Top Social

One Week Of Autumn: Perjuangan Menimba Ilmu ke Negeri Kanguru (Part I)

Monday, October 9, 2017
Our journey was and will always be a dream comes true. Tepatnya kami berada 7 hari di Melbourne, Australia untuk mengambil shortcourse di University of Melbourne. Waktunya memang singkat, tapi proses perjalanan kami untuk sampai di Melbourne terbilang cukup penuh perjuangan. Sebuah perjalanan yang akan selalu kami kenang.

Butuh waktu satu tahun lebih bagi kami untuk mempersiapkan perjalanan tersebut. Mulai dari memilih tempat, merencanakan kegiatan, memperkirakan pengeluaran, dan mencari dana. Ada banyak mahasiswa lain yang menempuh waktu dan perjuangan yang lebih panjang dari kami.

Ada yang bertahun-tahun berjuang apply beasiswa atau berusaha berkali-kali mengambil TOELF, IELTS, atau syarat-syarat lain yang ditentukan. Waktu persiapan kami mungkin masih bisa dibilang relatif singkat. Tapi kami sadar betul, komitmen dan kerja keras lah yang dibutuhkan untuk program kami. Let’s be real, jarang lembaga atau universitas yang memberikan beasiswa untuk program yang kami rancang. Terlebih lagi memberangkatkan sekitar 20 mahasiswa sekali perjalanan dari satu jurusan dan universitas yang sama. Sehingga kami harus bersiap-siap akan menanggung sendiri semua biaya yang diperlukan.

Kenapa Harus Ke Australia?

Goal awalnya sebenarnya kami ingin agar satu kelas mendapat kesempatan untuk paper presentation. Selain mendapat wawasan akan ilmu-ilmu baru dan budaya dari negara lain, tentu bobot paper presentation berskala internasional adalah nilai plus untuk portofolio. Terutama teman-teman yang ingin berkarir sebagai dosen. Mengingat kami terkendala budget, awalnya kami hanya menyasar negeri-negeri jiran yang biaya perjalanannya lebih murah. Wacana juga sempat berkembang untuk memilih Korea, karena ada salah satu dari kami yang memiliki link ke salah satu universitas di sana. Sudah terbayang kan, melanglang buana di jalanan Korea lalu bertemu Lee Min Ho. Elah...heyy I still want to go to Korea by the way.

Seiring perencanaan yang kami lakukan, kami mendapat berbagai masukan dari bapak dan ibu dosen. Salah satunya dari Pak Rahmat Hidayat yang mengusulkan untuk pergi ke University of Melbourne (Unimelb) untuk melihat langsung perkembangan dan praktik ilmu Psikologi yang sudah mulai dipadukan dengan bidang dan profesi lain di sana. Kesadaran penduduk di sana akan kesehatan mental termasuk yang paling baik. Beliau juga yang mengubungkan kami dengan pihak Unimelb dan Mbak Diana Setiyawati, salah satu dosen Psikologi UGM yang sedang mengambil Ph.D di Unimelb. Hasil diskusi di kemudian hari, kami menyepakati bahwa kegiatan kami di sana disusun dalam bentuk shortcourse.



Bagaimana Cara Mendapatkan Dana?
Ada beberapa cara yang kami tempuh untuk mengumpulkan dana:
  • Fundrising. Dalam satu tahun kami menyelenggarakan berbagai macam seminar, workshop, pelatihan, ngamen, hingga jualan berbagai barang. Apakah semua kegiatan berhasil mendatangkan dana? Tidak juga. Ada beberapa kegiatan yang justru merugi. Tapi itu semua kami anggap sebagai pembelajaran untuk kegiatan fundrising selanjutnya.
  • Tabungan. Tiap bulan kami menabung sejumlah uang yang disepakati ke bendahara kegiatan.
  • Uang pribadi. Beberapa bulan menjelang keberangkatan, kami menyadari bahwa dana bersama tidak akan cukup untuk mengcover segala keperluan kami. Akhirnya kami pun harus merogoh uang dari kocek sendiri. Entah dari tabungan atau meminjam dari keluarga atau kerabat.
  • Sponshorship. Mungkin ini adalah salah satu “keajaiban” yang Diberikan pada kami. Di detik-detik terakhir kami akan berangkat dan saat itu kami sudah pasrah serta rela untuk menambah biaya dari uang pribadi, kami mendapat berita bahwa salah satu lembaga menyetujui proposal sponshorship yang kami ajukan. Meski uang sponshorship hanya akan turun setelah kami berhasil melaksanakan kegiatan, tapi bantuan dana dari Tanoto Foundation tersebut cukup signifikan.


