Top Social

Petualangan Berlibur ke Bandung: Tempat Membeli Oleh-oleh

Tuesday, January 30, 2018
Kebiasaan membeli oleh-oleh sendiri, sebenarnya bukan suatu keharusan. Tetapi kita juga ada rasa ingin berbagi dengan kerabat atau tetangga selain berbagi cerita. Begitu juga dengan perjalanan kami ke Bandung ini. Kami sudah merancang kapan dan apa saja yang ingin dibeli sebagai oleh-oleh. Di mana kita membeli oleh-oleh saat di Bandung?

Kawasan Cihampelas

Kebetulan sekali kami menginap di hotel yang berada di kawasan ini. Kawasan Cihampelas merupakan tepat yang tepat untuk membeli oleh-oleh. Di sini terdapat banyak penjual pakaian (termasuk kaos bertemakan Bandung), makanan, dan pernak-pernik. Bagi yang berburu kue artis, terdapat outlet Princess Cake milik Syahrini dan titik penjualan Makuta milik Laudya C. B. (bukan outlet).

Asyik Memilih di Salah Satu Toko di Cihampelas

Masih di Cihampelas
Di sini juga ada tempat yang sekarang menjadi ikon daerah ini yaitu Teras Cihampelas. Dari hasil ngobrol dengan warga setempat, Teras Cihampelas ini merupakan “masterpiece” dari Kang Emil (Ridwan Kamil). Jadi Teras Cihampelas ini semacam skywalk. Bahasa sederhana untuk menggambarkannya: jembatan layang yang dibangun sepanjang Jalan Cihampelas. Di sana lah para pedagang kaki lima (PKL) direlokasi, dengan tujuan mengurangi kemacetan kawasan ini. PKL-PKL tersebut menjajakan makanan, minuman, baju, sandal, dan berbagai macam barang yang bisa dijadikan oleh-oleh.

Foto dari pegipegi.com
Menurut saya ide ini merupakan ide yang briliant. Wisatawan bisa jalan-jalan dan berbelanja tanpa bermacet ria. Bahkan disediakan lift untuk naik-turun. BTW, saya bukan “mempromosikan” Kang Emil secara politik dan saya sendiri tidak tahu sejarah pembangunan dari Teras Cihampelas, tetapi saya mengapresiasi ide yang kemudian justru menjadi ikon baru di Bandung. Kalau bicara politik memang agak sensitif. Walaupun saya akui, saya sendiri juga simpati dengan sosok Kang Emil. Hehe.

Foto dari pegipegi.com
Di Cihampelas juga ada beberapa factory outlet (FO). Kami mengunjungi De Arum Manis dan satu FO lagi di sampingnya. FO-nya termasuk lengkap dan murah. Kami membeli beberapa barang kebutuhan kami di sini.

De Arum Manis
(foto dari sini)
Jalan Riau

Nama tempat ini pasti sudah tersohor di kalangan pecinta fashion. Di sepanjang Jalan Riau ini banyak bertebaran FO. Uniknya, FO disini memiliki konsep-konsep tersendiri yang juga tercermin dari desain bangunan dan interiornya. Jadi mereka tidak hanya sekedar “jualan” saja. Beberapa masih menggunakan bangunan lama peninggalan Belanda, sehingga menambah daya pikatnya. Semua jenis kebutuhan fashion ada di sini, termasuk barang yang kualitas standardnya sulit ditemukan di tempat lain. Misalnya saja coat winter dan musim gugur. Saya akui ada beda harga yang lumayan jika dibandingkan dengan barang-barang yang sudah masuk mall.

The Secret
(foto dari sini)
Kami sendiri hanya sempat masuk di The Secret dan Heritage. The Secret memiliki tempat yang luas dan terbagi-bagi menurut jenis pakaiannya. Di bagian belakang juga ada foodcourt yang dikonsep outdoor. Pagi pecinta fotografi, tempat ini juga menawarkan spot foto yang unik, vintage, dan mempesona.

Pecinta Fotografi

Foto-foto di The Secret
(pose yang absurd)
The Heritage memiliki interior gedung klasik khas bagunan lama peninggalan Belanda. Di sini juga sangat ramai pengunjung. Apalagi yang di bagian sale. Parkirnya cukup luas, tetapi bagi yang ingin foto-foto agak sulit karena banyaknya pengunjung.

The Heritage
(foto dari sini)
Mayasari

Salah satu kue dan penganan favorit keluarga kami adalah Mayasari. Apalagi bolen rasa peyeum-nya dijamin bikin ketagihan. Varian produknya yang lain juga selalu memuaskan lidah. Pak Suami sering membawakan oleh-oleh yang dibeli di Mayasari saat dinas ke Bandung. Kami sudah merencanakan untuk membeli beberapa oleh-oleh di Mayasari cabang Kebon Kawung atau yang dekat sekali dengan pintu stasiun.

Kami sudah membeli satu set bolen mix semua rasa dan kue pandan panggangnya. Sudah penasaran ingin mencoba varian baru tersebut. Plus, ingin juga membagikan ke tetangga-tetangga terdekat karena kami tidak ada oleh-oleh lain selain rasa lelah.

Tapi takdir berkata lain, kotak Mayasari yang kami beli tertinggal di gerbong kereta. Kami lupa membawanya ketika turun di Stasiun Gambir. Kami baru teringat saat sudah di gerbang stasiun. Pak Suami buru-buru kembali untuk mengambil Mayasari, tetapi sudah bukan rejeki kami.

Lesson learnt: tidak perlu terburu-buru turun dari kereta dan pastikan semua barang sudah kita bawa. Lain kali lah jika ada kesempatan dan Dimudahkan rejeki membeli lagi Mayasari.



Post Comment
Post a Comment