Top Social

Kisah Dibalik Sepiring Tiram, Senyuman atau Tangisan?

Wednesday, December 27, 2017
Para pecinta seafood tentu sudah tidak asing lagi dengan tiram. Makanan yang satu ini dikenal hampir di seluruh belahan dunia, dengan berbagai cara pengolahan yang khas sesuai dengan masing-masing daerah. Salah satu resep asli Indonesia adalah tumeh tiram khas Aceh. Meskipun Indonesia termasuk penghasil tiram, tetapi tiram belum menjadi makanan yang lumrah ada di meja makan keluarga setiap hari. Tiram merupakan menu yang cenderung dinikmati oleh golongan ekonomi papan atas dan tersedia di restoran-restoran mewah.

Tiram Mentah Dihidangkan di Salah Satu Restoran di Sydney
(foto dari sini)


Selain nikmat disantap, tiram memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh seperti meningkatkan imunitas dan fungsi fisiologis tubuh. Bagaimana bisa? Menurut penelitian, tiram ternyata memiliki kandungan yang tinggi akan zinc, vitamin B-12, vitamin A, vitamin C, dan protein1. Zat-zat tersebut adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita guna menjaga kekebalan tubuh terhadap penyakit, memperkuat sistem organ, regenerasi sel, dan kesehatan mata.


Manfaat Tiram Bagi Kesehatan Tubuh

Pernahkan Anda berpikir bagaimana proses tiram nan lezat ini bisa sampai menjadi hidangan di meja makan kita?

Sepiring Tiram Hasil dari Proses Pengorbanan Panjang

Tiram memiliki habitat asli di laut. Untuk bisa menangkap tiram, para nelayan tiram harus berendam hingga 3-12 jam hanya untuk mendapatkan empat liter tiram2. Alat yang dipakai adalah alat tradisional berupa bambu. Sebagai “senjata” utama untuk memanen tiram, nilai ekonomi bambu sebenarnya sangat kurang. Bambu hanya dapat bertahan paling lama 2-3 tahun. Sehingga para nelayan harus direpotkan dengan pencarian bambu baru.

Nelayan Perempuan Sedang Berendam Mencari Tiram di Lambada, Aceh
(foro dari sini)

Fakta lain yang mengejutkan adalah nelayan tiram di beberapa daerah seperti Aceh justru didominasi oleh perempuan!3 Tidak terbayang betapa sulitnya perjuangan ibu dan remaja nelayan tiram tersebut. Berendam di air yang dingin dalam waktu yang lama, luka-luka yang mungkin dialam, dan yang paling memprihatinkan adalah bahaya kerusakan organ reproduksi. Sebuah perjuangan berat yang diganjar dengan penghasilan rata-rata yang hanya Rp 20.000,00 per hari4.

Rasanya kelezatan tiram yang kita santap menjadi sebuah ironi ya jika kita membandingkan dengan usaha dan pengorbanan para nelayan tiram tersebut.

Rumoh Tiram

Tetapi kita cukup bisa menghela nafas lega saat ini. Karena terdapat para pemikir, penggagas, dan penggerak yang peka terhadap kondisi memprihatinkan yang harus dialami para nelayan tiram. Mereka berusaha keras melalui rangkaian panjang proses penelitian hingga akhirnya mampu menghasilkan karya inspiratif berupa Rumoh Tiram (Rumah Tiram). Rumah Tiram diteliti dan dipopulerkan oleh kelompok dosen dan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala yang diketuai oleh Ichsan Rusydi.

Rusydi menjelaskan teknologi Rumah Tiram terdiri dari pipa dan ban mobil bekas. Pipa yang telah dicor beton di dalamnya, diletakkan di air asin (laut). Potongan ban bekas diikatkan di pipa-pipa tersebut. Pada ban bekas itu lah rumah tempat menempel dan berkembang biak tiram. Rusydi dan tim pun membuat suatu manajemen agar penerapan teknologi ini lebih tertata. Setiap hari 10 ban ditanam, lima bulan kemudian tiram-tiram dalam ban tersebut dapat dipanen. Dalam satu hari masa panen, satu ban bisa mengumpulkan dua mug tiram seharga Rp 20.000,00 3. Jika dikalikan dengan jumlah ban yang ditanam, dalam waktu sehari jika berhasil memanem 10 ban saja maka dapat menghasilkan RP 200.000,00.

Ban Bekas yang Dijadikan Rumah Tiram
(foto dari sini)

Dengan teknologi ini, nelayan tiram tidak perlu berendam untuk memanen. Cukup menarik ban dari atas sampan atau atas air kemudian mengumpulkan tiram di darat. Dengan demikian kesehatan para nelayan lebih terjaga. Potensi bahaya mengalami luka fisik dan kerusakan organ reproduksi dapat diminimalisir.

