Top Social

Kreasi Masakan Telur dan Ayam untuk Indonesia Sehat

Thursday, October 5, 2017
Salah satu tanggung jawab sebagai seorang ibu adalah memilih dan mengolah bahan makanan yang sehat untuk keluarga. Tugas ibu adalah menyediakan sajian makanan yang memenuhi kebutuhan asupan gizi setiap anggota keluarga. Dimulai dari memilih bahan makanan dengan kualitas baik, membersihkan dan memasak dengan cara yang sehat, serta berkreasi dengan menu sehingga anggota keluarga excited untuk menyantap makanan. Whew...rumit ya? Tapi tetap harus bisa dijalankan, karena kesehatan anggota keluarga salah satunya bermula dari makanan yang disantap di rumah. Terutama untuk anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.

Konsep “empat sehat lima sempurna” sebagai pedoman menyusun menu bergizi, sekarang sudah bergeser pada Pedoman Gizi Seimbang. Berikut Pedoman Gizi Seimbang dalam satu porsi piring makan yang disarankan1:


½ bagian adalah sayur dan buah, ¼ bagian adalah lauk-pauk, ¼ bagian adalah karbohidrat,
lengkapi dengan air putih
(Gambar dari sini)
Apakah setiap anggota keluarga kebutuhan gizinya sama? Pada dasarnya nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan tubuh sama seperti yang disarankan dalam Pedoman Gizi Seimbang, akan tetapi kadarnya berbeda sesuai dengan usia, kondisi tubuh, dan kegiatannya. Sebagai contoh adalah protein.
Protein sering disebut sebagai zat pembangun karena fungsinya adalah membangun tubuh dan memperbaiki sel yang rusak. Kebutuhan protein pada bayi dan balita lebih tinggi dari pada orang dewasa. Kekurangan asupan protein pada bayi dan balita dapat menyebabkan berkurangnya ketahanan tubuh, melemahnya jantung dan paru, serta berkurangnya energi yang dibutuhkan untuk membentuk kekuatan otot, organ, dan perkembangan sel otak. Begitu pentingnya peran protein untuk pertumbuhan dan perkembangan, bayi dan balita harus mengkonsumsi protein setiap hari karena protein tidak disimpan tubuh seperti layaknya lemak atau karbohidrat 2.
Nah, setelah mengetahui pentingnya protein untuk anak-anak dan anggota keluarga yang lain, kita tentu perlu tahu sumber makanan yang mengandung protein. Sumber makanan yang kaya akan protein adalah telur, daging ayam, daging sapi, ikan, dan susu serta olahannya 3.
 “Sebesar 40% dari 33 provinsi , angka pemenuhan protein hewani masih dibawah rata-rata nasional.” 4
Tingkat konsumsi protein masyarakat Indonesia sendiri tergolong masih rendah. Salah satu faktor penyebabnya adalah daya beli masyarakat yang rendah. Tidak semua lapisan masyarakat mampu membeli sumber-sumber makanan kaya protein seperti daging sapi, ikan, atau produk olahan susu untuk konsumsi setiap hari 5. Distribusi beberapa produk, seperti ikan, juga kurang merata dan tidak semua daerah mampu mengakses untuk membelinya. Seperti halnya di kampung halaman saya, sulit sekali mendapatkan ikan laut. Tidak setiap saat bisa mendapatkan ikan laut untuk diolah atau dimakan.
Telur dan ayam menjadi solusi untuk sebagian besar kalangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga. Harganya terjangkau, mudah didapat, dan mudah diolah5. Betul sekali! Bagi yang tidak handal memasak seperti saya, telur dan ayam termasuk bahan yang mudah diolah. Terutama telur, tidak memerlukan banyak bumbu dan keahlian memasak yang khusus. Telur juga life saving banget saat waktu mepet seperti pagi sebelum berangkat sekolah atau kerja. Bagi keluarga kami, telur adalah must have aitem yang harus ada setiap hari.
Meski harganya yang terjangkau, kita tidak boleh memandang sebelah mata perihal nilai gizi dari telur dan ayam .

Kandungan Gizi Telur Ayam
(Gambar diambil dari sini)
Tidak hanya baik untuk bayi dan balita, kandungan telur ayam juga sangat bermanfaat untuk kesehatan mata, menjaga kesehatan kehamilan, mencegah cacat lahir, dan membantu perkembangan otak janin6. Telur be like: “Don’t underestimate me ya! Meski bentukku kecil, manfaatku besar! Aku aja punya hari khusus World Egg Day loh”
.

