Top Social

Image Slider

Petualangan Berlibur ke Bandung: Tempat Membeli Oleh-oleh

Tuesday, January 30, 2018
Kebiasaan membeli oleh-oleh sendiri, sebenarnya bukan suatu keharusan. Tetapi kita juga ada rasa ingin berbagi dengan kerabat atau tetangga selain berbagi cerita. Begitu juga dengan perjalanan kami ke Bandung ini. Kami sudah merancang kapan dan apa saja yang ingin dibeli sebagai oleh-oleh. Di mana kita membeli oleh-oleh saat di Bandung?

Kawasan Cihampelas

Kebetulan sekali kami menginap di hotel yang berada di kawasan ini. Kawasan Cihampelas merupakan tepat yang tepat untuk membeli oleh-oleh. Di sini terdapat banyak penjual pakaian (termasuk kaos bertemakan Bandung), makanan, dan pernak-pernik. Bagi yang berburu kue artis, terdapat outlet Princess Cake milik Syahrini dan titik penjualan Makuta milik Laudya C. B. (bukan outlet).

Asyik Memilih di Salah Satu Toko di Cihampelas

Masih di Cihampelas
Di sini juga ada tempat yang sekarang menjadi ikon daerah ini yaitu Teras Cihampelas. Dari hasil ngobrol dengan warga setempat, Teras Cihampelas ini merupakan “masterpiece” dari Kang Emil (Ridwan Kamil). Jadi Teras Cihampelas ini semacam skywalk. Bahasa sederhana untuk menggambarkannya: jembatan layang yang dibangun sepanjang Jalan Cihampelas. Di sana lah para pedagang kaki lima (PKL) direlokasi, dengan tujuan mengurangi kemacetan kawasan ini. PKL-PKL tersebut menjajakan makanan, minuman, baju, sandal, dan berbagai macam barang yang bisa dijadikan oleh-oleh.

Foto dari pegipegi.com
Menurut saya ide ini merupakan ide yang briliant. Wisatawan bisa jalan-jalan dan berbelanja tanpa bermacet ria. Bahkan disediakan lift untuk naik-turun. BTW, saya bukan “mempromosikan” Kang Emil secara politik dan saya sendiri tidak tahu sejarah pembangunan dari Teras Cihampelas, tetapi saya mengapresiasi ide yang kemudian justru menjadi ikon baru di Bandung. Kalau bicara politik memang agak sensitif. Walaupun saya akui, saya sendiri juga simpati dengan sosok Kang Emil. Hehe.

Foto dari pegipegi.com
Di Cihampelas juga ada beberapa factory outlet (FO). Kami mengunjungi De Arum Manis dan satu FO lagi di sampingnya. FO-nya termasuk lengkap dan murah. Kami membeli beberapa barang kebutuhan kami di sini.

De Arum Manis
(foto dari sini)
Jalan Riau

Nama tempat ini pasti sudah tersohor di kalangan pecinta fashion. Di sepanjang Jalan Riau ini banyak bertebaran FO. Uniknya, FO disini memiliki konsep-konsep tersendiri yang juga tercermin dari desain bangunan dan interiornya. Jadi mereka tidak hanya sekedar “jualan” saja. Beberapa masih menggunakan bangunan lama peninggalan Belanda, sehingga menambah daya pikatnya. Semua jenis kebutuhan fashion ada di sini, termasuk barang yang kualitas standardnya sulit ditemukan di tempat lain. Misalnya saja coat winter dan musim gugur. Saya akui ada beda harga yang lumayan jika dibandingkan dengan barang-barang yang sudah masuk mall.

The Secret
(foto dari sini)
Kami sendiri hanya sempat masuk di The Secret dan Heritage. The Secret memiliki tempat yang luas dan terbagi-bagi menurut jenis pakaiannya. Di bagian belakang juga ada foodcourt yang dikonsep outdoor. Pagi pecinta fotografi, tempat ini juga menawarkan spot foto yang unik, vintage, dan mempesona.

Pecinta Fotografi

Foto-foto di The Secret
(pose yang absurd)
The Heritage memiliki interior gedung klasik khas bagunan lama peninggalan Belanda. Di sini juga sangat ramai pengunjung. Apalagi yang di bagian sale. Parkirnya cukup luas, tetapi bagi yang ingin foto-foto agak sulit karena banyaknya pengunjung.

