Top Social

One Week Of Autumn: Perjuangan Menimba Ilmu ke Negeri Kanguru (Part II)

Monday, October 9, 2017
Setelah menempuh perjalanan panjang, seperti yang diceritakan di sini. Akhirnya kami bisa mengikuti shortcourse di Unimelb.


Kuliah Singkat Kami....
Kuliah-kuliah singkat yang rasanya ingin kami perpanjang. Senang banget dengan fasilitas dan kultur belajar di Unimelb. Diskusi dan keaktifan adalah budaya belajar yang sangat dijunjung tinggi. Bisik-bisik atau ngobrol sendiri is a big no. Perilaku seperti itu dianggap tidak sopan di dalam kelas.
Saat saya menuliskan “pihak Unimelb” maka beliau-beliau ini lah yang saya maksud. Beliau-beliau ini adalah significant persons yang sangat banyak membantu terwujudnya shortcourse ini dan juga merupakan pengisi materi:

Global Mental Health and Closing The Treatment Gap: The CIMH Approach toDevelopment and Possible Roles for CPMH
Pak Noor sempat memberi ide untuk menamakan anak saya dengan nama Minas. Tapi si Ayah tidak setuju, hehe. Maaf ya Pak Noor semoga kecerdasan dan kebaikan hati beliau lah yang pada akhirnya disamai oleh anak-anak kami.
Harry Minas adalah direktur dari Centre Of International Mental Health (CIMH). Beliau juga pernah menjadi konsultan dari program-program kesehatan mental milik salah satu kementerian di Indonesia. Beliau mengisi materi tentang peran strategis ilmu psikologi dan cakupan pengaruhnya jika kita aktif berkarya. Beliau juga menjelaskan tentang bagaimana suatu policy tentang kesehatan mental disusun. Bagaimana kita “berbicara” dengan pembuat kebijakan mengenai pentingnya kesehatan mental bagi bangsa.
Kuliah-kuliah singkat dari Harry Minas sangat luar biasa menginspirasi. Beliau mengingatkan bahwa kebermanfaatan suatu ilmu tidak terbatas pada ruangan di mana kita berada, lebih dari itu kita harus bermanfaat bagi masyarakat luas.

Australian Mental Health System;
Diagnostic Skill in Assessing High Prevalance Disorder;
Evidence BasedTreatment in Managing Common Mental Heatlh System
Beliau adalah seorang GP (general practitioner) atau dokter umum yang sudah tidak asing dengan dunia psikologi. Grant Blashki banyak berkecimpung menangani pasien termasuk yang memiliki masalah kesehatan mental. Di klinik tempat praktiknya di St. Kilda, beliau aktif melakukan skrining pada pasiennya. Kami diajak ke kliniknya dan ditunjukkan bagaimana proses skirining di kliniknya sebagai primary care dijalankan. Beliau juga menjelaskan bagaimana seorang pasien yang memiliki masalah kesehatan mental dirujuk.

Diskusi tentang Indonesian Mental Health System
Dari namanya sudah terlihat bahwa beliau memiliki garis keturunan Italia. Dan mungkin hal tersebut yang membuat darah seni mengalir deras di dirinya (sok teu nih). Selain menggeluti topik depresi dan tritmennya, Coluci adalah seorang seniman. Beliau gemar menangkap momen-momen dalam bentuk potret dan film. Hasil-hasil karyanya tidak jauh dari tema kesehatan mental. Colucci pernah menggelar ekshibisi karyanya di Jakarta. Beliau juga banyak membahas tentang program Bebas Pasung di Indonesia dan beberapa programnya terkait depresi dan suicide di Asia Tenggara. Colucci juga mengajak kami berkunjung ke Melbourne Women’s Royal Hospital. Kami hanya berkunjung saja melihat-lihat rumah sakit khusus wanita tersebut. Fasilitas baik dari segi fisik maupun layanan kesehatan di rumah sakit ini memang wow sekali.

Beliau ini adalah psikolog anak dan remaja  yang aktif terlibat di program trauma healing pasca tsunami di Aceh. Beliau membahas tentang anak dan permasalahannya. Beliau sudah sangat mengenal budaya Indonesia dan familiar dengan dosen-dosen kami.
Menurut Ritsuko, beliau adalah Generasi Jepang 2.0 yang artinya mungkin semacam KW -2. Maksudnya, Ritsuko termasuk keturunan Jepang yang  tidak mahir berbahasa Jepang dan justru tidak memiliki kekhasan fisik orang Jepang. Tapi beliau ini keturunan Jepang 100% kok. Mungkin karena besar di negara lain jadi sudah mengalami banyak percampuran budaya. Topik bahasan beliau tentang bagaimana sebuah policy disusun dan diassess secara objektif.