Apakah kami pernah lelah selama satu tahun lebih terus-menerus menggalang dana sembari kuliah? Sering. Rasa lelah itu tidak dipungkiri sering datang. Saya pribadi juga pernah merasa berputus asa, waktu semakin dekat dengan jadwal yang ditentukan, tapi dana yang tekumpul masih jauh. Coming closer but still feel so far. Tekad yang bulat dan kepercayaan bahwa kami pasti akan berangkat adalah semangat yang coba kami saling tularkan.



Satu lagi yang menjadi pengobar semangat kami: pihak Unimelb sangat antusias dan sangat serius dengan niat kami belajar ke sana. Beliau-beliau bersama dengan dosen-dosen pembimbing kami sudah merancang jadwal berisi berbagai materi yang padat dan menarik. Beliau-beliau sering mengontak kami tetang bagaimana persiapan kami ke sana. Rasanya luar biasa sekali di tengah kesangsian kami pada kemampuan kami sendiri, ada yang menaruh kepercayaan yang begitu besar dan menanti kami dengan tangan terbuka. Mendengar respon tersebut, kami pun coba bangkit dan terus bangkit lagi menghadapi segala tantangan.


Bagi Tugas

Saya yakin, setiap personil yang terlibat berkontribusi dengan caranya masing-masing. Bahu membahu dan saling membagi tugas adalah bentuk kerja sama yang kami lakukan untuk mensukseskan keberangkatan kami.

Pembagian tugas secara detailnya saya sudah banyak lupa, beberapa yang saya ingat:

Ketua: Mas Wahyu Dewanto
Kebayang nggak kalau ketua kami yang satu ini mundur? Bisa kocar-kacir dan pupus semangat kami di tengah jalan

  • Bendahara: tugasnya tentu menyimpan, mencatat, dan mengontrol arus uang yang keluar-masuk.
  • Seksi Acara: tugasnya mematangkan kegiatan kami selama di Unimelb. Termasuk berdiskusi dengan pihak Unimelb dan mbak Diana.
  • Seksi Dana Usaha: semua personil masuk seksi ini tanpa terkecuali. Termasuk di dalamnya adalah panitia-panitia untuk fundrising dan pengajuan sponshorship.
  • Seksi Dokumentasi 
  • Masih ada beberapa lainnya contohnya untuk booking tiket pesawat, pengurusan passport, visa, pengadaan konsumsi, booking tempat tinggal, dll. Untuk pengurusan passport, kita bisa mengisi secara online dan datang ke Kantor Imigrasi hanya tinggal foto dan cetak passport. Sedang pengajuan visa dapat dilakukan secara kolektif untuk jenis perjalanan kami.

