Top Social

Petualangan Berlibur ke Bandung: Tempat Makan

Tuesday, January 30, 2018
Berbicara soal liburan, tentu tidak lepas dengan wisata kuliner. Bisa sih memesan makan di hotel, tetapi jadi kurang seru. Saat berwisata kita tentu juga ingin merasakan makanan-makanan dari daerah yang kita kunjungi. Apalagi jika memang ada makanan khas yang terkenal dari daerah tersebut.

Brebes

Begitu sampai di Lembang, kami langsung merasakan kelaparan. Tadinya kami ingin makan di suatu rumah makan, tetapi saat di tengah jalan ngobrol dengan driver ojek online, beliau sendiri belum pernah makan di tempat tersebut. Beliau lebih merekomendasikan untuk ke rumah makan favorit masyarakat setempat yaitu di Brebes dan Ampera. Loh kok jauh sekali dari Lembang?

Brebes: Ayam Kampung nan Lezat
Tenang...nama yang dimaksud bukan nama lokasi, tetapi nama rumah makan yang menyajikan menu khas berupa ayam goreng atau ayam bakar. Kalau Ampera merupakan cabang dari rumah makan yang sudah terkenal di Jakarta dan kota lainnya. Sedang Brebes merupakan rumah makan yang sudah tersohor di Lembang. Ngobrol dengan pegawainya, memang pemilik rumah makan ini orang Brebes tetapi pegawai-pegawainya penduduk setempat

Menu di Ampera dan Brebes kurang lebih sama. Saat kami icipi, memang rasanya lezat. Ayamnya juga merupakan ayam kampung. Tidak salah kalau rumah makan ini ramai dan banyak direkomendasikan. Rasanya memang maknyus.

23 Foodmarket

Kami tahu tempat ini juga dari rekomendasi driver ojek online. Letaknya berada di belakang Mall 23 Paskal, Bandung. Mall 23 sendiri merupakan mall yang cukup ramai dan memiliki banyak outlet dari produk high end seperti Zara, H&M, UNIQLO, dsb.

23 Food Market 
Bagaimana dengan foodmarket nya sendiri? Memasuki senja tempat ini ramai! Kalau di Jogja yang mirip dengan 23 adalah foodcourt di Jogja Expo Center. Desain dari tempat ini mengusung tema etnik. Sebenarnya makan di foodmarket menurut saya agak gambling ya. Tidak semua makanan bakal enak. Oleh karena itu kami googling dulu menu yang direkomendasikan di sini.

Iga Pak Jangkung: Rasanya Pedas dan Manis Cocok dengan Lidah Orang Jawa
Bagi kami yang penting menunya halal dan rasanya bearable. Akhirnya saya memilih Iga Pak Jangkung dan suami memesan Bebek Garang. Ternyata rasanya....enak! Tidak menyesal memilih menu tersebut.

House of Thousand Lights
Warung Pasta

Menu
Bagi mahasiwa atau anak gaul Jogja, melihat menu tersebut rasanya familiar ya. Betul, mirip dengan Dixie! Mungkin kedua tempat ini satu owner atau merupakan franchise.

Warung Pasta terletak dekat dengan Masjid Salman ITB. Kata Pak Suami: “kita cari makan dekat ITB dan sambil nostalgia dulu yuk, lewat kampus-kampusnya”. Lha emang kampusnya siapa coba? Kita kan bukan almamater ITB. Ya tapi agak make sense kalau benar-benar dipaksakan untuk nyambung, sama-sama kampus *rolling eyes.

Pancake Pesanan Kakak
Waktu itu Pak Suami sholat Jum’at terlebih dahulu, saya dan anak-anak menunggu di Warung Pasta. Menu andalannya sudah pasti pasta. Rasanya T.O.P B.G.T! Enak, tidak mengecewakan, dan maknyus. Saya memesan baked pasta yang kebetulan juga menu andalan di Dixie. Rasanya amboy sama enaknya. Menu pilihan Pak Suami juga mama mia lezatos.

Baked Pasta yang Sudah Saya Aduk-Aduk
Warung Pasta ini sudah pasti merupakan tempat nongkrong mahasiswa, secara letaknya dekat sekali dengan ITB. Interiornya bagus, unik, dan tidak membosankan. Dindingnya tidak “polos” dengan diberi cat saja, tapi diisi dengan tulisan-tulisan yang memotivasi atau informatif. Kita juga bisa memilih makan di indoor atau outdoor

What Pasta Do You Like?
Tempat Nongkrong Mahasiswa


Kami memilih untuk duduk di gedung depan. Setelah gedung depan, ada tempat makan outdoor dan playground. Jadi anak-anak tidak akan bosan jika dibawa oleh orang tuanya untuk makan atau mengerjakan tugas kuliah di sini. Setelah itu masih ada gedung lagi di belakang playgorund ini. Salah satu yang membuat saya salut adalah, tempat ini menyediakan ruang laktasi (menyusui)! Hebat! Sudah sewajarnya memang semua fasilitas umum dilengkapi dengan ruang laktasi.

Playground
Ruang Laktasi
Satu hal yag saya sesali: tidak sempat masuk ke area kampus ITB. Sebenarnya mumpung ke sini. Tapi memang tidak sempat. Entah mengapa rasanya senang saja melihat kampus-kampus dari berbagai universitas. Ada benarnya juga ya kata Pak Suami: nostalgia!


Post Comment
Post a Comment