Tidak hanya itu, dari segi ekonomi pun penghasilan nelayan ikut terdongkrak. Seorang nelayan bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 80.000,00 per hari. Kualitas tiram yang dihasilkan pun ternyata ikut meningkat. Ukuran tiram yang tadinya termasuk kecil, sekarang bisa mencapai 7 cm. Ukuran tersebut sudah mampu melebihi standard ekspor di beberapa negara, sehingga potensi untuk diekspor pun menjadi lebih besar 4.

Tidak Perlu Berendam Lama untuk Memanen Tiram
(foto diambil dari sini)

Teknologi rumah tiram kini sudah dijalankan di beberapa daerah di Aceh antara lain di Tibang, Lamngah, dan Alue Naga. Selain penyebaran teknologi, Rusydi dkk juga mencoba untuk mengembangkan prospek lain yang menjanjikan yaitu mengembangkan produk olahan tiram seperti kerupuk, saos tiram, nugget, dan cangkang tiram yang dapat digunakan sebagai pakan ternak 5.


Peningkatan yang Terjadi Setelah Ada Rumah Tiram


Apresiasi Astra dan Pembinaan Berkelanjutan untuk Rumah Tiram

Kepedulian dan gerakan inspiratif Rusdy dkk tersebut tidak luput dari apresiasi beberapa pihak. Salah satunya mereka diganjar dengan penghargaan SATU Indonesia Award 2016. SATU atau Semangat Astra Terpadu adalah program apresiasi yang digagas oleh PT Astra Internasional Tbk untuk generasi muda inspiratif Indonesia di bidang pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, kesehatan, dan teknologi6.

Sudah familiar bagi masyarakat Indonesia, bahwa PT Astra Internasional Tbk sejak dahulu memiliki perhatian yang besar akan tanggung jawab sosial perusahaan. Bagi PT Astra Internasional Tbk, berkontribusi secara sosial untuk pembangunan  merupakan pilar perusahaan. Komitmen tersebut diwujudkan ke dalam kontribusi sosial yang visioner, berkesinambungan, dan bernilai inspiratif  bagi pembangunan bangsa. Implementasi dari kontribusi sosial terwujud dalam kegiatan-kegiatan yang berfokus di bidang lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan keselamatan. PT Astra Internasional Tbk ingin tidak hanya “menggelontorkan” uang saja, tetapi dengan pembinaan ke bidang-bidang yang difokuskan tersebut masyarakat dibekali dengan keberdayaan untuk menjawab tantangan pembangunan7.

Pun demikian dengan apresiasi yang diberikan kepada Rusydi dkk. Tidak hanya dalam bentuk penghargaan dan uang pembinaan, tetapi PT Astra Internasional Tbk tidak ingin berhenti sampai di situ saja.

What’s next?  

PT Astra Internasional Tbk berusaha berkontribusi lebih lanjut agar apresiasi yang diberikan pada Rumah Tiram memberikan dampak yang lebih luas dan berkesinambungan. PT Astra Internasional Tbk bekerjasama dengan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) membangun desa binaan yang diberi nama Kampung Berseri Astra (KBA) di Alue Naga. Sebuah kampung yang pernah terkena dampak tsunami yang sangat parah, Alue Naga memiliki potensi kelautan yang besar dan kini menjadi salah satu daerah yang menerapkan teknologi rumah tiram.

Alue Naga adalah desa ke-65 yang menjadi KBA. Pembentukan KBA ini bertujuan agar Alue Naga menjadi kampung yang mandiri dan sejahtera. KBA sendiri diharapkan merupakan cerminan dari wilayah dengan lingkungan yang bersih, hijau, dan dengan masyarakat yang sehat, cerdas, dan produktif 8. Dengan dibentuknya KBA Alue Naga, pembangunan wilayah tersebut menjadi lebih integral. Karena PT Astra Internasional Tbk percaya, bahwa tonggak kemajuan ekonomi suatu daerah berakar dari pendidikan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan yang baik dari warganya. 

Rumah tiram tetap menjadi kegiatan unggulan yang didorong kemajuannya. Akan tetapi, PT Astra Internasional Tbk juga mendorong program-program lain yang mendukung kemajuan bidang lingkungan, pendidikan, kewirausahaan, dan kesehatan yang mampu memberdayakan warga desa. Program-program tersebut antara lain adalah pengembangan PAUD, penghijauan desa, pelatihan kader lingkungan, sosialisasi perilaku hidup bersih, pengembangan kader posyandu, pembuatan tambak, pembentukan kelompok usaha rakyat, pembentukan koperasi, dan pelatihan aneka olahan tiram serta ikan 9


Follow Up Rumah Tiram Agar Pembangunan Wilayah Menjadi Integral:
Kampung Berseri Astra Alue Naga

Beberapa poin terakhir merupakan upaya yang dapat memfasilitasi impian untuk dapat memaksimalkan potensi budidaya tiram. Tiram sangat mungkin untuk dinikmati masyarakat Indonesia secara luas, tidak hanya oleh golongan ekonomi atas. Sangat baik untuk kesehatan kan, jika tiram dapat dikonsumsi harian dan dinikmati dalam berbagai bentuk? Nilai kecukupan gizi masyarakat bisa dapat dibantu ditingkatkan. Bukan tidak mungkin pula dengan kelompok usaha yang lebih terstruktur dan pelatihan-pelatihan yang diberikan, ekspor tiram dan kesejahteraan nelayan dapat terwujud dalam jangka waktu yang tidak lama.

