Top Social

#SpeakUp Bersama Melawan Cyberbullying

Tuesday, October 31, 2017
Kayu dan batu bisa mematahkan tulangku, (tetapi kata-kata tidak dapat menyakitiku)”
(Sticks and stones may break my bones, (but words can never hurt me))1
(Sajak Anak-anak dari Inggris)

Meski bukan merupakan hasil karya budaya Indonesia, tetapi mari sejenak kita renungkan kutipan sajak di atas. Sajak tersebut merupakan cara orang tua di Inggris untuk menasihati anak-anak agar menghiraukan ejekan yang dilontarkan kepada mereka. Masalah ejekan, hinaan, makian, atau julukan tampaknya seperti hal “sepele”. Perspektif yang masih umum digunakan saat ini adalah masalah akan selesai jika pihak yang menjadi korban bersabar, tidak mendengarkan, atau introspeksi diri.

Tetapi bagaimana jika perlakuan tersebut terus-menerus didapatkan? Bisakah terus-menerus menghiraukan? Apalagi di era digital sekarang ini, di mana kata-kata  ejekan, hinaan, merendahkan, atau makian tidak hanya bisa dilontarkan secara langsung saat bertatap muka. Tetapi bisa juga dilontarkan melalui berbagai media komunikasi seperti SMS, surat elektronik, grup chat, media sosial, web, dll. Kemudahan akses internet membuat hampir semua lapisan mampu menggunakan media-media komunikasi tersebut.

Akses informasi dan komunikasi yang luar biasa

Anonimitas di dunia maya menjadi salah satu faktor yang membuat orang lebih mudah dan berani untuk merendahkan orang lain. Terdapat  42% dari remaja dan anak-anak pengguna internet di Indonesia yang menyadari adanya resiko direndahkan di dunia maya, 13% diantaranya mengaku menjadi korban penghinaan yang dilakukan temannya. Jumlah faktual dari presentase tersebut dapat diterjemahkan menjadi ribuan individu. Penghinaan yang mereka terima diantaranya adalah julukan yang tidak menyenangkan, diolok-olok karena profesi orang tua, diolok-olok karena penampilan fisiknya (body shaming), dan bahkan diancam secara online (Razak, 2014).

Wajarkah jika kita sedih, marah, terluka, atau tersakiti jika mendapat perlakuan tersebut? Ataukah kita adalah orang yang lemah jika merasakannya?

Tidak! Kita bukan orang yang lemah jika merasakan sedih, marah, terluka, atau tersakiti.

Individu yang melontarkan kata-kata negatif baik secara langsung maupun online, sesungguhnya sedang melakukan tindakan kekerasan (bullying). Suatu tindakan dapat dikategorikan sebagai tindakan bullying jika: 1) merupakan tindakan agresif, baik secara fisik dan verbal (kata-kata); 2) dilakukan berulang-ulang; 3) korban tidak mampu menghentikan tindakan agresif yang ditujukan padanya (Beran&Shapiro, 2005).

Contoh body shaming, julukan yang merendahkan, hinaan, dan ajakan untuk melakukan bullying di media sosial

Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Mellor (dalam Setyawan, 2014) mengaktegorikan bullying ke dalam: 1) bullying fisik yaitu penyerangan fisik yang dilakukan langsung pada korban seperti menendang, mendorong, memukul, meludah, mencekik, dan mengancam dengan benda; 2) bullying verbal yaitu penggunaan bahasa untuk menyakiti seperti mengejek, body shaming, memberi julukan, menghina, meneror, dan melecehkan;  3) bullying relasi sosial meliputi isolasi sosial (pengucilan), penolakan sosial, menyebarkan gosip, menyebarkan cerita bohong/fitnah, mempermalukan, dan mengajak untuk tidak menyukai seseorang; 4) bullying elektronik (cyber bullying) yaitu bentuk bullying yang dilakukan menggunakan tulisan, gambar, dan video melalui media elektronik untuk menyakiti, menakuti, atau mengintimidasi.

Cyberbullying tidak memberikan “ruang” bagi korban untuk menghindari pelaku. Korban akan mendapat bullying selama 24 jam sehari. Stres yang dirasakan korban akan semakin bertambah jika konten yang dijadikan sumber untuk bullying pada dirinya disebarluaskan (viral) (Cahyani, 2017).