Keberangkatan
Pada saat keberangkatan, kami membagi tim menjadi dua yaitu Tim I yang berangkat terlebih dahulu dan Tim II yang berangkat selang sehari setelahnya. Pembagian ini disebabkan oleh ketersediaan tiket perjalanan Jakarta – Melbourne dengan harga yang dapat kami jangkau, tidak available sejumlah personil kami pada hari yang sama. Kami membeli tiket paling murah untuk rute tersebut, yaitu Air Asia dengan perjalanan transit di Malaysia.
Tim I Transit di Malaysia
Kami didampingi juga oleh empat orang dosen yaitu: Pak Rahmat Hidayat, Ibu Sofia Retnowati, Pak Noor Rochman Hadjam, dan Ibu Esti Hayu.
Barang Khusus yang Dibawa
·         Colokan listrik kaki tiga. Ada perbendaan tentang instalasi listrik di Australia jika dibanding dengan Indonesia, colokan yang digunakan adalah kaki tiga. Sedangkan alat-alat elektronik kita (charger handphone, charger laptop, harger kamera, hardryer, dll) berkaki dua. Colokan kaki tiga ini menjadi perantara untuk alat-alat elektronik dari Indonesia agar dapat digunakan.
·         Mantel, syall, dan sarung tangan. Saat itu jadwal keberangkatan kami adalah bulan Mei, di mana sedang musim gugur dan cuaca cukup dingin. Jadi pakaian yang menghangatkan sangat dibutuhkan. Lebih bagus lagi jika memakai longjohn, semacam manset yang digunakan sebelum baju luar agar tetap hangat.
·         Sepatu yang kokoh. Di Australia, moda transportasi yang banyak digunakan adalah transportasi umum. Jadi akan banyak perjalanan yang ditempuh dengan jalan kaki sebelum atau setelah menggunakan transportasi umum. Oleh karena itu, pilih lah sepatu yang meski mungkin termasuk agak mahal, tapi awet dipakai.
·         Mata uang Ringgit dan Dolar Australia. Agar tidak perlu repot mencari money changer, sebaiknya kita sudah membawa sejumlah uang yang akan kita gunakan sepanjang perjalanan dan tinggal di sana.
·         Pastikan alat-alat elektronik miliki kita memakai software yang original. Berbeda dengan di Indonesia, Australia termasuk negara yang jarang ada versi KW-nya. Khawatir saja nanti laptop kita tidak bisa bekerja atau lolos imigrasi.
·         Kumpulkan info tentang toko dan restoran halal (khusus bagi mahasiswa Muslim). Di Melbourne ada satu swalayan besar bernama Aldi yang sangat lengkap dan menyediakan bahan-bahan makanan halal.
·         Bekal makanan yang tahan lama seperti mie, sambal kering, abon, dll. Tujuan membawa bekal adalah untuk menghemat dan menjaga kehalalan makanan.
Autumn Leaf dan Sepasang Sepatu yang Kokoh
(Taken by Laelatus Syifa)

Tiba di Melbourne
Peraturan imigrasi Australia untuk pendatang cukup ketat. Semua barang yang kita bawa dari Indonesia harus benar-benar dituliskan dalam form yang diberikan. Kita juga harus jujur pada petugas ketika ditanyai barang apa saja yang kita bawa. Contohnya saja obat atau vitamin. Pada saat itu saya sedang hamil lima bulan dan membawa beberapa vitamin kehamilan.
Barang-barang seperti makanan, obat, tanaman, dan tidak kita tuliskan di form, tidak diperbolehkan untuk dibawa keluar bandara. Ketika hendak keluar bandara, pemeriksaan dilakukan berlapis. Untuk ukuran bandara besar, pemeriksaan sangat tertata dan prosedurnya menyeluruh. Bahkan ada anjing khusus yang dibawa untuk melacak barang-barang tertentu.
Waktu itu saya membawa makanan dari pesawat, yang tentu saja tidak tertulis di form. Nah, terciumlah oleh anjing pelacak ini. Saya pun di suspend sementara, belum boleh keluar dari bandara. Di situ saya ditanyai apa yang saya bawa dan diedukasi apa saja yang tidak boleh dibawa masuk Australia. Saya pun diminta untuk menandatangani pernyataan bahwa saya tidak akan mengulangi tindakan tersebut. Jika saya mengulanginya maka akan dikenai denda. Duh jadi deg-deg an kannn.
Melbourne
Diversity adalah salah satu kata yang menggambarkan Melbourne. Jangan heran saat di jalanan kota Melbourne bertemu dengan orang Asia Tenggara, Asia Barat, Asia Timur, Timur Tengah, atau Afrika. Atau bahkan akan ada yang menyapa dengan “Eh orang Indonesia ya?”. Penduduk kota Melbourne memang beragam dikarenakan banyak yang belajar di universitas-universitas di sana, bekerja, atau menjadi imigran. Banyak juga yang menjadi imigran lalu sudah menjadi  warga negara Australia. Seperti salah satu perempuan paruh baya yang kami temui di Melbourne Women’s Royal Hospital. Beliau sudah berpuluh tahun tinggal dan menjadi warga negara Australia, meninggalkan Laos tempat kelahirannya. Beliau kemudian menjadi interpreter di RS tersebut bagi pasien-pasien dari Vietnam, Myanmar, dan Thailand yang memiliki bahasa serumpun.