Skill in Defining the Proffesional Role of Psychologist and Managing Expectation in Primary Care
Sosok akhwat satu ini memang luar biasa. Beliau adalah dosen UGM yang kala itu sedang menempuh program Ph.D di Unimelb. Tidak ingin bermanfaat bagi dirinya sendiri, Mbak Diana membangun sebuah daycare untuk anak-anak Muslim di Melbourne. Tidak heran kan, makanya beliau dengan tangan terbuka membantu kami-kami agar bisa mewujudkan harapan menimba ilmu sebentar di Unimelb. Selain menjembatani acara kami dengan Harry Minas dkk, Mbak Diana juga mengatur jadwal, menghubungi pemateri, sampai mengajukan peminjaman tempat ke kampus-kampus di Unimelb.
Salah satu karya tulis beliau merupakan award paper winning. Karyanya yang lain dapat dilihat di jurnal internasional ini. Setelah pulang ke Indonesia, Mbak Diana kembali ke profesinya sebagai dosen dan mendirikan TAUD (Tahfidz Anak Usia Dini).

Panel Discuccion
Moderator: Dr. Krisna Hort
Agar pertemuan kami tetap memiliki nilai take and give, kami diberi kesempatan untuk mempresentasikan paper. Tim kami dibentuk menjadi kelompok-kelompok kecil sejak dari Indonesia dan mengulas tentang masalah-masalah kesehatan mental di Indonesia. Rasa takjub kami seperti tidak ada hentinya. Kami kira kami hanya akan mempresentasikan paper kami di hadapan tim kami sendiri. Ternyata acara presentasi kami dihadiri oleh audience dan dimoderatori oleh Dr. Krisna Hort. Beberapa audiense adalah mahasiswa alumni UGM yang sedang studi lanjut di Melbourne dan sekitarnya, ada juga akademisi setempat yang diundang oleh Mbak Diana atau relasi dari dosen-dosen kami.

Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah sebuah lembaga NGO bernama Beyond Blue. Saya pribadi merasa Beyond Blue ini adalah lembaga yang luar biasa. Misinya sederhana: edukasi tentang depresi. Kegiatannya pun “hanya” berkutat di edukasi, mereka tidak menerima tritmen dan tindakan lainnya. Beyond Blue akan merujuk klien yang membutuhkan tritmen ke pakar lain. Kegiatan edukasi tentang depresi ini pun cakupannya sudah luar biasa, mulai dari kota hingga ke “pelosok” Melbourne. Beyond Blue juga sudah berhasil mengedukasi secara nasional lewat iklan layanannya.  Dan hebatnya, di Melbourne yang namanya NGO dengan lembaga pemerintah itu bersinergi, tidak berdiri sendiri. Pemerintah pun tak segan menyalurkan dana yang signifikan ke lembaga-lembaga NGO.
Kunjungan Ke Lembaga Beasiswa
Di sini kami disambut oleh pengurus dan mahasiswa-mahasiswa yang telah mendapatkan beasiswa. Kami bertemu dengan Mas Adi, salah satu mahasiswa dari Jakarta. Disini kami dijamu dengan makanan-makanan kecil sembari berdiskusi tentang alur beasiswa di Australia. Duh terharu ya, betapa welcome-nya civitas Unimelb pada kami yang bukan siapa-siapa di sana (emang kalau disini kita jadi siapaaa?? hehe).
Kunjungan ke Perpustakaan Unimelb
Perpustakaannya besar, desainnya bagus, bukunya bagus-bagus (pengen dibawa semua rasanya), pengunjungnya ramai tapi hening. Yang namanya ngobrol juga larangan keras di sini.

Kemampuan Bahasa Inggris
Mungkin ada yang ingin belajar ke luar negeri tapi merasa minder dengan kemampuan Bahasa Inggrisnya. Awalnya saya juga merasa khawatir “duh gimana ya, nanti kalau nggak bisa nangkap materi di sana”. Tapi ternyata pemirsa, jika native yang berbicara Bahasa Inggris itu ternyata mudah ditangkap maksudnya. Mungkin karena pronounciation-nya lebih tepat. Justru berbeda dengan berusaha menangkap apa yang ingin disampaikan teman sendiri memakai Bahasa Inggris.  Mungkin kasusnya sama sepert bule yang baru belajar bicara dengan Bahasa Indonesia. Hehe..

Menelusuri Sudut-sudut Kota Melbourne
Mumpung bisa ke Melbourne, kami sempatkan untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Melbourne. Biasanya kami sempatkan berkeliling di sore atau malam hari setelah shotcourse di kelas. Kami juga menyisihkan satu hari penuh dari pagi sampai malam di H-1 kepulangan kami. Berikut beberapa tempat yang dapat kami kunjungi.