The Heritage
(foto dari sini)
Mayasari

Salah satu kue dan penganan favorit keluarga kami adalah Mayasari. Apalagi bolen rasa peyeum-nya dijamin bikin ketagihan. Varian produknya yang lain juga selalu memuaskan lidah. Pak Suami sering membawakan oleh-oleh yang dibeli di Mayasari saat dinas ke Bandung. Kami sudah merencanakan untuk membeli beberapa oleh-oleh di Mayasari cabang Kebon Kawung atau yang dekat sekali dengan pintu stasiun.

Kami sudah membeli satu set bolen mix semua rasa dan kue pandan panggangnya. Sudah penasaran ingin mencoba varian baru tersebut. Plus, ingin juga membagikan ke tetangga-tetangga terdekat karena kami tidak ada oleh-oleh lain selain rasa lelah.

Tapi takdir berkata lain, kotak Mayasari yang kami beli tertinggal di gerbong kereta. Kami lupa membawanya ketika turun di Stasiun Gambir. Kami baru teringat saat sudah di gerbang stasiun. Pak Suami buru-buru kembali untuk mengambil Mayasari, tetapi sudah bukan rejeki kami.

Lesson learnt: tidak perlu terburu-buru turun dari kereta dan pastikan semua barang sudah kita bawa. Lain kali lah jika ada kesempatan dan Dimudahkan rejeki membeli lagi Mayasari.



Petualangan Berlibur ke Bandung: Tempat Makan

Berbicara soal liburan, tentu tidak lepas dengan wisata kuliner. Bisa sih memesan makan di hotel, tetapi jadi kurang seru. Saat berwisata kita tentu juga ingin merasakan makanan-makanan dari daerah yang kita kunjungi. Apalagi jika memang ada makanan khas yang terkenal dari daerah tersebut.

Brebes

Begitu sampai di Lembang, kami langsung merasakan kelaparan. Tadinya kami ingin makan di suatu rumah makan, tetapi saat di tengah jalan ngobrol dengan driver ojek online, beliau sendiri belum pernah makan di tempat tersebut. Beliau lebih merekomendasikan untuk ke rumah makan favorit masyarakat setempat yaitu di Brebes dan Ampera. Loh kok jauh sekali dari Lembang?

Brebes: Ayam Kampung nan Lezat
Tenang...nama yang dimaksud bukan nama lokasi, tetapi nama rumah makan yang menyajikan menu khas berupa ayam goreng atau ayam bakar. Kalau Ampera merupakan cabang dari rumah makan yang sudah terkenal di Jakarta dan kota lainnya. Sedang Brebes merupakan rumah makan yang sudah tersohor di Lembang. Ngobrol dengan pegawainya, memang pemilik rumah makan ini orang Brebes tetapi pegawai-pegawainya penduduk setempat

Menu di Ampera dan Brebes kurang lebih sama. Saat kami icipi, memang rasanya lezat. Ayamnya juga merupakan ayam kampung. Tidak salah kalau rumah makan ini ramai dan banyak direkomendasikan. Rasanya memang maknyus.

23 Foodmarket

Kami tahu tempat ini juga dari rekomendasi driver ojek online. Letaknya berada di belakang Mall 23 Paskal, Bandung. Mall 23 sendiri merupakan mall yang cukup ramai dan memiliki banyak outlet dari produk high end seperti Zara, H&M, UNIQLO, dsb.

23 Food Market 
Bagaimana dengan foodmarket nya sendiri? Memasuki senja tempat ini ramai! Kalau di Jogja yang mirip dengan 23 adalah foodcourt di Jogja Expo Center. Desain dari tempat ini mengusung tema etnik. Sebenarnya makan di foodmarket menurut saya agak gambling ya. Tidak semua makanan bakal enak. Oleh karena itu kami googling dulu menu yang direkomendasikan di sini.

Iga Pak Jangkung: Rasanya Pedas dan Manis Cocok dengan Lidah Orang Jawa
Bagi kami yang penting menunya halal dan rasanya bearable. Akhirnya saya memilih Iga Pak Jangkung dan suami memesan Bebek Garang. Ternyata rasanya....enak! Tidak menyesal memilih menu tersebut.