Kandungan Gizi Ayam
(Gambar diambil dari sini)
Meskipun pada faktanya ayam memiliki kandungan gizi yang bisa menyokong asupan protein, tetapi masih banyak yang ragu untuk mengkonsumsi ayam pedaging dikarenakan beberapa anggapan yang beredar di masyarakat. Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) meluruskan anggapan-anggapan tersebut 7:
·         Ayam pedaging (broiler) disuntik hormon. Pertumbuhan ayam pedaging terjadi dengan cepat akibat hasil persilangan yang telah diteliti puluhan tahun sesuai dengan kaidah genetika. Persilangan ini lah yang kemudian menghasilkan ayam dengan mutu genetik yang baik seperti sekarang. Bukan karena suntik hormon, yang harganya sekali suntik jauh lebih mahal dari harga ayamnya sendiri.
·         Penyebab bisul. Timbulnya bisul terjadi hanya pada yang memiliki alergi saja sehingga tidak bisa digeneralisir secara umum.
·   Menyebabkan kolesterol tinggi. Bukan karena produk peternakan itu sendiri yang menyebabkan kolesterol tinggi, tetapi proses memasak dan bahan untuk memasaknya yang dapat menyebabkan hal tersebut. Misalnya dimasak dengan selalu digoreng atau memasak menggunakan minyak yang sudah dipakai berulang-ulang.
Nah, karena sudah mengetahui kebenaran dari anggapan-anggapan tersebut, tidak perlu lagi merasa ragu untuk mengkomsumsi telur dan ayam. Setiap tanggal 15 Oktober juga diperingati sebagai Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) untuk mengingat dan menyebarkan kebaikan gizi dari telur dan ayam. Wah sama dong dengan ulang tahun Baby Al!
Berdasar pengalaman saya sehari-hari, karena selalu ada persediaan telur dan kadang ayam, biasanya merasa jenuh “kok dimasak gini lagi ya?”. Kalau saya mengakalinya dengan memvariasikan menjadi beberapa menu. Untuk bayi dan balita dapat dimasak dengan potongan kecil atau disaring sesuai dengan kemampuan anak.
Sup Telur Salmon
(Gambar diambil dari sini)

Nasi Tim Wortel Ayam untuk MPASI

Teriyaki Ayam
(taken by Dewi Sartika)

Ayam Goreng Tepung
(taken by Dewi Sartika)

Sup Ayam
(taken by Dewi Sartika)
Kalau mamas, adakah resep andalan megolah telur dan ayam yang bisa dibagi?

Daftar Pustaka
Alodokter . (2017). Memenuhi Gizi Seimbang dengan Panduan Piring Makan. Diakses dari www.alodokter.com/memenuhi-gizi-seimbang-dengan-panduan-piring-makan
2  Healthy Eating. (2017). The Importance of Protein in Infans and Toddlers. Diakses dari www.healhtyeating.sfgate.com/importance-protein-infatns-toddlers-6325.html
3 Momjunction. (2017). Six Amazing Benefits of Protein for Kids. Diakses dari www.momjunction.com/articles/benefits-of-protein-for-your-kid_00335712/?amp=1
4 Anna, L. S. (2012). Konsumsi Protein Hewani Rendah. Diakses dari www.kompas.com/internasional/read/2012/06/27/0717072/Konsumsi.Protein.Hewani.Rendah
Mustinda, L. (2016). Pilihlah Telur atau Ayam sebagai Sumber Protein yang Terjangkau. Diakses dari https://m.detik.com/food/info-sehat/d-3148371/pilihlah-telur-atau-ayam-sebagai-sumber-protein-yang-terjangkau
 6 Umeg. (-). Kandungan Gizi Telur Ayam dan Manfaatnya. Diakses dari www.disehat.com/kandungan-gizi-telur-ayam-dan-manfaatnya
7 Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia. (2017). Hidup Sehat dan Cerdas dengan Konsumsi Ayam dan Telur Nasional/HATN dan Hari Telur Sedunia 2017. Diakses dari www.pinsarindonesia.com/hidup-sehat-dan-cerdas-dengan-konsumsi-ayam-dan-telur-nasional/hatn-2017-dan-hari-telur-sedunia-2017






Post Comment
Post a Comment