Queen Victoria Market
Semacam pasar tradisionalnya Melbourne. Di sini kita bisa beli barang kebutuhan dan oleh-oleh dengan harga lebih murah. Buah-buahan hasil budidaya Australia menurut saya lebih segar sehingga bisa dinikmati betul kelezatannya.

Tapi hati-hati, bagi yang Muslim jangan memegang-megang semua barang disini sebelum mengkonfirmasi bahannya. Karena ada baju, tas, dompet, sepatu, dan jaket yang berasal dari kulit babi. Jangan heran juga jika bertemu dengan pedagang dari Indonesia, Korea, atau negara Asia lainnya. Justru malah enak tawar menawar dengan pedagang yang aslinya orang Indonesia.

Yarra River

"Hai Kak, we named you after this big river"
Yarra River adalah sungai besar yang membelah Kota Melbourne. Menelusuri pinggiran Yarra River sangat mengasyikkan karena banyak gedung dan hal yang menarik untuk di-explore.



Kampus-Kampus Unimelb
One of the best university in the world

Gedung Harry Potter
Itu hanya sebutan di antara kami saja karena bentuk gedung-gedungnya mirip dengan asrama dan sekolah di film Harry Potter. Kalau tidak salah ini sebenarnya adalah kampus dari Fakultas Filsafat. Di dekat gedung ini juga ada semacam koperasi mahasiswa Unimelb, di mana dijual merchandise khas Unimelb.

Lapangan luas yang kami jumpai saaat menuju kantor Beyond Blue

Pantai Di Dekat Klinik Grant Blashki di St. Kilda
Pantainya dingiiinnn dan berangiiiiin mungkin karena Autumn, tampaknya akan lebih menyenangkan dikunjungi saat Summer






St. Kilda
Kota Sederhana nan Cantik di Pinggiran Melbourne


Shrine of Rememberance
Semacam Monas atau Monjalinya Melbourne, tempat mengenang World War



Melbourne Museum
Museumnya termasuk besar dan unik. Rasanya terlau sedikit waktu yang kami miliki untuk mengeksplore setiap sudutnya. Salah satu yang membuat kami takjub adalah pengunjungnya ramai. Para orang tua secara serius menjelaskan tiap sudut museum pada anak-anaknya meski usia anaknya masih kecil.



Love and Peace
Hormati Aturan dan Budaya Setempat
Ada kejadian menarik saat di Melbourne Museum. Karena kami tidak menemukan tempat sholat, kami putuskan sholat di lapangan dekat gedung tersebut. Setelah sholat, kami ditegur oleh petugas (semacam satpam atau polisi), karena dianggap melakukan offense terhadap peraturan beribadah di tempat umum. Kami akui bahwa kami kurang mencari dengan seksama tempat untuk sholat dan memang seharusnya lebih peka terhadap budaya setempat.

Chair of Quotes

Autumn Vibes

Gedung Parlemen (saat itu sedang renovasi)

Masjid Di Dekat Kampus

The Beauty of Autumn FLowers
Only one person might take it: Laelatus Syifa


Gereja Katedral
Mengantar Devi dan Jean berdoa di sana, kaminya foto-foto 😄






Eureka Skydeck
Destinasi ini adalah tempat wajib yang harus didatangi ketika ke Melbourne. Kita dapat melihat keindahan Kota Melbourne dari lantai 88! Naik ke lantai 88-nya? Wuzzzz....seperti naik lift ke lantai dua saja kalau di sini.

Ada juga tantangan naik ke sebuah ruangan berbentuk kubus yang transparan (the edge). Setelah masuk the edge, ruangan tersebut akan “diterbangkan” keluar dari gedung. Jadi kita bisa meliat Kota Melbourne di bawah kaki kita sendiri. We survived the edge guys!
Demikian lah sharing singkat tentang perjalanan shortcourse kami ke Unimelb. Saya mencoba menuliskannya dengan detail sesuai ingatan saya. Kenapa? Saya takut lupa bahwa kami pernah berhasil mencapai salah satu mimpi kami. Saya ingin menyimpan dengan baik memori ini sehingga that seven days truly last forever. Memori yang kami simpan dekat dengan hati kami, sebagai penyemangat di saat lelah mengejar impian kami.


In the end, don’t stop believing in your dreams. Every dream is big and worth to pursue. Apapun profesi kamu saat ini, jangan lupakan mimpimu. Entah pelajar, mahasiswa, profesional muda, wanita karir, atau ibu rumah tangga sekalipun, just chase your dream. Dream large, dream high!


All photos are credited to Mapronis 8
Post Comment
Post a Comment