House of Thousand Lights
Warung Pasta

Menu
Bagi mahasiwa atau anak gaul Jogja, melihat menu tersebut rasanya familiar ya. Betul, mirip dengan Dixie! Mungkin kedua tempat ini satu owner atau merupakan franchise.

Warung Pasta terletak dekat dengan Masjid Salman ITB. Kata Pak Suami: “kita cari makan dekat ITB dan sambil nostalgia dulu yuk, lewat kampus-kampusnya”. Lha emang kampusnya siapa coba? Kita kan bukan almamater ITB. Ya tapi agak make sense kalau benar-benar dipaksakan untuk nyambung, sama-sama kampus *rolling eyes.

Pancake Pesanan Kakak
Waktu itu Pak Suami sholat Jum’at terlebih dahulu, saya dan anak-anak menunggu di Warung Pasta. Menu andalannya sudah pasti pasta. Rasanya T.O.P B.G.T! Enak, tidak mengecewakan, dan maknyus. Saya memesan baked pasta yang kebetulan juga menu andalan di Dixie. Rasanya amboy sama enaknya. Menu pilihan Pak Suami juga mama mia lezatos.

Baked Pasta yang Sudah Saya Aduk-Aduk
Warung Pasta ini sudah pasti merupakan tempat nongkrong mahasiswa, secara letaknya dekat sekali dengan ITB. Interiornya bagus, unik, dan tidak membosankan. Dindingnya tidak “polos” dengan diberi cat saja, tapi diisi dengan tulisan-tulisan yang memotivasi atau informatif. Kita juga bisa memilih makan di indoor atau outdoor

What Pasta Do You Like?
Tempat Nongkrong Mahasiswa


Kami memilih untuk duduk di gedung depan. Setelah gedung depan, ada tempat makan outdoor dan playground. Jadi anak-anak tidak akan bosan jika dibawa oleh orang tuanya untuk makan atau mengerjakan tugas kuliah di sini. Setelah itu masih ada gedung lagi di belakang playgorund ini. Salah satu yang membuat saya salut adalah, tempat ini menyediakan ruang laktasi (menyusui)! Hebat! Sudah sewajarnya memang semua fasilitas umum dilengkapi dengan ruang laktasi.

Playground
Ruang Laktasi
Satu hal yag saya sesali: tidak sempat masuk ke area kampus ITB. Sebenarnya mumpung ke sini. Tapi memang tidak sempat. Entah mengapa rasanya senang saja melihat kampus-kampus dari berbagai universitas. Ada benarnya juga ya kata Pak Suami: nostalgia!


Petualangan Berlibur ke Bandung: Dago Dream Park

Monday, January 29, 2018


Setelah menghabiskan waktu di Lembang, kami kemudian memutuskan untuk singgah di Dago Dream Park. Kami tertarik ke sana setelah mendengar cerita dari tetangga kami (a.k.a Mama Raja) yang sudah berkunjung ke sana.

Kakak: Bunda Ngapain Sih?
Apa itu Dago Dream Park? Bagi yang sudah pernah mengunjungi hutan-hutan pinus seperti Becici di Jogja, sebenarnya Dago Dream Park tidak jauh beda. Kawasan tersebut adalah area hutan pinus yang teduh dan menawarkan udara dingin. Tetapi, Dago Dream Park tidak hanya “sekedar” hutan pinus. Tempat ini dilengkapi dengan beberapa wahana.

Berbukit-bukit Tsayyyy

Tak Hanya Hutan Pinus Semata
Saat memasuki area Dago Dream Park kita bisa memilih untuk turun ke lembah yang lebih di bawah atau naik ke bukitnya terlebih dahulu. Kebetulan kami memilih untuk turun terlebih dahulu. Untuk menuju area bawah ini bisa kita tempuh dengan berjalan kaki. Wahana yang ditawarkan antara lain adalah flying fox, sky gliding, berperahu, kora-kora, naik kuda, ATV, dan rumah terbalik.  

Dekat Penjualan Tiket Masuk: Bisa Memilih Turun ke Lembah atau Naik Bukit Terlebih Dulu
Sayangnya untuk fying fox dan sky gliding menurut kami terlalu ekstrim medannya untuk anak kecil. Lebih cocok untuk orang dewasa yang memang mencari tantangan atau anak yang sudah berusia lebih dari sepuluh tahun. Kemungkinan ada persyaratan tinggi juga sih. Kami tidak terlalu banyak bertanya karena Kakak sudah fokus minta untuk naik kuda.