Cyberbullying dapat menyebabkan depresi dan bunuh diri
(Gambar dari sini)

Pemakaian kata “bullying” sendiri masih dianggap terlalu ringan dan bahkan sering dijadikan bahan candaan. Tetapi, tahukah bahwa bullying memiliki dampak yang sangat serius dan berbahaya? Tidak hanya pada korban, tetapi juga pada pelaku dan saksi. Berikut dampak bullying yang sudah ditemukan dalam penelitian:
1)   Dampak pada korban yaitu menurunnya prestasi, turunnya self-esteem (harga diri), kecemasan, depresi, dan bahkan bunuh diri (Smith, Cousins, & Stewart, 2005). Dampak yang dialami korban tidak selalu menunjukkan korban memiliki kepribadian yang lemah. Individu dengan sifat yang percaya diri dan memiliki ketahanan mental yang baik pun bisa mengalaminya, hinaan-hinaan yang diterima bisa mengkristal dalam diri korban dan mempengaruhi aspek-aspek kehidupannya. Dampak bullying verbal baik dalam dunia nyata maupun maya juga bisa lebih berbahaya, meski tidak terlihat secara fisik. Korban sering tidak menyadari bahwa dirinya adalah korban dan justru mempercaya bahwa konten kalimat yang dilontarkan padanya adalah benar sehingga dirinya sendiri lah bersalah.
2)  Dampak pada pelaku yaitu cenderung akan melakukan tindakan agresif atau antisosial akibat kesenangan atau status selama melakukan bullying. Pelaku bullying juga cenderung akan memiliki keturunan yang melakukan bullying (Smith, Cousins, & Stewart, 2005; Farrington, 1993). 
3)   Dampak pada saksi yaitu mengalami perasaan tidak menyenangkan dan ketakutan bisa menjadi target yang selanjutnya (Setyawan, 2014).

Saksi, Kunci Penting dalam Peristiwa Cyberbullying

Dalam suatu peristiwa bullying pada umumnya, ada istilah “Segitiga Bullying”, merujuk adanya tiga peranan dalam bullying yaitu pelaku, korban, dan saksi (bystander). Pada kasus cyberbullying, saksi dapat berasal dari teman, keluarga, sosok yang familiar, atau bahkan orang asing (stranger). Sejalan makin canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, kita dengan mudah menemukan bentuk cyberbullying di media sosial korban. Bahkan tidak jarang kita menemukan suatu grup atau akun hater (pembenci) mulai dari masyarakat sipil biasa, public figure, hingga tokoh.

Respon saksi bisa macam-macam tergantung dengan persepsi saksi terhadap konten yang dilihatnya. Ada yang acuh, mengabaikan, takut, ikut sedih, menertawakan, atau justru ikut-ikutan (Cahyani, 2017). Setelah mengetahui bahaya cyberbullying yang dapat dialami korban, tentu ikut-ikutan dan #DiamBukanPilihan kita. Tidak ada seorang pun yang memilih menjadi korban. Bahkan kekurangan atau kesalahan yang dimiliki seseorang, tidak kemudian menjadikannya layak untuk menjadi korban. Bukan pelaku yang berhak menilai atau “menghakimi” korban, apalagi jika dilakukan beramai-ramai, anonim, dan terencana.  

Jangan menjadi acuh karena merasa peristiwa cyberbullying tersebut bukan urusan kita karena terjadi pada diri orang lain. Coba lah kita empati pada korban dan keluarganya. Korban sendiri tentu membutuhkan keberanian untuk melawan pelaku dan peristiwa yang menimpanya. Ulurkan tangan kita meski hanya sekedar kata-kata dukungan.

Apa yang bisa dilakukan oleh saksi?

Langkah mudah yang bisa dilakukan saksi adalah ikut melaporkan (report) akun pelaku atau grup pelaku ke pengelola start up, aplikasi, situs, atau laman. Setiap start up, situs, aplikasi, laman, dll. yang profesional pasti sudah dilengkapi layanan untuk menerima laporan tindakan pelanggaran terhadap peraturan. Cyberbullying merupakan salah satu bentuk pelanggaran hampir di semua bentuk situs atau media berbasis online. Pihak pengelola biasanya sudah menyediakan daftar yang bisa kita isi jenis pelanggaran yang akan kita laporkan. Pengelola akan menindaklanjuti laporan pengguna dengan melakukan review terhadap akun pelaku sehingga bisa diambil keputusan untuk ditutup atau tindakan lainnya.

Jika cyberbullying terjadi pada orang yang kita kenal dan masih dalam lingkungan yang sama, kita bisa melaporkan kejadian yang dialaminya pada pengampu jabatan yang berwenang seperti guru jika di sekolah, atasan jika di tempat kerja, dosen atau dekan jika di kampus, dsb.

Jika cyberbullying yang ditemukan sudah pada taraf berbahaya atau mengancam nyawa dan kesejahteraan korban, kita bisa memberi masukan kepada korban untuk melaporkan atau sebagai saksi berinisiatif untuk melaporkan langsung kepada yang berwajib. Kumpulkan terlebih dahulu bukti-bukti yang seperti screenchot, riwayat atau rekaman percakapan, foto atau video yang digunakan, dll.