Pagelaran Musik Klasik di Salah Satu Sudut Mall
(diambil dari jarak jauh karena kami tidak membeli tiket)

Street Music Performance

Swalayan Korea

Hal yang sangat membuat saya iri dengan kota ini adalah tata kotanya yang sangat rapi dan transportasi umum yang begitu mengakomodir warganya. Berjalan kaki adalah hal yang sangat lumrah. Salah satu yang saya rindukan adalah menunggu di rambu-rambu lampu pejalan kaki dan bergerombol dengan pejalan kaki lain menyeberang jalan.

Tata Kota yang Sangat Rapi

Taman Kota Merupakan Prioritas

Desain Bangunan Unik
Pardon us ya, every little thing and spot is a must photographed place

Suasana Ketika Hendak Menyeberang

Makanan Timur Tengah
Salah satu bentuk diversity di Melbourne
Beberapa moda transportasi yang bisa digunakan di Melbourne adalah:

Shuttle Bus
Untuk penumpang berkelompok, kami gunakan dari bandara ke tempat menginap dan sebalinya ketika pulang

Trem
Biaya gratis, digunakan untuk berkeliling kota dan tempat wisata

KRL
Berbayar, rute lebih banyak daripada trem dan juga digunakan untuk menjangkau tempat di pinggir kota

  
Salah satu yang menjadi tantangan orang Asia dan Timur Tengah pada umumnya adalah toilet yang dipakai di Melbourne adalah toilet kering. Ini masalah perbedaan kebiasaan. Sebagai pendatang kita tentu harus menghargai kebiasaan penduduk lokal dengan cara menjaga toilet umum tetap kering dan mengambil air wudhu di tempat yang tidak mengganggu.
Karena banyak berjalan kaki ke tiap tujuan kami, porsi makan kami menjadi bertambah dua kali lipat. Kami memesan konsumsi dari salah satu catering milik orang Indonesia untuk menjaga kehalalan makanan. Awalnya kami semua tidak mampu menghabiskan satu porsi yang disediakan dan meminta porsinya dikurangi karena takut mubazir. Bapak pemilik catering menyarankan untuk tidak mengurangi porsi, karena makanan yang disediakan sudah dihitung berdasar kebutuhan energi dalam satu hari. Benar juga, seiring berjalannya hari, porsi makan kami makin bertambah dan mampu menghabiskan satu porsi standard di sana.
Di Mana Kami Tinggal?
Selama di Melbourne, kami tinggal di Nomads. Sebuah penginapan yang memang biasa dipakai oleh traveller backpacker dengan budget terbatas. Waktu itu belum ada start up semacam Traveloka, Agoda, Pegipegi, dll jadi tim yang bertugas untuk booking tempat tiggal harus bersusah payah mencari info dan mengkontak langsung penginapan-penginapan di Melbourne. Kami memesan 3 kamar, dengan 5-6 orang per kamarnya.

Nomads memiliki beberapa lantai dengan daya tampung yang cukup besar, layaknya hotel. Banyak traveller yang memilih tinggal di Nomads pada saat kami di sana. Letak Nomads juga strategisdi A’Beckett Street, melewati Queen Victoria Market (pasar) dan cukup dekat ke kampus-kampus Unimelb.
Nomads juga memiliki dapur yang bisa digunakan bersama-sama oleh tamu. Kami bisa memasak makanan dan minuman yang kami inginkan. Nomads juga menyediakan beras dan pasta gratis untuk tamu. Karena lidah kami masih tradisional Indonesia, beras tetap menjadi pilihan utama.

Salad Mix Indonesian Food
Saat sarapan dan makan malam tiba, Nomads biasanya akan ramai oleh tamu yang makan bersama. Nomads juga menyediakan taman dan bangku yang bisa digunakan untuk makan bersama, lengkap dengan alat panggang dan barbequenya.


Bangku Taman Tempat Makan
Baca kelanjutan kisah kami di sini.
Post Comment
Post a Comment