Anak-anak Banyak yang Ingin Naik Kuda
Jadi di area bawah ini otomatis kami hanya berjalan-jalan menikmati pemandangan dan memenuhi permintaan Kakak untuk naik kuda. Biaya naik kuda dihitung Rp 30.000,00/orang, waktu itu kami datang di hari Jumat. Mungkin tarifnya akan berbeda saat akhir pekan.
Mau Sombong Dikit Kalau Bisa Naik Kuda Sambil Bawa Anak
(tapi dipegangi pawang yang sabar banget dengan ibu-ibu satu ini)
Baby Al Tadinya Nangis Jadi "Anteng" Setelah Kuda Jalan
(pawangnya masih tersembunyi kan?)



Memenuhi Janji untuk Naik Kuda
Oh ya, ada cerita menarik sebelum kami sampai di Dago Dream Park. Driver ojek online yang kami booking belum tahu bahwa Dago Dream Park sudah beroperasi setiap hari. Sampai awal tahun 2017 memang Dago Dream Park hanya buka hari Sabtu dan Minggu. Jadi tidak perlu khawatir lagi jika ingin berkunjung ke sana di hari kerja.

Untuk naik lagi ke tempat masuk, kita bisa naik semacam shuttle bus yang disediakan untuk mengangkut penumpang. Tiketnya seharga Rp 5.000,00 untuk dua orang. Untuk menunggu bus ini, disediakan “halte” khusus. Ingat untuk menutup pintunya ya setelah kita turun. Karena saya mendapati penumpang-penumpang lain pergi begitu saja setelah sampai. Padahal bus ini tidak dilengkapi dengan “kernet”. Kasihan kan dengan driver-nya jika harus turun-naik kendaraan untuk menutup pintu. Berempati dengan Mas Driver, saya tutup lah pintu-pintu bus tersebut. Tapi tetap nggak dapat diskon tiket kok. Hehe...

Menunggu Bus
Di area yang lebih atas ini ada tempat sewa sepeda untuk anak-anak dan rumah hewan ternak. Anak-anak bisa memberi makan hewan-hewan ternak tersebut. Karena Kakak sudah memberi makan dan berjumpa dengan beberapa hewan ternak di FloatingMarket dan Farm House, kami skip wahana ini.

Selanjutnya kami ke the ultimate place yang sudah diidam-idamkan Pak Suami, yaitu selfie ekstrim. Lokasi selfie ekstrim ini dekat sekali dengan gerbang masuk sebenarnya. Tapi memang kami sengaja menjadikannya kegiatan pamungkas sebelum pulang dari Dago Dream Park.

Ada dua lokasi selfie ekstrim dan memiliki loket untuk membeli tiket yang berbeda. Harga tiket antara RP 25.000,00 – Rp 30.000,00/orang. Di lokasi yang paling atas ada rumah balon seperti di film Up!, kursi santai, dan dinning set. Di dinning set ini konsepnya adalah seolah-olah kita sedang makan di kafe di atas langit.

Untuk lokasi selanjutnya (yang lebih di bawah) dan inilah yang kami coba, yaitu permadani terbang dan sepeda terbang. Pak Suami awalnya meminta kami berempat untuk selfie di permadani terbang. Gilee...saya tolak lah. Permadaninya tidak terlalu luas dan saya khawatir dengan reaksi Baby Al yang baru satu tahun. Kalau dia tidak nyaman dan meronta-ronta bisa bahaya. Bawahnya langsung jurang! Jika foto berdua saja juga tidak memungkinkan. Anak-anak dititip siapa coba? Akhirnya kami bergiliran, saya naik permadani terbang dan Pak Suami naik sepeda terbang.

BTS: Deg-degan Tsayy

BTS: Sebenarnya Ingin Ala-ala Princess Jasmine

Hasilnya?

Hasil Jepretan Profesional
Masih failed sih untuk saya. Karena saya masih parno dan horor. Permadaninya tidak ada pegangannya sama sekali dan karena saya ini takut ketinggian, ya sudah tidak total lah dalam berekspresi. Wah saya merasa gagal! Jika bertemu tantangan seperti ini lagi saya ingin lebih all out dalam berpose.