Sebenarnya bukan hanya jenis tindakan yang mengancam, tindakan cyberbullying yang menghina atau merendahkan pun bisa dipidanakan. Indonesia sudah memiliki dasar hukum yang bisa menjerat tindakan cyberbullying yaitu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Lebih khususnya tercantum pada Pasal 27 ayat (3) UU ITE yang berbunyi:

Setiap orang dengan sengaja atau tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Infromasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.
Hukuman denda pelanggaran pasal tersebut adalah hukuman pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak 1 miliar rupiah. Pelaporan dapat diadukan melalui Kontak Pengaduan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI atau Kantor Kepolisian terdekat (Satyawati & Purwani, 2012).

Perlindungan Saksi

Menjadi seorang saksi pasti memiliki keresahan terkait dengan keselamatan diri jika ikut terlibat. Hal tersebut wajar kita rasakan karena berhubungan dengan keselamatan dan kesejahteraan diri dan keluarga. Indonesia memiliki Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), dimana saksi dan korban bisa meminta perlindungan. Bentuk perlindungan yang diberikan oleh LPSK antara lain adalah (Shopia, 2012) :
1)      Perlindungan fisik dan psikis berupa pengamanan, pengawalan, pemindahan ke tempat yang aman, bantuan medis, pemberian identitas baru, keringanan untuk tidak hadir langsung di sidang, dan bantuan rehabilitasi psiko-sosial.
2)      Perlindungan hukum berupa tidak dapat dituntutnya saksi, korban, dan pelapor sesuai dengan Pasal 10 UU13/2006.
3)      Pemenuhan hak prosedural saksi yaitu berupa pendampingan, pemberian informasi terkait kasus, nasihat hukum, dan akomodasi selama kasus berlangsung.

Kita bisa menghubungi LPSK di kantornya yaitu Jl. Raya Bogor Km 24 Nomor 47-49, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur 13750 dengan nomor telepon (021) 29681551 atau email di lpsk_ri@lpsk.go.id. Dengan adanya LPSK ini, semoga semakin mendorong keberanian para korban dan saksi untuk memperjuangkan hak asasinya untuk memperoleh rasa aman dan mempertahankan kesejahteraannya.

Mengingat bahaya dari cyberbullying bagi para korban, kita bisa mengantisipasinya dengan membiasakan diri untuk berkata baik, meneladankan dan mengajari anak-anak untuk berempati serta berbuat baik. Biasakan pula untuk membaca dan berpikir terlebih dahulu sebelum jari kita menuliskan dan meng-klik suatu konten, komentar foto, atau video di dunia maya. Tempatkan diri kita di tempat orang yang akan terkena dampak dari tindakan kita di dunia maya. Jika ingin memberikan kritik dan saran, berikan masukan secara konstruktif tanpa unsur yang merendahkan. 

Berikan #KomenBaik & #MasukanKonstruktif
Think before Write and Click


Speak up our mind, #DiamBukanPilihan. Jangan ragu untuk membela korban cyberbullying. Karena tidak hanya kayu, batu, atau benda tajam yang dapat melukai kita. Words do have power, words do matter.


Daftar Pustaka

Beran, T., & Shapiro, B. (2005). Evaluation of an anti-bullying program: Student reports of knowledge
and confidence to manage bullying
. Canadian Journal of Education: 28 (4), 700–717.


Razak, N. (2014). Studi Terakhir: Kebanyakan Anak Indonesia sudah online, namun masih banyak yang tidak menyadari potensi resikonya. Diunduh dari https://www.unicef.org/indonesia/id/media_22169.html

Cahyani, R. (2017). Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah. Yogyakarta: Cahaya Pustaka.

Satyawati, I. G. A. A. D, & Purwani, S. P. M. E. (2012). Pengaturan Cyberbullying Dalam Undang-undangNomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Bali: Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Setyawan, D. (2014). KPAI: Kasus Bulling dan Pendidikan Karakter. Diunduh dari http://www.kpai.go.id/berita/kpai-kasus-bullying-dan-pendidikan-karakter/

Shopia. M. S. (2012). Bentuk-bentuk Pelrindungan dari LPSK bagi Saksi dan Korban. Diunduh dari http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4fbc7b673bc18/bentuk-bentuk-perlindungan-dari-lpsk-bagi-saksi-dan-korban

Smith, J. D., Cousins, J. B., & Stewart, R. (2005). Anti-Bullying interventions in schools: Ingredients of effective programs. Canadian Journal of Education: 28, 583-615.

 





Post Comment
Post a Comment