semacam satpam atau polisi), karena dianggap melakukan offense terhadap peraturan beribadah di tempat umum. Kami akui bahwa kami kurang mencari dengan seksama tempat untuk sholat dan memang seharusnya lebih peka terhadap budaya setempat.

Chair of Quotes

Autumn Vibes

Gedung Parlemen (saat itu sedang renovasi)

Masjid Di Dekat Kampus

The Beauty of Autumn FLowers
Only one person might take it: Laelatus Syifa


Gereja Katedral
Mengantar Devi dan Jean berdoa di sana, kaminya foto-foto 😄






Eureka Skydeck
Destinasi ini adalah tempat wajib yang harus didatangi ketika ke Melbourne. Kita dapat melihat keindahan Kota Melbourne dari lantai 88! Naik ke lantai 88-nya? Wuzzzz....seperti naik lift ke lantai dua saja kalau di sini.

Ada juga tantangan naik ke sebuah ruangan berbentuk kubus yang transparan (the edge). Setelah masuk the edge, ruangan tersebut akan “diterbangkan” keluar dari gedung. Jadi kita bisa meliat Kota Melbourne di bawah kaki kita sendiri. We survived the edge guys!
Demikian lah sharing singkat tentang perjalanan shortcourse kami ke Unimelb. Saya mencoba menuliskannya dengan detail sesuai ingatan saya. Kenapa? Saya takut lupa bahwa kami pernah berhasil mencapai salah satu mimpi kami. Saya ingin menyimpan dengan baik memori ini sehingga that seven days truly last forever. Memori yang kami simpan dekat dengan hati kami, sebagai penyemangat di saat lelah mengejar impian kami.


In the end, don’t stop believing in your dreams. Every dream is big and worth to pursue. Apapun profesi kamu saat ini, jangan lupakan mimpimu. Entah pelajar, mahasiswa, profesional muda, wanita karir, atau ibu rumah tangga sekalipun, just chase your dream. Dream large, dream high!


All photos are credited to Mapronis 8