Ultimate Goal: Ikut Bahagia Ya Pak Suami Akhirnya Bisa Selfie Ekstrim
Foto-foto di selfie ekstrim diambil oleh fotografer ya, bukan dari kamera kita sendiri. Jadi hasilnya memang sudah pasti bagus. Foto bisa ditransfer langsung ke HP dan bisa diedit. Biaya edit (menghilangkan tali) seharga Rp 5.000,00/foto. Tetapi untuk hasil foto yang diedit tidak bisa langsung jadi. Malamnya baru dikirim ke WA atau e-mail kita.

Menurut anak-anak mungkin yang paling seru di Dago Dream Park adalah naik kuda. Bagi saya dan suami tentu saja selfie ekstrim ini. Overall menyenangkan pengalaman yang kami lalui di Dago Dream Park. Satu tips dari saya, jika membawa anak-anak benar-benar gandeng tangan mereka dan awasi. Karena medan di Dago Dream Park ini benar-benar ekstrim. Penyuka tantangan wajib lah ke tempat ini.

Petualangan Berlibur ke Bandung: Begonia, Floating Market, dan Farm House Lembang

Friday, January 26, 2018



Sebelumnya kami menceritakan tentang persiapan perjalanan di sini.

Selama di Bandung kami menyinggahi beberapa tempat wisata yang seru dan menyenangkan. Poin plus Bandung bagi saya salah satunya adalah lokasi antar tempat wisata yang masih berdekatan. Kalau tidak macet hehe. Bahkan ketika saya bandingkan dengan Jogja. Dari Bandung ke Lembang mungkin memakan waktu tidak lebih dari 45 menit saja. Jadi kita hendak berpetualang dari satu tempat ke tempat lain pun lebih leluasa.

Apa saja tempat yang kami kunjungi? 

Hari pertama kami fokus untuk berkeliling di Lembang. Berikut tempat-tempat di Lembang yang kami datangi:

Kebun Bunga Begonia

Seperti namanya, tempat ini berkonsep sebagai taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarna-warni. Indah! Bagi yang senang sekali menjadi model foto seperti saya, insting untuk segera mengambil gambar langsung muncul begitu sampai di gerbang taman Begonia. Ada keterangan untuk tiap nama bunga mengenai nama Latinnya. Pecinta flora tak hanya bisa menikmati keindahannya, tetapi juga bisa menambah pengetahuan tentang nama dan jenis bunga.


Keindahan Bunga dan Pemandangan Sekelilingnya

Rosalinda Ay Amor
Disediakan Topi untuk Melindungi dari Panas

Kalau anak-anak kami sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pemandangan bunga. Mereka lebih tertarik dengan ayunan, replika kendaraan, dan patung karakter hewan. Menikmati pemandangan seperti ini mungkin memang lebih sesuai untuk orang dewasa dan anak yang lebih besar.

Miniatur Bangunan, Hewan, dan Kendaraan

Lovely Sight

Di sini juga bisa memetik strawberry. Anak-anak mungkin lebih tertarik dengan kegiatan ini. Tetapi karena kami memiliki beberapa target tempat yang harus dikunjungi dalam satu hari, kami memutuskan untuk segera pindah. Dengan harapan bisa menemukan tempat lain untuk Kakak memetik strawberry, tetapi sayag sekali di tempat-tempat berikutnya yang kami belum menemukan aktivitas serupa.

Floating Market

Dia Sudah Bete Diajak Selfie

Tempat ini sudah sangat tersohor di kalangan wisatawan Indonesia. So far tempat ini lah yang paling menyenangkan untuk anak-anak. Kita bisa menikmati jajanan di perahu-perahu apung yang tersedia di sini. Selain itu kita bisa juga menyewa kostum Jepang dan Korea kemudian berfoto di perahu yang bernuansa Jepang dan Korea. Sayangnya kita hanya boleh masuk jika menyewa kostumnya terlebih dahulu. Kami memutuskan untuk skip acara kostum-kostuman ini karena anak-anak juga belum memahami juga kesenangan di balik memakai kostum. Padahal ya emak-nya yang sebenarnya ingin sekali mencoba memakai kimono dan hanbok. K-Drama fans alert.