Lessons Learnt....

Keberadaan Rumah Tiram merupakan suatu bukti “positive mind attracts positive vibes”. Kepedulian dan kerja keras Rusydi dkk mendapat sambutan yang luar biasa. Langkah Rumah Tiram yang awalnya tidak banyak yang mengetahui, dengan dibantu oleh PT Astra Internasional Tbk mulai dikenal dan penerapannya meluas ke beberapa Kampung di Aceh. Kebermanfaatannya pun mampu dirasakan oleh lapisan masyarakat yang lebih luas.

Kepedulian dan kegigihan yang ditunjukkan oleh Rusydi dkk menjadi inspirasi bagi kita untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar kita. Dan bahwa tindakan kecil yang kita lakukan terus menerus dengan niat baik pada akhirnya akan memberi pengaruh positif (kecil maupun besar) dan menarik hal-hal positif pula untuk diri kita.

PT Astra Internasional Tbk juga memberikan suatu inspirasi bahwa perusahaan masa kini seharusnya adalah perusahaan yang memiliki “hati”. Tidak hanya berorientasi pada bisnis dan profit, tetapi juga merangkul elemen-elemen lain yang berhubungan dengan pembangunan bangsa. Sejarah panjang selama 60 tahun PT Astra Internasional Tbk membuktikan bahwa visi berupa kontribusi terhadap bangsa merupakan salah satu hal yang membuat perusahaan ini tetap exist dan dekat di hati masyarakat.

Kini, saat menikmati tiram di meja makan, kita bisa tersenyum membayangkan harapan di wajah-wajah para nelayan tiram. Meski masih harus melalui proses berliku untuk meraih kesejahteraan bagi mereka, tetapi harapan itu telah muncul.

Dan mungkin saya, Anda, atau kita bisa mulai ikut untuk berkontribusi bagi bangsa. Dimulai dari hal didekat kita, dengan apa yang kita bisa.


Daftar Pustaka
1 Zona Kesehatan. (2014). 5 Laut Manfaat Tiram Laut Bagi Kesehatan Tubuh. Diakses melalui http://www.zonakesehatan.info/2014/11/5-manfaat-tiram-laut-bagi-kesehatan.html.

2 Hasyim. (2013). Banda Aceh Kembangkan Budidaya Tiram Laut. Diakses melalui http://aceh.tribunnews.com/2013/09/28/banda-aceh-kembangkan-budidaya-tiram-laut.

3 Pertanianku. (2017). Baru, Aceh Kembangkan Budidaya Tiram di Ban Bekas, Hasilnya Menakjubkan!. Diakses melalui https://www.pertanianku.com/baru-aceh-kembangkan-budidaya-tiram-di-ban-bekas-hasilnya-menakjubkan/.

4 Mardiana, C. F. & Anggriawan, V. (2017). Inovasi Rumah Tiram Mampu Bebaskan Ibu-ibu Nelayan dari Kerusakan Organ Reproduksi. Diakses melalui http://www.jitunews.com/read/55227/inovasi-rumah-tiram-mampu-bebaskan-ibu-ibu-nelayan-dari-kerusakan-organ-reproduksi.

5 Bakrie. (2017). Pelopor Rumah Tiram Tibang Jadi Inspiratif. Diakses melalui http://aceh.tribunnews.com/2017/03/24/pelopor-rumah-tiram-tibang-jadi-inspiratif

6 Astra. (2016). Pelopor Rumoh Tiram Kampung Tibang. Diakses melalui http://satu-indonesia.com/satuindonesiaawards.

7 Astra. CSR. Diakses melalui https://www.astra.co.id/CSR.

8. Astra. (2017). Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Model. Diakses melalui https://www.astra.co.id/Media-Room/Press-Release/Mensos-Khofifah-Kampung-Berseri-Astra-Jadi-Role-Model


9 Aceh Terkini. (2017). Astra Ubah Alue Naga Jadi Kampung Berseri. Diakses melalui http://www.acehterkini.com/2017/09/astra-ubah-alue-naga-jadi-kampung-berseri.html/
Post Comment
Post a Comment