Japan Vibe

Tempat Sewa Kostum

Perahu Replika Rumah Jepang, Tiongkok, dan Korea

Kita bisa menyewa stroller dan sepeda juga di sini. Harga sewa mulai dari Rp 30.000,00. Tetapi saat Baby Al coba didudukkan di stroller malah dese malah menangis. Oalah nduk... ibumu ini ingin bebas selfie saat kau tidur pulas. Memang Baby Al tidak terbiasa memakai stroller. Dia lebih senang digendong seperti koala.

Perahu-perahu Apung Tempat Menjual Makanan



Untuk membeli makanan dan mencoba wahana di perahu apung, kita harus menukarkan koin dan membeli tiket terlebih dahulu. Wahana yang pertama kali kami coba adalah naik perahu atas dasar request Kakak. Ada beberapa pilihan perahu yaitu kano, kayuh, dan mesin. Untuk perahu kano dan kayuh tarif dihargai per perahu. Sedangkan untuk mesin per orang dan minimal 5 orang. Pak Suami sudah langsung menolak naik kano dan kayuh karena siapa lagi yang akan mengeluarkan tenaga, peluh, serta keringat untuk menjalankan perahu? Bunda? Oh tentu saja bukan. Akhirnya kami naik perahu mesin karena dihitung-hitung juga beti sih kami bayar berempat dan atau sekalian menanggung lima orang.


Dari Awal Sampai Keinginannya Satu: Naik Perahu

Dari wilayah perahu apung ini, kita akan naik lagi. Ada Rainbow Garden dan Taman Fauna. Kami putuskan untuk ke Taman Fauna saja karena Rainbow Garden ini mirip dengan Begonia, berupa taman bunga. Bedanya di Rainbow Garden bunga-bunga ditata menyerupai pelangi, ada rumah kaca, dan ada selfie dekat bukit. Anak-anak pasti lebih suka juga bertemu fauna-fauna.



Tidak hanya anak-anak ternyata yang senang di Taman Fauna ini. Saya dan suami excited juga karena bisa berfoto dengan hewan-hewan ganas. Tentunya di bawah pengawasan pelatih hewannya. Hewan ganas yang sudah dilatih dan bisa kita ajak berfoto bersama antara lain burung hantu (saya baru tahu kalau burung hantu makan daging! Dulu saya kira makannya buah. LOL), bayi buaya, bayi komodo, dan ular. Tapi pada akhirnya kami hanya foto dengan burung hantu saja. Dengan yang lain masih hororrrr!

Karnivora: Pemakan Daging
Mengalahkan Diri Sendiri: Berfoto Bersama Hewan "Ganas"


Bisa Dibelai dan Dicium, Asal ada Pelatih Hewannya

MasyaAlloh itu Komedo dan Jerawat
Kakak lalu ingin memberi makan kelinci, jadi kami langsung ke Rumah Kelinci. Kakak khusyuk sekali dalam memberi makan kelinci ini. Dielus-elusnya kelinci sambil memberi mereka wortel. Sampai tidak mau diajak ke tempat berikutnya.

Memberi Makan Kelinci

Naik lagi, kita akan menemukan Kota Mini. Di sini disajikan berbagai miniatur rumah yang didalamnya anak-anak bisa role play beberapa profesi yaitu chef, perawat bayi, petugas salon, dan penyanyi. Ada juga rumah science tempat membuat kreasi dan kostum ala farmer Amerika. Ketika ditanya Kakak ingin jadi chef dan memilih rumah science.

Visi dari Kota Mini
Bagi anak-anak yang tidak kalah seru adalah playground diujung dari Kota Mini ini. Mereka bisa bermain sepuasnya di sana tidak dibatasi waktu. Harap membawa kaos kaki jika ingin bermain di sini. Karena anak dan satu orang tua yang masuk wajib memakai kaos kaki. Disediakan sih di tempat pembelian tiket, tetapi biar hemat kita bisa membawa sendiri dari rumah.

Didalam Kota Mini
Memasak

Menjadi Chef

Rumah Science Membuat Slime
Di dekat Kota Mini, juga ada kolam renang air hangat! Jika ingin berenang dengan air hangat kita bisa sekalian berenang di sini. Kolam renang ini khusus untuk yang berhijab dan disediakan pula baju renang untuk disewakan.

Trampolin di Playground

Bermain Sepuasnya Tetapi Wajib Memakai KAos KAki

Farm House

Rumah Hobbit
Tempat ini juga sudah tersohor seantero negeri. Buktinya adalah tempatnya penuh sesak oleh pengunjung. Asyiknya memang datang ke Farm House saat tidak bertepatan dengan musim liburan. Agar bisa lebih santai menikmati suasananya.

Magnet dari tempat ini adalah bangunan dan nuansa yang khusus dibuat seperti di Eropa. Selain itu kita juga disuguhi dengan Hobbit Town. Jadi kita tidak perlu jauh-jauh pergi New Zealand, sebagai tempat syuting Lord of The Ring. Cukup ke Farm House saja kita sudah bisa menemukan rumah-rumah Hobbit. Sayangnya kami sudah kehabisan energi untuk mengelilingi satu demi satu rumah Hobbit.

Sumur Harapan

Bangunan-bangunan Bergaya Eropa
Disewakan juga kostum-kostum ala Noni Belanda (?). Not sure kostum tersebut khas belanda atau umum di Eropa. Karena Farm House sendiri “wahana” nya campuran beberapa ciri khas dari Belanda, Inggris, dan Irlandia. Itu saja yang saya kenali. Mungkin ada juga khas negara Eropa lain yang saya tidak menyadarinya. Oke, habis ini keliling Eropa agar tahu! Ya kaliiiii....

Suasana Seperti Jalanan Eropa


Biasanya Orang-orang Berfoto Di Sini dengan Kostum
Untuk anak di bawah usia lima tahun mungkin belum semua mengetahui keasyikan sendiri menjumpai nuansa Eropa dan rumah Hobbit. Tetapi jangan khawatir, anak-anak tetap bisa menemukan kegiatan yang menarik untuk mereka. Diantaranya adalah memberi makan domba, kelinci, dan hamster. Anak-anak juga bisa memberi susu kepada anak sapi.

Dirumah Pak Wo sih Setiap Hari Bisa Ngasih Susu Kambing

Memberi Makan Domba

Setiap Domba Diberi Nama


Yang menarik di sini adalah, kita bisa berpapasan dengan domba-domba yang berlarian di jalan-jalan Farm House. Bagi yang tidak familiar dengan binatang tersebut jangan kaget. Tetapi anak-anak justru girang loh! Apalagi mereka bisa mengelus bulu domba yang tebak dan empuk.

Berbagai macam oleh-oleh berupa makanan bisa kita beli di sini. Seperti selai homemade, roti, kue kering, dan kentang goreng yang sepertinya semua distandardkan dengan resep aslinya. Kenapa saya menduga seperti itu? Dari semerbak aroma adonan dan saat makanan-makanan tersebut di masak. Hehe.




Dan tentu saja tak ketinggalan susu murni dari Farm House. Yang namanya susu murni memang beda rasanya. Lebih terasa kelezatannya. Tetapi jangan berikan susu murni untuk anak di bawah dua tahun, karena tidak semua bakteri dimatikan saat pengolahan susu murni. Yang mana bakteri-bakteri itu belum mampu “diterima” anak di bawah dua tahun.

Tempat Lain
Masih ada tempat-tempat lain yang ada di Lembang tapi tidak kami kunjungi. Alasannya? Capek. Hehe. Dan kami pikir pengalaman yang ditawarkan sudah kami dapati di tempat-tempat sebelumnya. Misalnya saja The Ranch, Jendela Alam, kemudian naik lagi ada The Lodge Maribaya, dan Punclut.

Di The Ranch konsepnya mirip dengan Farm House tetapi suasana yang ditawarkan lebih ke ala cowboy Amerika dan ada beberapa perbedaan wahana. Di Jendela Alam katanya anak-anak bisa memetik wortel dan memberi makan hewan ternak. Sedangkan The Lodge Maribaya dan Punclut menawarkan pesona alam pegunungan. Ya secara saya dan Pak Suami asli dari desa yang tidak asing dengan pegunungan jadi kami prioritaskan ke pengalaman yang belum pernah kami jumpai saja. Di tambah anak-anak kami belum pada usia yang sudah bisa mengangumi keindahan alam seperti itu.


Next time lagi ya Lembang! Semoga kami jalan-jalan ke sana lagi dan mengeksplore tempat-tempat yang belum kami kunjungi.

Selanjutnya kami pergi ke sini.